nusabali

Satu Korban Tewas, Sekdes Dirawat Inap

  • www.nusabali.com-satu-korban-tewas-sekdes-dirawat-inap

Keracunan Massal di Mendoyo Dauh Tukad

NEGARA, NusaBali
Puluhan warga Desa Mendoyo Dauh Tukad, Kecamatan Mendoyo, Jembrana diduga keracunan nasi bungkus saat Pekan Olahraga Kecamatan (Porcam) Mendoyo di Lapangan Pergung, Desa Pergung, 14-16 Juli 2019. Termasuk di antara korban keracunan adalah Sekretaris Desa (Sekdes) Mendoyo Dauh Tukad, Gusti Ayu Komang Biantari, 46. Dari puluhan korban keracunan, salah satunya meninggal dunia, yakni Ni Putu Suardini Asih, 35.

Korban tewas Ni Putu Suardini Asih menghembuskan napas terakhir di rumahnya kawasan Banjar Ngoneng, Desa Mendoyo Dauh Tukad, Kamis (18/7) malam pukul 21.00 Wita. Perempuan berusia 35 tahun ini memang tidak sempat mendapatkan perawatan medis, karena menolak dibawa ke rumah sakit pasca mengalami gejala keracunan.

Informasi di lapangan, puluhan warga Desa Mendoyo Dauh Tuykad yang diduga keracunan massal ini sebelumnya sempat menyantap hidangan berupa nasi campur selama Porcam Mendoyo. Mereka mengalami gejala yang sama: pusing, sakit perut, diare, mual, dan muntah.

Mereka mulai mengeluhkan gejala keracunan sejak Selasa (16/7) malam. Namun, hingga Rabu (17/7), hanya beberapa korban yang diantar kelu-arganya ke Puskesmas I Mendoyo. Para korban baru ramai-ramai memeriksan diri ke Puskesmas, Jumat (19/7), setelah mendapat informasi soal meninggalnya Ni Putu Suardini Asih. Apalagi, pihak Desa Mendoyo Dauh Tukad juga menginstruksikan kepada para kelian banjar untuk terus menyisir korban dan memastikan mereka semua dibawa ke Puskesmas.

Data terakhir hingga Jumat sore, ada 31 korban keracunan yang dibawa ke rumah sakit dan Puskesmas. Rinciannya, 24 orang dibawa ke Puskesmas I Mendoyo, 5 orang dibawa ke RSUD) Negara, 1 orang dibawa ke Bali Med Negara, dan 1 orang dibawa ke RS Bunda Negara. Para korban keracunan tersebut didominasi warga yang ikut berlaga mewakili Desa Mendoyo Dauh Tukad di Porcam, selain juga sejumlah perangkat Desa Mendoyo Dauh Tukad.

Dari total 31 korban keracunan yang dilarukan ke rumah sakit dan Puskesmas tersebut, 13 orang di antaranya masih dirawat inap hingga tadi malam. Rinciannya, 9 koban dirawat inap di Puskesmas I Mendoyo, 1 korban rawat inap di RSUD Negara, 1 orang rawat inap di RS Bali Med Negara, dan 1 korban rawat inal di RS Bunda Negara.

“Mereka semua mengalami gejala serupa, seperti nyeri perut, mual, muntah, dan diare. Namun, tidak telalu serius. Memang ada beberapa karena lemas, sehingga tetap harus rawat inap,” ujar seorang petugas medis di Puskesmas I Mendoyo, Jumat kemarin.

Satu-satunya korban yang masih menjalani rawat inap di RSUD Negara adalah Sekdes Mendoyo Dauh Tukad, Gusti Ayu Komang Biantari. Sekdes Mendoyo Dauh Tukad ini baru dilarikan ke RSUD Negara bersama 4 korban lainnya, Jumat siang, setelah dirujuk dari Puskesmas I Mendoyo. Namun, setelah diberikan penanganan, 4 korban lainnya itu sudah langsung dibolehkan pulang dari RSUD Negara, Jumat sore.

“Tadi kami berlima dibawa ke sini (RSUD Negara). Kami dijemput satu mobil. Saya sendiri sebenarnya sudah mual-mual sejak Rabu malam, tapi memang belum sempat periksa,” ungkap Sekdes Gusti Ayu Komang Biantari saat ditemui NusaBali di RSUD Negara, kemarin sore.

Menurut Biantari, hampir semua warga yang sempat santap nasi campur saat Porcam Mendoyo mengeluhkan gejala keracunan. Nasi campur yang mereka santap berisi lauk ayam sisit, tempe, tahu, saur, kacang, telor, dan sambal. Nasi campur itu dibeli pihak Desa Mendoyo Dauh Tukad di salah warung di desanya yang selama ini sudah jadi langganan.

“Tumben terjadi kasus begini. Saya tidak tahu, apa memang nasi campurnya atau ada yang lain (beracun, Red). Tapi, waktu Porcam itu hanya ada konsumsi nasi campur sama air kemasan,” kenang Biantari.

Sementara itu, Perbekel Mendoyo Dauh Tukad, I Gusti Putu Edi Ediana, mengatakan warganya yang mengalami gejala keracunan adalah mereka yang sempat berpartisipasi dalam kegiatan Porcam Mendoyo. Perbekel Edi Ediana sendiri ikut santap nasi campur yang dibeli di warung yang sudah jadi langganan pihaka desa. Edi Ediana pun sempat mengalami diare, tapi tidak sampai berobat ke Puskesmas atau RS, karena merasa tidak parah.

Edi Ediana menyebutkan, sebagai langkah antisipasi, pihaknya sudah instruksikan para kelian banjar untuk memantau warganya yang kemungkinan mengalami gejala keracunan. Mereka harus dipastikan dibawa ke Puskesmas. Menurut Edi Ediana, salah satu warganya, Ni Putu Suardini Asih, ditekui meninggal di rumahnya, Kamis malam, atau dua hari pasca penutupan Porcam.

Namun, kata Edi Ediana, pihaknya tidak berani memastikan apakah ini meninggal akibat gejala keracunan atau apa. “Dari Dinas Kesehatan Jembrana dan kepolisian sudah turun menyelidiki kasus ini,” katanya.

Korban tewas Putu Suardini Asih sebelumnya ikut berlaga di Porcam Mendoyo. Perempuan berusia 35 tahun itu memperkuat Tim Futsal Wanita Desa Mendoyo Dauh Tukad. Korban tiba-tiba mengeluh sakit perut, Rabu sore pukul 17.00 Wita atau sehari setelah penutupan Porcam. Malamnya, pemain andalan Tim Futsal Wanita Desa Mendoyo Dauh Tukad hingga tampil sebagai jawara Porcam ini juga sempat mun-tah-muntah.

“Pas bilang sakit perut Rabu sore, kondisinya sudah agak lemas. Terus sekitar pukul 20.00 Wita kakak sempat muntah dan tidak mau makan sama sekali,” ungkap adik korban, Ni Ketut Ayu Artini, 19, saat ditemui NusaBali di rumah duka kawasan Banjar Ngoneng, Desa Mendoyo Dauh Tukad, Jumat kemarin.

Ayu Artini mengisahkan, keesokan harinya, Kamis, sang kakak tidak mau makan sama sekali dan semakin lemas. Sempat direncanakan diajak berobat ke Puskesmas atau dokter, namun korban Putu Suardini Asih yang merupakan anak sulung dari 6 bersaudara justru menolak. Malamnya sekitar pukul 21.00 Wita, korban meregang nyawa.

Ayu Artini mengaku tidak tahu pasti apa penyebab kematian kakak sulungnya ini. Namun, selama ini korban Suardini Asih yang belum menikah hingga usia 35 tahun, tidak ada riwayat penyakit kronis. Meski demikian, pihak keluarga menolak dilakukan otopsi jenazah korban. “Kami sudah ikhlaskan semua kejadiannya sebagai musibah,” tutur Ayu Artini.

Jenazah korban Suardini Asih yang merupakan anak sulung pasangan I Wayan Santer, 56, dan NI Wayan Kasti, 54, rencananya akan diabenkan di Setra Desa Adat Mendoyo Dauh Tukad pada Soma Pon Dunggulan, Senin (22/7) lusa. Sedangkan ritual nyiramang layon akan digelar di rumah duka pada Radite Paing Dunggulan, Minggu (21/7) besok. *ode

Komentar