nusabali

Orangtua Kecewa, KPPAD Berjuang

  • www.nusabali.com-orangtua-kecewa-kppad-berjuang

‘’Kami belum mendeteksi siswa yang dimaksud. Kebetulan juga saya ndak pegang juknis’’. (Panitia PPDB).

PPDB SMPN I Sukawati Abaikan Anak Lumpuh

GIANYAR, NusaBali
Anak disabilitas karena kelumpuhan, I Kadek Agus Dharmayoga alias Jack,13, asal Banjar Bedil, Desa/Kecamatan Sukawati, Gianyar, gagal masuk SMPN 1 Sukawati. Akibatnya, orangtuanya, I Made Warja sangat kecewa usai melihat pengumuman hasil seleksi PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) di  SMPN ini, Senin (7/7).

Dia merasakan pihak sekolah abai dengan siswa baru disabilitas seperti anaknya. Warja mengaku, awalnya yakin anaknya bisa lolos berbekal surat keterangan lumpuh dari Puskesmas Sukawati. Namun apa daya, sistem PPDB kali ini kurang mengakomodir kondisi siswa berkebutuhan khusus. Pihak keluarga berharap masih ada peluang.

Ditemui di depan rumahnya di Banjar Bedil, Desa Sukawati, Selasa (9/7), Warja mengungkapkan keluh kesahnya. Padahal, jika berdasarkan zonasi, jarak antara rumahnya dengan sekolah, sekitar 500 meter. Yang membuatnya tidak lolos adalah perangkingan Nilai UN. "Minimal yang lolos 271. Anak saya nilainya 248," ungkapnya.

Dijelaskan, saat pendaftaran mencari sekolah dilakukan secara kolektif di sekolah asalnya yakni SDN 4 Sukawati. "Yang daftarkan itu gurunya di SD. Saya hanya diminta melengkapi berkas dengan surat keterangan lumpuh dari Puskesmas. Sudah saya cari dan lampirkan. Tapi ternyata tidak menjadi pertimbangan, jujur saya kecewa berat. Seolah ada diskriminasi," ungkap Made Warja. Besar keinginannya agar anaknya sekolah di SMPN 1 Sukawati agar dekat dengan rumah. Di samping itu, supaya lebih ringan dalam hal pembiayaan. "Kalau SMP swasta di sini jaraknya cukup jauh. Belum lagi biayanya di swasta sudah pasti lebih mahal," ujar tukang pahat kayu ini. Mengenai kondisi anak keduanya ini, mengalami kelumpuhan sejak lahir. Namun baru diketahui ketika usia 6 bulan. Jack yang menguasai enam gending Rindik ini pun tercatat sebagai salah satu penerima bantuan kursi roda adaptif dari Puspadi Bali Tahun 2014 silam. Diakui,  semangat belajar Kadek Agus sangat tinggi. Selain pintar merindik, Kadek Agus juga semangat belajar mengayuh
sepeda. Meskipun yang dipakai adalah sepeda roda tiga yang dimodifikasi.

Kadek Agus lahir 12 Desember 2006, baru lulus dari SDN 4 Sukawati. Pelajaran dari gurunya bisa diserap dengan mudah, dan Kadek Agus juga sesekali mengikuti sanggar tabuh di banjarnya.

Dikonfirmasi via telepon, Ketua Panitia PPDB (Penerimaan Peserta Didik Baru) SMPN 1 Sukawati yang juga Wakil Kepala Sekolah I Nyoman Wirama,  mengaku belum mendeteksi calon siswa tersebut. "Terkait hal itu, kami belum mendeteksi siswa yang dimaksud. Kebetulan juga saya ndak pegang juknis.  Nanti setelah saya baca detail juknisnya dan klarifikasi data siswa tersebut, besok kami akan konfirmasi jawabannya," jelasnya.

Diakui pula, pasca pengumuman hasil seleksi ini cukup banyak orangtua siswa yang mengeluh. Terutama dari calon siswa yang punya prestasi namun tak lolos, hingga ada punya nilai di atas ambang batas juga tidak lolos. Maka itu, pihaknya membuka ruang pengaduan pada Rabu (10/7). "Yang tercecer bisa datang hari Rabu ke sekolah," ujarnya.

Sementara itu, Komisi Penyelenggara Perlindungan Anak Daerah Provinsi Bali, Ir Kadek Ariyasa merasa terpanggil ketika mengetahui anak lumpuh, Jack. Menurut Ariyasa, lulusan SDN 4 Sukawati yang akrab disapa Jack ini layak diperjuangkan agar bisa sekolah inklusi. Artinya, dia agar berbaur dengan pelajar normal lainnya di sekolah formal.

Dia pun menemui Kelian Dinas Banjar Bedil dan Perbekel Sukawati, hingga ke SMPN 1 Sukawati. "Saya sudah sampaikan juga ke Disdik Gianyar tentang kondisi anak ini. Terlepas dari Juknis PPDB yang tidak menyuratkan tentang sekolah inklusi, anak ini wajib diakomodir sesuai UU Perlindungan Anak. Apalagi, Pemprov Bali di zamannya Gubernur Bali Made Mangku Pastika, menggaungkan sekolah inklusi," jelasnya.

Dari hasil pengamatannya terhadap anak lumpuh ini, dinilai layak dipertimbangkan masuk SMPN 1 Sukawati. "Karena sudah terbukti dia bisa lulus SD, artinya bisa mengikuti pelajaran. Jadi layak dipertimbangkan. Setelah saya koordinasi, tyang yakin anak ini bisa diterima," ungkapnya.*nvi

loading...

Komentar