nusabali

Lagi, Anjing Rabies Gigit Tiga Warga di Tuwed

  • www.nusabali.com-lagi-anjing-rabies-gigit-tiga-warga-di-tuwed

Anjing rabies kembali ditemukan di wilayah Kabupaten Jembrana.

NEGARA, NusaBali

Anjing peliharaan salah seorang warga di Banjar Puseh, Desa Tuwed, Kecamatan Melaya, yang dipastikan positif rabies pada Sabtu (25/5), itu diketahui sempat menggigit tiga warga banjar setempat pada Minggu (19/5) dan Senin (20/5).

Kepala Dinas Kesehatan Jembrana dr Putu Suasta, mengatakan terungkapnya kasus gigitan anjing rabies itu bermula dari gigitan yang dialami Ni Nyoman Dendi, 73, Minggu (19/5). Kemudian pada Senin (20/5), anjing yang begitu agresif tanpa diprovokasi itu kembali menggigit seorang bocah, Dewa Made Santika, 12.  Merasa aneh dengan gelagat anjing tersebut, kedua korban melapor ke Puskesmas I Melaya. Dengan riwayat kejadian gigitan tersebut, petugas yang curiga anjing bersangkutan terjangkit rabies, langsung memberikan vaksin antirabies (VAR) kepada kedua korban, Senin (20/5), dan meminta sang pemilik anjing untuk mengikat anjingnya.

Menurut dr Suasta, pada Jumat (24/5), pemilik anjing melapor ke puskesmas jika anjingnya telah mati. Kematian anjing itu kemudian diinformasikan oleh petugas puskesmas ke petugas Bidang Kesehatan Hewan (Keswan) di Kecamatan Melaya, yang juga langsung mengambil sampel otak anjing tersebut untuk diuji lab ke Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar. “Besoknya, Sabtu (25/5) sekitar pukul 14.00 Wita, diterima hasil lab dari BBVet Denpasar, dan ternyata benar positif rabies,” ujarnya.

Begitu mengetahui anjing positif rabies, pada Sabtu sore itu juga jajaran Dinas Kesehatan Jembrana melakukan penyelidikan epidemiologi, dan didapatkan informasi jika anjing tersebut juga sempat menggigit seorang warga setempat, Desak Ketut Aryani, 48, pada Senin (20/5). Namun korban yang tergigit di bagian jari tangannya itu tidak ada inisiatif datang ke puskesmas, sehingga dilakukan jembut bola untuk diberikan VAR pada Sabtu sore tersebut.

“Semua korban sudah mendapat VAR setelah kami turun ke lapangan. Salah satu korban yang tidak datang ke puskesmas, mengaku tidak memeriksakan dirinya karena merasa hanya luka lecet. Padahal, yang berbahaya bukan lukanya, tetapi virus rabiesnya. Setelah diberikan penjelasan, akhirnya yang bersangkutan datang ke puskesmas,” ungkapnya.

Adanya kebiasaan menyepelekan gigitan anjing maupun hewan penular rabies (HPR) itu diharapkan menjadi perhatian warga. Apabila mengalami gigitan HPR, warga wajib melapor atau datang ke pukesmas atau rumah sakit. Sebelum melapor, juga perlu dilakukan penanganan awal untuk mencuci luka menggunakan sabun pada air yang mengalir selama 15 menit. “Intinya, jangan sepelekan parah atau tidak lukanya. Wajib lapor kalau digigit anjing,” tegasnya.

Menurutnya, luka rabies ini hampir sama seperti luka tertusuk paku ataupun lidi yang bisa menyebabkan tetanus. Dimana ketika tertusuk, lukanya tampak kecil. Padahal, luka yang dalam dan tertutup, justru membuat kuman tetanus dapat hidup dan berkembang. “Yang membahayakan nyawa, adalah kuman tetanusnya, bukan lukanya. Kami harap, masyarakat lebih sadar, dan tidak ada lagi korban rabies pada manusia,” jelasnya.

Sebelumnya, kasus gigitan anjing rabies juga terjadi di Banjar Anyar, Desa Tegal Badeng Barat, Kecamatan Negara, Jembrana. Anjing yang telah dipastikan rabies pada Sabtu (18/5) lalu, itu diketahui sempat menggigit lima warga di seputaran Kecamatan Negara. Salah satu dari lima korban tersebut, yang diketahui adalah seorang perempuan mengaku dari Banyubiru, dan tergigit pada Jumat (17/5) lalu, belum ditemukan sehingga belum mendapat VAR.

“Korban dari Banyubiru yang tergigit anjing rabies di Tegal Badeng Barat, itu masih terus kami cari. Kami khawatir, pikiran ibunya (Mrs X dari Banyubiru) itu, sama dengan korban yang tergigit di Tuwed. Mudah-mudahan segera ada yang menemukan ibu itu,” ungkap dr Suasta, yang telah melakukan berbagai cara untuk mencari korban. *ode

Komentar