nusabali

FGD Jalur Geowisata, Langkah Awal Pengembangan Batur Global Geopark

  • www.nusabali.com-fgd-jalur-geowisata-langkah-awal-pengembangan-batur-global-geopark

Focus Group Discussion (FGD) ‘Penyusunan Pedoman Jalur Geowisata’ digelar Kementerian Pariwisata di Lakeview Eco Lodge Hotel, Panelokan, Kecamatan Kintamani, Bangli, Jumat (24/5).

BANGLI, NusaBali

Kegiatan ini sebagai langkah awal untuk pengembangan Batur UNESCO Global Geopark Kintamani. Kegiatan FGD yang dibuka langsung Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian pariwisata (Kemenpar), Ni Wayan Giri Adnyani, ini diikuti perwakilan Dinas Pariwisata Provinsi Bali, Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Dinas Pariwisata Kabupaten Bangli, Dinas Lingkungan Hidup, Badan Pengelola Batur UNESCO Global Geopark Kintamani, hingga Kelompok-kelompok Sadar Wisata.

Tampil sebagai narasumber dalam FGD ini, antara lain, Asisten Deputi Pengembangan Wisata Alam dan Buatan Kemenpar Alexander Reyaan, Direktur Badan Pengelola Batur UNESCO Global Geopark Kintamani Gede Wiwin Suyasa, hingga Yunus Kusumahbrata (dari Tim Pencapaian Geopark Kemenpar), dan Yani Adriani (dari Pusat Perencanaan dan Pengembangan Kepariwisataan ITB).

Tujuan dari Penyusunan Jalur Heowisata adalah memadukan keragaman geologi dengan keanekaragaman hayati dan kekayaan budaya di Batur UNESCO Global Geopark Kintamani. Sekaligus juga merumuskan langkah bersama lintas sektoral dalam mewujudkan jalur Geowisata untuk pengembangan Batur Geopark sebagai UNESCO Global Geopark.

Direktur Badan Pengelola Batur UNESCO Global Geopark Kintamani, Gede Wiwin Suyasa, mengatakan kegiatan FGD yang diprakarsai Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kemenpar ini merupakan bentuk dukungan pemerintah pusat dalam pengembangan objek wisata. Ini pula bentuk dukungan atas terbentukanya Badan Pengelola Batur UNESCO Global Geopark Kintamani, yang telah beroperasi sejak Februari 2019 lalu.

“Kegiatan ini sebagai langkah awal untuk pengembangan Batur UNESCO Global Geopark Kintamani. Ini pintu masuk bagi Badan Pengelola untuk terus melakukan koordinasi,” jelas Wiwin Suyasa kepada NusaBali di sela-sela kegiatan FGD, Jumat siang.

Menurut Wiwin Suyasa, penyusunan jalur geowisata adalah untuk memadukan keragaman geologi dengan keanekaragaman hayati dan kekayaan budaya. Selain itu, juga merumuskan langkah bersama lintas sektor dalam mewujudkan jalur geowisata untuk pengembangan Geopark Batur sebagai UNESCO Global Geopark.

Badan Pengelola Batur UNESCO Global Geopark pun memanfaatkan kegiatan tersebut untuk menyampaikan beberapa hal yang dipandang perlu menjadi perhatian pemerintah. “Usulan kami berkaitan dengan infrastruktur, transportasi, hingga pengelolaan sampah. Harapannya, apa yang kami sampaikan mendapat respons dari pemerintah pusat dan bisa ditindaklanjuti,” jelas Wiwin Suyasa.

Disinggung soal program Badan Pengelola Batur UNESCO Global Geopark Kintamani, menurut Wiwin Suyasa, saat ini pihaknya masih fokus bagaimana untuk meningkatkan kebersihan di kawasan geopark dan penataan untuk retribusi kawasan. “Kami juga masih melakukan review master plan pengembangan Geopark,” katanya.

Batur UNESCO Global Geopark Kintamani sendiri merupakan satu dari empat kawasan di Indonesia yang diakui UNESCO sebagai Global Geopark. Kawasan ini pula yang pertama kali masuk UNESCO Global Geopark (UGG) di Indonesia.

Ada 15 desa di Kecamatan Kintamani yang masuk kawasan inti Batur UNESCO Global Geopark. Desa-desa tersebut berada di Kaldera Batur, yakni Desa Songan A, Desa Songan B, Desa Kedisan, Desa Buahan, Desa Trunyan, Desa Pinggan, Desa Belandingan, Desa Sukawana, Desa Kintamani, Desa Batur Utara, Desa Batur Tengah, Desa Batur Selatan, Desa Suter, Desa Abang Batudinding, dan Desa Abang Songan. **esa

Komentar