nusabali

Sekaa Berbusana Monyer Hingga Bau Mangsit

  • www.nusabali.com-sekaa-berbusana-monyer-hingga-bau-mangsit

Yang memprihatinkan justru perilaku masyarakat, masih saja ada yang buang air kecil atau kencing sembarangan. Di pojok Kalangan Angsoka, misalnya.

Pelaksanaan PKB Ke-41 Menyisakan Catatan


DENPASAR, NusaBali
Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-41 tahun 2019 di Taman Werdhi Budaya, Art Centre, Denpasar, ditutup, Sabtu (13/7) malam. Hajatan seni terbesar di Bali tersebut memang menjadi kebanggaan masyarakat Bali. Tentu selalu ada catatan atau evaluasi di balik kesuksesan ajang PKB. Catatan ini baik kecil maupun besar penting agar festival seni ini makin baik di tahun-tahun mendatang.

Ketua Tim Pengawas Independen PKB I Ketut Sumarta memberikan sejumlah catatan terhadap penyelenggaraan PKB tahun ini. Menurutnya, secara keseluruhan PKB ke-41 sudah ada perubahan yang signifikan, terutama terkait dengan core function (fungsi utama) PKB yang meliputi konsep, mutu, maupun manajemen. Namun di sisi lain, pihaknya mengkritisi kostum sekaa-sekaa tabuh justru terkesan lebih ‘monyer’ dengan aksesoris payasan yang berlebihan.

“Pengutamaan kembali pelaku seni seperti sekaa-sekaa sebunan cukup bagus. Begitu juga dengan penampilan kesenian yang menggunakan pakem lama, seperti drama gong pakem 1970-an, itu terasa menarik. Namun di sisi lain, kostum sekaa-sekaa tabuh justru terkesan lebih monyer dengan aksesoris payasan berlebihan,” ujarnya saat diwawancara NusaBali, Sabtu (6/7).

Sumarta melanjutkan, dari sisi tema PKB sudah ada upaya untuk mengimplementasikannya lebih riil ke dalam parade, pagelaran, dan workshop. Hanya saja belum tampak eksplorasi pemaknaan yang mendalam terhadap tema substansial ‘Bayu Pramana’ dari para seniman ke dalam garapan-garapan seni. Ada kemungkinan karena keterbatasan waktu untuk melakukan perenungan dan pendalaman sehingga penjelajahan kreatif dalam bentuk inovasi-inovasi garapan seni masih belum begitu menonjol. “Untuk itu sebaiknya tema-tema PKB yang sudah dirancang untuk lima tahun ke depan agar diumumkan dan disosialisasikan lebih awal, sehingga seniman punya waktu lebih untuk mengeksplorasi dan menuangkannya ke dalam garapan seni masing-masing,” ungkapnya.

Selain itu, ada beberapa catatan lagi yang memerlukan peningkatan kualitas. Seperti peningkatan supporting function (fungsi-fungsi pendukung), antara lain tata lampu, clip on, AC di tempat pameran yang ada kalanya bocor, serta lampu ruangan padam. Begitu juga persoalan klasik keterbatasan parkir. Keluhan parkir yang masih dirasakan mahal daripada biasanya yakni parkir motor Rp 5.000, dan parkir mobil Rp 10.000 – Rp 15.000.

Sementara itu, pengimplementasian Pergub tentang pembatasan timbulan sampah plastik juga dirasa belum optimal. Akibat transaksi terutama di bagian kuliner yang cukup tinggi, ramai, dan tak terhindarkan, volume sampah pun meningkat. Keterlambatan pengangkutan, membuat sampah ada kalanya tampak meluber dari bak penampungannya, terutama pd saat pengunjung padat. Kondisi ini diperparah dengan perilaku masyarakat yang masih saja membuang sampah sembarangan.

“Perilaku membuang sampah sembarangan usai makan di areal PKB masih saja ada. Yang memprihatinkan justru perilaku masyarakat, masih saja ada yang buang air kecil atau kencing sembarangan. Di pojok Kalangan Angsoka, misalnya, bau pesing menyengat. Begitu juga di pojok belakang panggung Ardha Candra,” imbuh Sumarta.

Menurutnya, kekurangtegasan dan inkonsistensi ini mungkin juga dikarenakan keterbatasan personel dan petugas, yang mengakibatkan masih saja terlihat ada pedagang suwun keliling. Ironisnya, para pedagang keliling, termasuk pedagang gantal justru masih saja menggunakan tas plastik yang sudah dilarang dengan Pergub Bali.

Terlepas dari berbagai catatan yang dikumpulkan dari tim pengawas independen, PKB tetap memiliki posisi penting dan strategis sebagai media pelestarian, penerusan (transmisi) dan regenerasi kultural. PKB tetap menjadi pusat ‘medan magnet’ yang menyedot perhatian banyak masyarakat.

Tim pengawas juga mengakui, yang mendapatkan respon serta apresiasi tinggi adalah kebijakan Gubernur Bali yang menggratiskan stand pameran dan kuliner. Ini diakui oleh para pelaku usaha UMKM karena sangat bermanfaat dan meringankan. “Sehingga harga-harga dalam PKB ke-41 kali ini dirasakan wajar oleh para konsumen. Tidak mahal. Harga yang lebih wajar itu menjadikan pengunjung lebih banyak berbelanja di pameran maupun di kuliner,” tandas Sumarta. *ind

loading...

Komentar