nusabali

Debat Pamungkas Anti klimaks

  • www.nusabali.com-debat-pamungkas-anti-klimaks

Debat penutup Pilpres 2019 dianggap berjalan antiklimaks. Penyebabnya, kedua pasangan calon dinilai sudah jenuh dan hanya berupaya menghabiskan waktu.

JAKARTA, NusaBali
Capres nomor urut 01, Joko Widodo (Jokowi), menutup debat pamungkas Pilpres 2019 mengatakan bahwa persahabatannya dengan Prabowo dan Sandiaga tidak akan putus, juga menyampaikan agar bangsa Indonesia selalu optimistis. Dia mengingatkan masyarakat untuk tidak pesimistis dan tidak kufur nikmat terhadap kondisi perekonomian, yang sudah membaik.

Sedangkan Cawapres nomor urut 02, Sandiaga Uno, mengatakan dirinya dan Capres Prabowo Subianto tidak akan mengambil gaji apabila terpilih sebagai Presiden dan Wakil Presiden 2019-2024.

“Untuk menjadi negara maju, tantangan kita besar, kita wajib bersyukur. Kita jangan kufur nikmat, inflasi sangat terjaga, inflasi pangan terjaga, tingkat pengangguran turun, angka kemiskinan tinggal satu digit, kita tidak boleh takut. Bukan kesulitan yang membuat kita takut, seringkali ketakutanlah yang membuat kita jadi sulit,” ujar Jokowi.

Jokowi menyebut pesimisme membuat keinginan untuk maju menjadi sulit. Karena itu Jokwoi meminta masyarakat tetap optimistis.

“Jangan pesimis, optimis, kita harus selalu optimis. Saya mengajak seluruh rakyat Indonesia, ajak teman, ajak kawan, ajak tetangga untuk berbondong-bondong ke TPS 17 April 2019,” kata Jokowi.

Di akhir pernyataannya, Jokowi menegaskan tali silaturahmi yang tetap terjaga dengan Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno “Jangan saling membenci, kita semua satu Indonesia,” tandas Jokowi.

Sementara Sandiaga mengatakan gajinya akan diberikan kepada negara, kaum yatim maupun dhuafa yang lebih berhak mendapatkannya. “Kami berkomitmen tidak mengambil gaji serupiah pun, jika mendapatkan amanah ini,” kata Sandiaga seperti dilansir Antara.

“Kami juga meyakini insyaallah, Allah yang maha membolak-balikkan hati akan memberikan arahan kepada masyarakat untuk memilih pemimpin yang terbaik. Bagi kami, saatnya tentukan pilihan terbaik buat masa depan kita, masa depan anak-anak cucu kita,” kata Sandiaga Uno dalam closing statement Pilpres 2019.

Sementara Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya menilai debat segmen kelima menjadi antiklimaks, sedangkan pada segmen kedua Jokowi dinilai unggul karena emosi Prabowo tidak stabil.

Debat segmen kelima pada debat penutup dianggap berjalan antiklimaks. Penyebabnya, kedua pasangan calon dinilai sudah jenuh dan hanya berupaya menghabiskan waktu.

“Saya harus mengatakan substansinya hampir nggak ada debat sesi kelima ya. Debat terbuka saya harus katakan antiklimaks, karena kalau menurut saya betul-betul jenuh, ya, terlihat sudah masing-masing kandidat ingin menyelesaikan waktu saja," kata Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya saat dihubungi, Sabtu (13/4).

Dia kemudian menyebut terjadi narasi yang diulang-ulang oleh para paslon. Misal, Jokowi mengulang istilah agregat, sementara Prabowo mengulang soal kebocoran anggaran.

“Kandidat bahkan terlihat mengulang-ulang kalimat yang digunakan, misal, Jokowi mengulang-ulang istilah agregat dalam ekonomi makro, sama Prabowo mengulang-ulang tentang kebocoran uang, Sandi mengulang-ulang contoh mikronya, akhirnya lama-lama terasa membosankan,” jelasnya.

Yunarto kemudian menyoroti Prabowo yang dianggapnya terlihat seperti tidak membaca data sehingga narasi yang dibangun tidak berkembang. Sementara Jokowi dianggap lebih bisa memberi penjelasan secara komprehensif.

“Nggak terlihat sebagai seorang calon pemimpin yang memilik konsep. Sandi bisa menutupi itu, menurut saya. Di sisi lain Pak Jokowi lebih komprehensif dalam menjelaskan, infrastruktur dan perkembangan semua daerah dan pemerataan,” tuturnya.

Di sesi kedua, pasangan Joko Widodo (Jokowi)–Ma'ruf Amin dianggap unggul atas Prabowo Subianto–Sandiaga Uno. Penyebabnya, emosi Prabowo tak stabil hingga kerap terlihat kebingungan sendiri.

“Ini bukan soal penguasaan masalah, tapi stabilitas emosi yang, menurut saya, akhirnya menjadi kendala buat Prabowo mengembangkan idenya. Kalau kita lihat kan kesulitan dia membangun narasi ketika dia secara emosional masuk ke pembicaraan meniru Tiongkok, tapi sebenarnya setelah itu dia menyadari sebuah kesalahan karena kita tahu agak sensitif bahasa itu secara elektoral yang sering dikritik Aseng dan segala macam,” ucap Yunarto saat dihubungi detikcom, Sabtu (13/4).

Dia mengatakan Prabowo kemudian seolah terlihat bingung hendak berbicara apa lagi. Prabowo dianggap melakukan blunder dengan menyebut ada kesalahan-kesalahan para presiden sebelumnya hingga Sandiaga tak bisa menambahkan apa pun.

“Kemudian seperti terlihat bingung ingin bicara apa lagi dan kemudian masuk ke blunder berikutnya ketika bicara kesalahan presiden-presiden sebelumnya dan Sandiaga nggak bisa nambahkan juga,” ucapnya.

Yunarto menilai Prabowo terlalu berhenti pada narasi yang sama, yakni membuktikan arah negara salah, namun disebutnya tak pakai data. Dia juga menyoroti Ma’ruf yang langsung berbicara dan dianggap sebagai nilai tambah bagi keunggulan 01. “Sesi dua ya kemenangannya didapat Jokowi sebenarnya karena faktor mental lebih stabil,” ujarnya.

Sepuluh panelis yang bertugas di debat kelima termasuk merumuskan pertanyaan untuk segmen dua dan tiga adalah; Rektor Unair Prof  Muhammad Nasih, Guru Besar FEB Universitas Tanjungpura Prof Eddy Suratman, Dosen FEB UIN Syarif Hidayatullah Dr Muhammad Arief Mufraini, Dekan FEB Universitas Diponegoro Dr Suhartono, Dekan FEB Universitas Sam Ratulangi Dr Herman Karamoy, Dekan FEB Universitas Udayana Dr I Nyoman Mahaendra Yasa SE MSi, Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Dr Harif Amali Riva’I, Guru Besar ITB Prof Dr Ir Dermawan Wibisono, Dosen Community Development Unika Soegijapranata Semarang Tukiman Taruno Sayoga PhD, Direktur Eksekutif Indonesia Global Justice (IGJ) Rahmi Hertanti‎. *

Komentar