nusabali

Musyawarah Agung I MAKN Digelar di Bali

  • www.nusabali.com-musyawarah-agung-i-makn-digelar-di-bali

Musyawarah Agung I Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) digelar di Hotel Ibis Style Denpasar, 5 - 7 Agustus 2019.

DENPASAR, NusaBali
Pasca Pilpres 2019 yang sempat menuai perpecahan menjadi dua kubu, kondisi ini harus segera kembali disatukan. Salah satu kunci mempersatukan masyarakat kembali adalah lewat kebudayaan. Karena itu, Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) yang terus menjaga, merawat dan melestarikan warisan nilai-nilai budaya adiluhung Indonesia, juga ingin ikut memberikan andil dalam pembangunan nasional di era baru kepemimpinan presiden terpilih, Joko Widodo. Ada tiga hal dasar yang disampaikan.

“Kami meyakini, melalui tiga peran yaitu Budaya, Pariwisata dan Potensi Ekonomi, dilakukan melalui mapping atau pemetaan potensi kekuatan kerajaan atau keraton se-Nusantara. Indonesia dengan keberadan kerajaan atau keraton akan mampu mewujudkan Indonesia yang mandiri,” ungkap Kanjeng Pangeran (KP) Eddy Wirabhumi, dari Keraton Kasunanan Surakarta, di sela acara Musyawarah Agung I MAKN, di Hotel Ibis Style Denpasar, Selasa (6/8).

Dalam peran potensi ekonomi misalnya, dari seluruh kerajaan dan keraton di Indonesia memiliki potensi-potensi berkualitas yang di masa depan akan menjadi idola dunia. Di sisi lain, satu keunggulan yang dimiliki Indonesia, menurut KP Eddy, adalah kerajaan dan keraton se-Nusantara yang memiliki teknologi adiluhung para raja sejak kedigjayaannya di masa lalu yang tidak dimiliki bangsa lain. Sementara untuk menghadapi era milenial, perlu dilakukan kegiatan yang mendekatkan dengan teknologi digital, start up (potensi ekonomi bisnis yang dijalankan dan dikembangkan kaum muda) tanpa mengabaikan kearifan lokal.

Lebih lanjut, dalam pembangunan pariwisata, KP Eddy menegaskan pentingnya pengembangan literasi berwawasan budaya, revitalisasi peran kota dan sejarahnya, nilai budaya dan tradisi, kearifan lokal, serta pembangunan sumber daya manusia dan kesejahteraan. Kemudian, pelestarian sejarah dan budaya agar tetap dipertahankan sebagai budaya Indonesia sesuai pesan Presiden Jokowi, bahwa kebudayaan itu penting dan menjadi jati diri bangsa. Dalam hal ini, keraton se-Indonesia menjadi salah satu indentitas bangsa Indonesia yang harus dipertahankan.

“Perlu adanya revitalisasi kerajaan dan keraton dengan dua target revitalisasi fisik dan non fisik. Revitalissai fisik berupa bagunan keraton dan benda cagar budaya. Sementara non fisik berupa kesenian, adat tradisi dan kearifan lokal budaya setempat,” imbuhnya.

Sementara itu, Dra R Ay Yani WSS Kuswododjojo, Penganggeng Kasunanan Sumenep menjelaskan, Musyawarah Agung I Majelis Adat Kerajaan Nusantara (MAKN) diikuti oleh seluruh Raja, Pangeran, Putri dari seluruh Kerajaan dan Keraton se-Nusantara selama 5 - 7 Agustus 2019. Wanita yang bisa disapa Bunda Yani ini menjelaskan MAKN akan merumuskan lima syarat utama untuk menghindari potensi kemunculan raja atau ratu yang mengaku-aku tanpa ada jejak dan sejarah kerajaannya.


Kelima syarat ini yakni memiliki istana atau keraton atau puri, lalu ada raja yang ditabalkan atau dinobatkan, ada dan memiliki sisillah turun temurun, punya lambang pusaka atau ada situs kerajaan atau keratonnya dan kelima ada masyarakat adatnya. Menurutnya, lima syarat penting tadi akan menjadi dasar kuat sebuah kerajaan atau keraton yang mendukung Persatuan Kesatuan dan Kesatuan NKRI semakin kokoh.

“Kami mengajak milenial untuk peduli pada budaya bangsa khususnya pada kerajaan dan keraton Indonesia. Saat ini sudah mulai berkembang melalui bidang digital, entrepreneur atau kewirausahaan yang semuanya merekatkan kepedulian pelestarian dan pengembangan budaya Indonesia yang berkaitan dengan Kerajaan atau Keraton se-Nusantara,” katanya.

Sementara itu, Raja Denpasar IX, Ida Tjokorda Jambe Pemecutan SH mengatakan, masa depan Indonesia adalah kebudayaan. Masalh teknologi, menurutnya itu adalah penunjang. “Jangan melupakan kebudayaan kita. Masa depan Indonesia adalah kebudayaan, tidak ada yang lain. Masalah kemajuan teknologi, itu hanya pendukung,” ucapnya.

Tokorda Pemecutan menambahkan, keraton atau kerajaan merupakan akar budaya yang memiliki aset penting di dalamnya seperti tentang tradisi, pakaian, kuliner, hikayat cerita dan sejarah seribu raja, jalur rempah yang semua ini bisa digaungkan dengan kondisi kekinian atau zaman sekarang yang melibatkan kalangan millenial atau anak muda yang dekat dengan bidang teknologi digital. “Nantinya program atau kegiatan ini akan menggunakan teknologi digital seperti YouTube, media sosial dan hal-hal atau kebiasaan yang dilakukan anak zaman sekarang,” imbuhnya.


Paduka Yang Mulia Achmad Syah dari Kerajaan Jailolo Halmahera Barat, Maluku Utara berharap pertemuan ini bisa memperkokoh lagi keberaton keraton atau kerajaan yang ada di Nusantara. Dengan wadah baru, MAKN ini kerajan seantero negeri Indonesia bisa lebih memiliki makna lagi dalam menjaga kebudayaan warisan Indonesia. “Kita membentuk MAKN ini untuk memperkokoh identitas keraton dan kerajaan yang merupakan warisan budaya di Indonesia. Ke depannya kami bisa lebih konkret lagi kolaborasi dengan pemerintah,” tandasnya.ind

loading...

Komentar