nusabali

Ratusan Duktang Masuk Denpasar

  • www.nusabali.com-ratusan-duktang-masuk-denpasar

Selain menjaring penduduk pendatang yang tak membawa identitas, petugas juga menemukan duktang yang membawa senjata tajam (sajam).

DENPASAR,NusaBali

Pasca libur Lebaran, sebanyak 800-an penduduk pendatang (duktang) tercatat masuk ke Bali melalui jalur laut dan turun di Pelabuhan Benoa, Denpasar, Jumat (7/6) sekitar pukul 14.30 Wita. Mereka yang datang ke Denpasar sebagian besar berasal dari Nusa Tenggara Timur (NTT) yang akan bekerja di Pulau Dewata. Kedatangan mereka diperiksa langsung tim gabungan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) Kota Denpasar, Satpol PP, Kepolisian dan TNI.

Dari pemeriksaan tersebut, terjaring sebanyak 54 orang tidak memiliki e-KTP asli alias non e-KTP. Namun mereka dilepaskan setelah ada penjaminan dari kerabatnya yang ada di Bali, sementara 5 orang diserahkan ke Satpol PP lantaran tidak mengantongi identitas, sehingga keseluruhnya berjumlah 59 orang.

Selain mengamankan duktang tanpa identitas petugas juga menemukan duktang yang membawa senjata tajam (sajam) berupa 3 belati, 1 parang Sumba, dan 1 parang Alor yang diamankan oleh petugas dari Polsek Benoa. Selain itu juga ada dua ekor ayam yang dibawa oleh penumpang dan langsung dikarantina oleh pihak pelabuhan.

Kadisdukcapil Kota Denpasar, I Dewa Gde Juli Artabrata, didampingi Kabid Pendataan Penduduk Disdukcapil Kota Denpasar, Ni Luh Lely Sriadi mengatakan, pendataan penduduk pendatang saat ini dilakukan sebagai antisipasi penduduk ilegal atau tanpa identitas masuk ke Denpasar. Selain itu juga untuk  mengetahui jumlah pendududuk Kota Denpasar sebelum dan pasca mudik Lebaran Tahun 2019.

“Total 59 orang yang didata ini mereka tidak mengantongi e-KTP, tetapi ada yang membawa KTP Non Elektronik, Kartu Keluarga, dan bahkan ada yang membawa SIM atau STNK saja, jadi 59 orang ini tetap kita data kembali sebagai upaya tertib administrasi. Sidak juga akan dilaksanakan hingga tingkat desa dan kelurahan sebagai upaya pemetaan jumlah penduduk,” jelasnya.  

Dikatakan, untuk mengantisipasi duktang yang lolos pendataan, pihaknya akan bekerjasama dengan masing-masing kepala lingkungan, kelian adat, hingga kepala desa untuk mendata kembali perkembangan duktang di Denpasar.

Sementara Kasatpol PP Kota Denpasar, I Dewa Gede Anom Sayoga saat dikonfirmasi terpisah mengatakan, untuk mereka yang diserahkan ke Satpol PP, sebelum dilakukan pemulangan kembali, diupayakan mencari penjamin. “Bagi penduduk yang tidak membawa e-KTP harus menghubungi saudaranya agar tujuan mereka jelas di Kota Denpasar. Jika tidak ada sanak saudara sebagai penjamin, maka Satpol PP akan melaksanakan ditindak lanjut dengan Sidang Tipiring bahkan sampai dipulangkan kembali,” ungkapnya.

Salah satu duktang asal Alor NTT, Yakop Kathi, 32, diketahui datang ke Bali dengan membawa parang Alor. Parang yang disita pihak kepolisian alasannya akan dipakai untuk bekerja di proyek saudaranya. Yakop mengaku, parang tersebut dibawa karena alat untuk memotong kayu di Denpasar tidak sesuai dengan keinginan pekerja dari NTT. Pangkal parang dikatakan lebih besar daripada yang di Bali. "Saya ke Bali mau kerja benerin rumah keluarga saya. Paling awal Agustus 2019 ini sudah balik. Saya bawa parang cuma untuk bekerja, bukan untuk membuat rusuh. Saya tahu kemarin rusuh tapi bukan dari wilayah Alor itu orang-orangnya. Sekarang parang saya disita," katanya.

Sementara itu, Kapolsek Kawasan Laut Benoa, Kompol Ni Made Sukerti mengatakan pemilik dari  senjata tajam tersebut sementara ditahan untuk dimintai keterangan. Pemeriksaan ketat ini ungkap Kompol Sukerti untuk memastikan setiap penumpang yang datang ke Bali memiliki tujuan yang jelas.

“Pada keberangkatan sebelumnya kami berhasil menyita 5 bilah sajam berupa parang. Pemilik sajam saat diinterogasi pengakuannya aneh-aneh. Ada yang bilang untuk jaga diri dan ada yang bilang untuk oleh-oleh. Selama tiga bulan terakhir kami sudah menyita kurang lebih 30 sajam berupa parang, celurit, dan pisau,” ungkapnya. *mis, po

loading...

Komentar