nusabali

Warga Bajera Keluhkan Air PDAM Puek

  • www.nusabali.com-warga-bajera-keluhkan-air-pdam-puek

Sebanyak 159 KK di wilayah Bajera Tengah, Desa Bajera, Selemadeg, selama sepekan ini mendapat pasokan air PDAM yang airnya berwarna kecokelatan.

TABANAN, NusaBali

Warga Banjar Bajera Tengah, Desa Bajera, Kecamatan Selemadeg, Tabanan sejak sepekan belakangan ini mengeluhkan air PDAM yang berwarna cokelat alias puek. Bahkan saking kesalnya sejumlah warga menumpahkan keluh kesah kondisi tersebut ke media sosial.

Kelian Banjar Dinas Bajera Tengah I Gusti Putu Martha Widya Putra, mengatakan kondisi air berwarna cokelat sudah terjadi sejak sepekan lalu. Menurut dia, sebanyak 150 kepala keluarga (KK) terdampak. “Airnya keruh tidak bisa digunakan masak maupun mandi,” ujarnya, Senin (29/4).

Dikatakan kondisi ini bukan kali pertama terjadi. Hampir setiap bulan warga Banjar Bajera Tengah menerima pasokan air keruh. “Airnya kadang jernih, kadang keruh lagi, sering terjadi sampai warga kesal kepada PDAM,” imbuh Putra.

Bahkan saking kesalnya sejumlah warga mengeluhkan kejadian ini ke media sosial. Warga berharap kondisi dimaksud segera bisa diatasi. “Masyarakat kami sudah malas melapor, makanya lebih baik diunggah di facebook karena lebih berdampak,” tandas Putra.

“Kami kan bayar ya, jadi harapannya supaya dapat air bersih. Sebab kami sering mendapat pasokan air keruh,” tegasnya.

Terkait kondisi itu Kabag Hubungan Pelanggan PDAM Tabanan Ida Bagus Marjaya Wirata mengatakan kekeruhan air tersebut dikarenakan sumber air permukaan yang menjadi sumber air di wilayah Bajera memang kualitasnya keruh atau cokelat akibat musim hujan. “Sumber air permukaan yang menjadi sumber air untuk wilayah Bajera adalah Tukad Yeh Otan. Karena musim hujan, mengakibatkan air meluap dan berwarna cokelat,” ujarnya.

Dikatakan sumber air permukaan selain Tukad Yeh Otan, adalah Tukad Nyanyi yang menjadi salah satu sumber air PDAM untuk wilayah Kecamatan Kediri. Kata Wirata, kondisi air di dua sumber ini memang berbeda.

“Untuk Tukad Nyanyi karena debitnya selalu ada sehingga pada musim hujan tidak terjadi kekeruhan. Beda dengan Tukad Yeh Otan, saat musim kemarau kering dan saat musim hujan meluap sehingga sedimennya membuat air jadi cokelat,” kata Wirata.

Akibat kondisi tersebut, pihaknya sudah melakukan upaya pengelolaan air yang sesuai prosedur, sehingga kekeruhan air yang terjadi di wilayah Bajera bisa diatasi. “Kami sudah atasi, petugas sudah ke lapangan,” akunya.

Wirata menyatakan, peningkatan pelayanan terus dilakukan. Dan untuk mengurangi antrean saat pembayaran di loket, per April ini PDAM Tabanan telah meluncurkan layanan pembayaran online. “Rata-rata pembayaran tiap hari sebanyak 300 konsumen dan melonjak menjadi 600 hingga 800 konsumen setelah tanggal 15,” ujarnya.

Menurut Wirata, pembayaran secara online batas waktunya sama dengan pembayaran offline yaitu mulai tanggal 1 – 20 tiap bulannya. Artinya, jika lewat dari tanggal tersebut, maka pembayaran nasabah melalui sistim online akan dikenakan denda.

Ditambahkan pembayaran PDAM Tabanan dengan sistem online ini sementara hanya bisa dilakukan melalui mobile banking dan internet banking, sedangkan untuk pembayaran melalui mesin anjungan tunai mandiri (ATM) untuk sementara waktu belum bisa dilakukan, karena masih tahap penyempurnaan layanan. “Mudah-mudahan dengan layanan pembayaran rekening secara online ini bisa menurunkan jumlah antrean,” harapannya. *des

Komentar