nusabali

Disdikpora Petakan PPDB Sistem Zonasi

  • www.nusabali.com-disdikpora-petakan-ppdb-sistem-zonasi

Siswa di perbatasan bisa mendaftar di sekolah terdekat karena sudah ada MoU dengan kabupaten tetangga.

BANGLI, NusaBali

Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Bangli mulai melakukan pemetaan wilayah untuk Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang menggunakan sistem zonasi. Pada PPDB Tahun Ajaran 2019/2020, kuota zonasi sebesar 90 persen. Dengan sistem zonasi, siswa mendaftar di sekolah terdekat.

Kepala Disdikpora Bangli, I Nyoman Suteja, menjelaskan, PPDB tahun ini 90 persen menggunakan zonasi, 5 persen bagi siswa miskin, dan 5 persen untuk siswa mutasi karena mengikuti tugas orangtua sebagai ASN dan TNI/Polri. Ditegaskan, kuota siswa berprestasi sudah masuk 90 persen kuota zonasi. Berbeda dengan PPDB tahun sebelumnya, kuota siswa berprestasi sebesar 20 persen. “Dengan sistem zonasi, siswa mendaftar di sekolah terdekat,” jelas Nyoman Suteja, Selasa (14/5).

Dikatakan, dengan sistem zonasi, sekolah menjadi sentral sehingga perlu dilakukan pemetaan wilayah. Contoh, siswa dari Lingkungan Bebalang bagian utara bisa ke SMPN 1 Bangli, sedangkan yang di selatan bisa ke SMPN 3 Bangli karena jaraknya lebih dekat. Untuk di Kecamatan Bangli, Disdikpora sudah menggelar rapat bersama Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), pengawas pembina hingga Lurah untuk membahas penetapan wilayah. “Kecamatan Kintamani, Tembuku, dan Susut, masih disusunkan jadwal,” ungkapnya.

Nyoman Suteja menambahkan, bagi siswa yang ada di perbatasan bisa mendaftar di sekolah terdekat, mengingat sudah ada MoU dengan kabupaten tetangga. Jika lebih dekat sekolah ke Buleleng atau Gianyar tidak jadi masalah, karena sudah ada MoU. Sebelumnya juga ada sejumlah siswa yang sekolah ke Karangasem. “Sekarang sudah ada Satap 7 Kintamani, jadi tidak ada lagi mendaftar ke Karangasem,” sebutnya.

Nyoman Suteja tidak memungkiri ada segelintir orang yang memaksakan bisa di sekolah tertentu padahal di luar zonasi. Ia pun mengimbau para siswa maupun orangtua agar tidak memaksakan untuk mendapat sekolah tertentu dengan alasan mencari sekolah favorit. “Sekarang pendidikan sudah ada pemerataan,” tukasnya. *esa

loading...

Komentar