nusabali

Dituding Telantarkan Pasien, RSU Negara Pastikan Telah Bertindak Sesuai SOP

  • www.nusabali.com-dituding-telantarkan-pasien-rsu-negara-pastikan-telah-bertindak-sesuai-sop

Keluarga pasien, I Made Sueca, 54, dari Desa Tegal Badeng Timur, Kecamatan Negara, Jembrana, mencak-mencak di UGD RSU Negara, Senin (2/9) malam.

NEGARA, NusaBali

Pemicunya, yang bersangkutan kecewa terhadap pelayanan RSU Negara, yang dituding menelantarkan menantunya, Ni Komang Suriani, yang tengah hamil dengan bayi yang divonis meninggal dunia di dalam kandungan. Namun pihak RSU Negara membantah tudingan tersebut, dan memastikan telah bertindak sesuai standar operasional prosedur (SOP).

Berdasar informasi, kekecewaan Sueca terhadap pelayanan RS plat merah itu bermula saat menantunya yang tengah hamil 6 bulan, mendapat rujukan dari dokter spesialis kandungan di kota Negara, agar melakukan pemeriksaan kandungannya ke Poliklinik RSU Negara, Senin (2/9). Pemeriksaan ke Poliklinik RSU Negara itu karena diduga bayi yang dikandung menantunya telah meninggal dunia, dan perlu dipastikan kembali di RS.

Atas dasar rujukan tersebut, Sueca datang ke RSU Negara, Senin (2/9) pagi sekitar pukul 09.00 Wita. Saat itu, petugas medis di RS memastikan bayi yang dikandung menantunya telah meninggal dunia. Namun saat pagi itu, pihak keluarga diminta melengkapi proses administrasi BPJS Kesehatan yang hendak digunakannya, karena diketahui masih ada tunggakan iuran BPJS Kesehatan.

Nah, setelah mengurus administrasi BPJS Kesehatan, Sueca kembali datang ke RSU Negara, Senin sore saat poliklinik telah tutup, sehingga diminta datang kembali pada Selasa (3/9). Namun pada Senin malam, Sueca yang mengetahui menantunya mengeluhkan sakit pada perutnya, kembali membawa menantunya ke UGD RSU Negara, dengan maksud meminta dilakukan tindakan.

Namun saat meminta tindakan, petugas RSU Negara tetap meminta agar kembali datang pada Selasa (3/9). Saat itu lah Sueca yang merasa sangat kecewa lantaran tidak segera mendapat tindakan untuk menantunya, langsung mencak-mencak dengan menuding pihak RSU telah mengabaikan keselamatan pasien, dan akhirnya terpaksa pergi.

Sementara Kabid Pelayanan Medik RSU Negara dr I Gede Ambara Putra, yang memberikan keterangan didampingi sejumlah bidan serta salah satu dokter spesialis kandungan di RSU Negara, Selasa kemarin, menyatakan yang dilakukan petugas medis di UGD telah sesuai SOP. Yang terjadi hanya kekhawatiran berlebih dari keluarga pasien. Di mana pasien yang bersangkutan bukan merupakan pasien kedaruratan, sehingga tidak segera ditangani.

Menurutnya, sebelum melakukan tindakan untuk mengeluarkan bayi yang telah meninggal dunia di dalam kandung itu memang sesuai SOP harus melalui pemeriksaan di poliklinik. Saat datang ke RS pada Senin pagi untuk periksa di poliklinik, pasien ingin menggunakan BPJS Kesehatan, sedangkan pasien yang bersangkutan tercatat masih ada tunggakan iuran sehingga diarahkan mengurus administrasinya. Dan saat datang kembali sore harinya, poliklinik sudah tutup sehingga si pasien yang dipastikan masih dalam kondisi normal dan tidak ada tanda-tanda kedaruratan, diminta menunggu keesokan harinya.

“Yang jelas pemeriksaan sudah berjalan sesuai SOP. Tetapi ada kekhawatiran berlebih dari keluarga pasien. Begitu juga waktu datang kembali ke UGD malamnya, pasien dalam kondisi normal, sehingga tetap diarahkan agar pasien datang saat poliklinik sudah dibuka kembali besoknya, Selasa ini (kemarin). Intinya, yang ditemukan petugas kami, memang tidak harus mendapatkan penanganan segera, karena memang tidak gawat darurat,” ujar dr Ambara Putra.

Menurutnya, berdasar data yang diterimanya, setelah merasa kecewa di RSU Negara, pasien yang bersangkutan diketahui sempat mendatangi salah satu RS swasta. Dari pemeriksaan di RS swasta tersebut, juga telah diberikan penjelasan, jika pasien yang bersangkutan tidak dalam kondisi darurat, dan diminta agar melakukan pemeriksaan di Poliklinik RSU Negara. “Sebelumnya, pasien ini juga sudah ke salah satu dokter spesialis kandungan. Dokter spesialis kandungannya itu juga sudah menjelaskan tidak gawat, dan dirujuk agar diperiksakan ke poliklinik, bukan ke UGD,” ungkapnya. *ode

loading...

Komentar