nusabali

Kasek SMA Pariwisata Saraswati Klungkung Dipolisikan

  • www.nusabali.com-kasek-sma-pariwisata-saraswati-klungkung-dipolisikan

Kepala SMA Pariwisata Saraswati (Smapsa), I Gusti Made Suberata, 58 dilaporkan oleh siswinya sendiri, Ni Komang Putri, 18, (siswi kelas XII), ke Polres Klungkung, pada Kamis (9/5).

SEMARAPURA, NusaBali

Dalam laporan itu Kasek Suberata diduga melakukan tindakan fisik yakni menarik tangan siswinya itu hingga terjatuh dan mengalami luka di bibir.

Informasi yang dihimpun, kejadian ini dipicu gara-gara Ni Komang Putri, tidak mengikuti instruksi sekolah agar mengenakan pakaian kebaya saat moment pelepasan (graduation) siswa kelas XII, yang dilaksankan di aula sekolah Kamis pagi. Di mana Putri yang dikenal sosok tomboy mengenakan pakaian rapi dan celana panjang.

Sehingga saat apel pagi di halaman sekolah atau sebelum memulai proses pelepasan (Purnasis Madya angkatan ke42), Putri dikeluarkan dari barisan dan diminta masuk ke ruang Tata Usaha (TU) sekitar pukul 07.30 Wita. Putri memilih duduk di depan ruang TU, tak berselang lama datang seorang guru I Gusti Oka Wirasanjaya, kemudian menayakan kenapa duduk di sana, Putri menjawab tidak diizinkan berbaris karena tidak memakai pakian adat/kebaya.

Saat Putri dan gurunya saling beragumentasi, Kasek Suberta datang dan menarik tangan Putri (pelapor) sampai ke dalam ruangan TU, hingga terhempas dan terjatuh ke pojokan tembok yang mengakibatkan bibir bawah sebelah kiri korban robek dan mengelurkan darah.

Pasca insiden tersebut, Putri, langsung menelpon ayahnya Wayan Suta Sudana untuk datang ke sekolah, selanjutnya dari pihak keluarga putri melaporkan kejadian ini ke Mapolres Klungkung. Petugas pun turun untuk menggelar olah TKP dan mengumpulkan beberapa barang bukti. Sementara itu Putri sudah divisum di RSUD Klungkung.

Kasat Reskrim Polres Klungkung, AKP Mirza Gunawan mengaku sudah menerima laporan dari pelapor atas dugaan penganiayaan. Sebagai tindak lanjut pelapor sudah diantar melakukan visum, selain itu petugas juga meminta keterangan sejumlah saksi mengenai kronologis kejadian. “Kami masih selidiki kasus ini, beberapa barang bukti sudah diamankan,” ujarnya.

Sementara itu, Ni Komang Putri, siswi asal Desa Tojan, Kecamatan Klungkung, mengaku ketika dinasihati oleh gurunya I Gusti Ngurah Sanjaya dengan nada agak keras sehingga membuat dirinya malu. Karena tidak terima maka Putri pun melontarkan kata-kata balik. “Kok bapak jengat,” ujarnya. Saat itulah Kasek Suberata datang kemudian menarik tangannya ke ruang TU.

Saat tiba di ruang TU, tangan Putri ditarik sangat keras sehingga hingga dirinya jatuh ke lantai, dengan posisi mulut terbentur ke lantai dan keluar darah. Putri langsung menghubungi ayahnya, beberapa saat kemudian sang ayah datang ke sekolah. Putri sengaja tidak mengenakan pakaian kebaya dengan alasan, karena rambutnya pendek dan setiap menggunakan sprey rambut, dirinya merasa sakit kepala sehingga tidak bisa disangul. “Saya mengenakan pakaian jas dan pakaian itu rapi, tentunya tidak mempengaruhi acara pelepasan,” ujarnya.

Sementara itu Kakak Putri, yakni Wayan Predi Astika, 25, mengatakan, atas perlakuan terhadap adiknya tersebut, Astika mengajak adiknya melapor ke Polres Klungkung agar kasus ini diproses secara hukum. Kata dia, petugas juga sudah mengambil rekaman CCTV di sekolah.

Kepala SMA Pariwisata Saraswati Klungkung, I Gusti Made Suberata mengenai kejadian tersebut, mengatakan karena melihat Putri dan Sanjaya bersitegang, sehingga Putri diminta masuk ke dalam ruang TU supaya tidak menyebabkan keresahan. Namun Putri menolak arahan tersebut sehingga ia pun berupaya agar Putri mau masuk ke ruang TU. Saat didorong ke ruang TU, kaki Putri tersandung keramik hingga terjatuh. Rencananya pihaknya akan bertemu dengan siswa yang bersangkutan dan keluarganya untuk menceritakan kejadian yang sebenarnya. Hanya saja jika siswa yang bersangkutan tidak mau berdamai, maka Suberta siap mengikuti proses hukum.

Sementara itu, menurut seorang guru di SMA Pariwisata Saraswati (Smapsa) Klungkung, yang enggan disebutkan namanya, siswa yang bersangkutan sengaja dikeluarkan dari barisan agar tidak dijadikan contoh oleh siswa lainnya. Karena jika itu dibiarkan yang lainnya bisa mengikuti, terlebih di Smapsa siswa memang dididik agar disiplin. “Siswa yang bersangkutan memang kerap melawan guru, dan sempat mau melapor ke DPR ketika sebelumnya sempat ditegur oleh gurunya,” ujarnya. *wan

loading...

Komentar