nusabali

Tari Sakral, Penarinya 21 Laki-laki yang Sudah Menikah

  • www.nusabali.com-tari-sakral-penarinya-21-laki-laki-yang-sudah-menikah

Penata Tari Baris Bugbug, Ida Bagus Ketut Suarjata dari Griya Beong, Desa Belega, Blahbatuh, Gianyar menyampaikan bahwa gerak Tari Baris Bugbug mengacu dari tarian Dewa Siwa dan setiap gerak berpatokan pada sastra.

Banjar Pande, Kelurahan Cempaga, Bangli Kini Miliki Tari Baris Bugbug


BANGLI, NusaBali
Banjar Pande, Kelurahan Cempaga, Kecamatan/Kabupaten Bangli kini memiliki Tari Baris Bugbug. Salah satu tarian sakral karena untuk membuat gerakan Tari Baris Bugbug, penata tari senantiasa memohon tuntunan dari Ida Sang Hyang Widi Wasa tersebut akan dipentaskan pertama kalinya saat pujawali di Pura Dalem Slaungan, Banjar Pande, pada Buda Umanis Julungwangi, Rabu (10 Juli 2019) mendatang. Saat ini Tari Baris Bugbug yang konon satu-satunya di Bali ini masih dalam tahap penyempurnaan.

Pangemong Pura Dalem Slaungan Jro Mangku Gde Dalem Slaungan Sang Made Suryawan, menjelaskan saat pujawali nanti tidak hanya dipentaskan Tari Rejang, Pendet, namun juga Tari Baris Bugbug. Menurutnya, Tari Baris Bugbug sebagai simbol dari rencang (pengiring) Ida Bhatara Siwa-Durga yang berstana di Pura Dalem. Tari Baris Bugbug ini dibawakan oleh krama laki-laki yang sudah menikah saat nedunang Ida Sesuhunan.

“Ditarikan oleh krama yang sudah berpasangan atau menikah. Tari Baris Bugbug dimaksudkan untuk memohon kerahayuan bagi seluruh umat,” ungkapnya, Sabtu (6/4). Alasan ditarikan oleh pria yang sudah menikah, karena sebagai simbol Siwa dan Dewi Durga.

Jro Mangku Dalem Slaungan mengakui, pihaknya cukup lama mencari sumber terkait Tari Baris Bugbug ini. Bahkan pihaknya sampai mendatangi daerah yang dimungkinkan memiliki Tari Baris Bugbug. “Kami sempat ke Bugbug,  Karangasem, namun di sana tidak ada Tari Baris Bugbug. Sempat juga mendatangi beberapa perguruan tinggi untuk mencari referensi. Sampai akhirnya kami mendapatkan sumber di wilayah Tampaksiring (Gianyar), yang mana ada mahasiswa yang mengangkat Baris Bugbug untuk skripsi, hanya saja kami tidak mendapatkan data yang pasti,” jelasnya.

Lanjutnya, untuk tabuh memang sudah ada, kemudian dari tabuh tersebut dibuatkan gerak tarinya. “Kami meminta bantuan seniman yang juga akademisi Ida Bagus Ketut Suarjata dari Griya Beong, Desa Belega, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar,” ujarnya seraya mengatakan untuk Tari Baris Bugbug sudah kasobyah (dibicarakan) dalam paruman.

Sementara itu, Ida Bagus Suarjata menyampaikan bahwa gerak Tari Baris Bugbug mengacu dari tarian Dewa Siwa dan setiap gerak berpatokan pada sastra. Disampaikannya, gerak tari tersebut nilai spiritnya dari Dewata Nawa Sanga (kekuatan dewa dari 9 penjuru mata angin).

Ida Bagus Suarjata mengakui, untuk membuat gerakan Tari Baris Bugbug tersebut pihaknya senantiasa memohon tuntunan dari Ida Sang Hyang Widi Wasa. Pihaknya sudah satu bulan terakhir merancang tari tersebut, dan beberapa kali sudah dilakukan latihan oleh para penari.

“Masih ada beberapa bagian yang perlu disempurnakan. Tarian ini didasari atas keyakinan dan tarian ini untuk memohon keseimbangan jagat,” imbuhnya.

Para penari Tari Baris Bugbug jumlahnya 21 orang. Mereka nantinya akan membawa batang pohon enau (dibentuk menyerupai tombak). Jika batang dibelah bagian dalam putih dan di luar kehitaman, ini merupakan simbol rwa bhineda.

Saat pentas, penarinya nantinya akan mengenakan pakaian berwarna hitam putih. Kemudian penarinya akan dirias, sehingga menyerupai para bhuta. “Sebagai simbol menetralisir pengaruh negatif menjadi positif. Para bhuta disomya,” tutur Jro Mangku Dalem Slaungan. Menurutnya, penarinya berjumlah 21 orang merupakan wahyu melalui tapakan di Pura Dalem. Selain itu jumlah 21 merupakan nilai sempurna. *esa

Komentar