nusabali

Adu Ayam Tanpa Taruhan, Berlangsung 35 Hari

  • www.nusabali.com-adu-ayam-tanpa-taruhan-berlangsung-35-hari

Tradisi Aci Keburan di Pura Hyang Api, Desa Adat Kelusa

GIANYAR, NusaBali

Tradisi Aci Keburan kembali digelar serangkaian pujawali di Pura Hyang Api, Desa Adat Kelusa, Kecamatan Payangan, Gianyar yang puncaknya jatuh pas Hari Raya Kuningan pada Saniscara Kliwon Kuningan, Sabtu (3/8). Tradisi Aci Keburan ini berupa ritual adu ayam bertaji selama 35 hari. Berbeda dengan tajen (judi sabung ayam), dalam Aci Keburan ini tidak ada uang taruhan.

Tradisi ritual Aci Keburan di Pura Hyang Api, Desa Adat Kelusa akan berlangsung selama 35 hari sejak Tumpek Kuningan hingga Tumpek Krulut pada Saniscara Kliwon Krulut, Sabtu, 7 September 2019 mendatang. Perlu dicatat, setelah Hari Raya Kuningan, tradisi Aci Keburan digelar 5 hari berturut-turut. Selanjutnya, Aci Keburan digelar 5 hari sekali pada setiap Kliwon.

Menurut Pamangku Pura Hang Api, Jro Mangku Ida Bagus Suragatana, ritual Aci Keburan bentuknya memang identik dengan tajen. Ayam yang diadu sama-sama bersenjatakan taji. Namun, ritual ini sama sekali tidak menggunakan taruhan berupa uang. Tradisi Aci Keburan ini sebagai simbolisasi rasa syukur, karena hewan peliharaan sudah berkembang biak dengan subur.

“Ini sebagai simbolisasi karena peliharaan krama sudah hidup subur, dari peternak babi, ayam, hingga bebek. Ketika kena penyakit, krama juga biasanya nunas tirta di sini (Pura Hyang Api) untuk dipercikkan ke hewan peliharaannya yang sakit,” ungkap Jro Mangku IB Suragatana kepada NusaBali, Senin (5/8).

Disebutkan, Aci Keburan bukanlah tajen, karena tidak ada taruhan. Tak ada istilah kalah menang untuk ayam yang diadu dalam tradisi Aci Keburan di Pura Hyang Api, Desa Adat Kelusa. Krama rela mempersembahkan ayamnya sebagai bentuk ngayah dan maturan.

“Sesuai cerita yang kami warisi dari leluhur, tradisi Aci Keburan ini sudah berlangsung sejak tahun 1.338. Tidak ada disebut sebagai tajen, karena ini ada rentetannya dengan pelaksanaan yadnya di Pura Hyang Api ini. Seandainya tidak dilakukan, takutnya terjadi kabrebeh (hambatan),” katanya.

Karena keyakinan itu, tradisi Aci Keburan dilaksanakan rutin 6 bulan sekali (210 hari sistem penanggalan Bali) saat karya pujawali di Pura Hyang Api, yang puncaknya jatuh pada Saniscara Kliwon Kuningan. Pelaksanaan Aci Keburan dilakukan pagi hari, mulai pukul 07.30 Wita hingga 10.00 Wita. Dan, ini berlangsung selama 42 hari.

Secara etimologi, Aci Keburan bermakna sebagai persembahan keburan. Kata kebur dalam bahasa Bali merupakan perubahan bunyi dari kata keber yang artinya terbang. Berdasarkan sejarah yang diwarisi secara turun temurun, tradisi Aci Keburan di Pura Hyang Api diperkirakan bermula dari aktivitas para penggembala sapi.

Biasanya, saat istirahat menggembala, mereka duduk berteduh di wantilan areal Pura Hyang Api. Sebagai selingan, dipetiklah daun jarak untuk dimainkan. Ada pula penambahan duri tanaman salak, sehingga permainan adu daun jarak ini menjadi seru. Seiring berjalannya waktu, daun jarak berganti menjadi ayam jantan yang dipakaikan senjata taji.

Bendesa Adat Kelusa, I Nyoman Suarka, mengatakan Aci Keburan ini diyakini sebagai upacara yang memberi anugerah keselamatan pada wewalungan atau berbagai jenis hewan. "Mereka yang datang mengikuti Aci Keburan sebagian besar adalah mereka yang naur sesangi (membayar kaul, Red)," jelas Nyoman Suarka, beberapa waktu lalu.

Jadi, mereka yang mengikuti Aci Keburan adalah sebagian besar krama yang pernah masesangi (berkaul) di Pura Hyang Api dan sesanginya dikabulkan Ida Batara Sesuhunan. Dalam sehari, bisa 80-100 pamedek yang tangkil ke Pura Hyang Api untuk mengadu ayam mereka, tanpa taruhan. Tak ada istilah kalah menang ketika laga berakhir. "Ayam yang kalah istilahnya dihaturkan, sementara ayam yang menang istilahnya nunas," papar Suarka.

Setelah melaksanakan Aci Keburan, pamedek yang ‘nunas’ akan berdoa mengucap syukur. Sedangkan pamedek yang ‘ngaturang’ tetap merasa gembira, karena sudah naur sesangi dengan ikut tradisi Aci Keburan. “Jadi, mereka sama-sama gembira,  bersukacita, tidak ada kalah menang. Mereka percaya, Ida Batara Agnijaya yang berstana di Pura Hyang Api menganugerahkan keselamatan kepada manusia, hewan, dan tumbuh-tumbuhan," katanya. *nvi

loading...

Komentar