nusabali

Buruh Disambar Petir, 2 Tewas, 8 Luka Bakar

  • www.nusabali.com-buruh-disambar-petir-2-tewas-8-luka-bakar

10 buruh manyi yang jadi korban tersambar petir semuanya asal sekampung dari Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana

Musibah Maut Saat Aktivitas Panen Padi di Desa Penyaringan

NEGARA, NusaBali
Musibah maut terjadi saat aktivitas manyi (memanen padi) di Subak Tibu Beleng, Banjar Anyar Tembles, Desa Penyaringan, Kecamatan Mendoyo, Jembrana, Jumat (5/4), ketika 16 buruh tiba-tiba disambar petir. Dari 10 korban tersambar petir, 2 orang di antaranya tewas mengenaskan di lokasi TKP.

Sepuluh (10) buruh manyi yang tersambar petir di Subak Tibu Beleng, Jumat siang pukul 12.30 Wita, semuanya berasal dari Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jembrana. Korban tewas dalam musibah ini, masing-masing Ni Luh Niarti, 50, dan Ni Luh Mi, 41, keduanya asal Banjar Wali, Desa Yehembang.

Sedangakn 8 korban selamat dalam kondisi terluka bakar adalah Sayu Nami, 55 (asal Banjar Wali, Desa Yehembang), Ni Nengah Ariani, 47 (asal Banjar Wali, Desa Yehembang), Sayu Kade Sunarti, 50 (asal Banjar Wali, Desa Yehembang), Ni Ketut Diah Raini Purnami, 53 (asal Banjar Wali, Desa Yehembang), Dewa Landung, 56 (asal Banjar Wali, Desa Yehembang/satu-satunya lelaki), Ni Luh Darma Wati, 40 (asal Banjar Kaleran, Desa Yehembang), Ni Nyoman Rudi, 45 (asal Banjar Kaleran, Desa Yehembang), dan Ni Nyoman Kormi, 50 (asal Banjar Bale Agung, Desa Yehembang).

Dari 8 korban selamat yang dilarikan ke Unit Pelaksana Teknis (UPT) Puskesmas I  Mendoyo pasca disambar petir, 3 orang di antaranya dirujuk ke Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) RSUD Negara. Sedangkan 3 orang dari mereka dirawat inap di Puskesmas I Mendoyo, sementara 2 korban lagi hanya menjalani rawat jalan.

Informasi di lapangan, musibah tersambar petir ini bermula ketika para korban yang didominasi perempuan mengajak dua buruh manyi lainnya, yani pasangan suami istri I Nyoman Arsana, 50, dan Ni Wayan Sumarni, 47 (asal Banjar Kaleran, Desa Yehembang) bersama-sama berangkat dari rumah untuk memanen padi seluas 30 are di lahan sawah milik Dewa Kade Jember, 54, di kawasan Subak Tibu Beleng, Desa Penyaringan, Jumat pagi pukul 08.00 Wita. Setibanya di sawah berisi padi siap panen terebut, 12 buruh manyi langsung berpencar memanen padi.

Siang sekitar pukul 11.00 Wita, ketika para buruh manyi sudah memanen padi seluas 15 are atau setengah dari luas sawah yang harus dipanen, mulai turun hujan disertai suara petir. Para buruh manyi pun memilih berteduh. Ketika itu, 10 korban pilih berteduh dalam satu kubu (gubuk darurat tanpa dinding) yang berada di sisi selatan lahan sawah milik Dewa Kade Jember. Sedangkan pasutri Nyoman Arsana dan Wayan Sumarni pilih berteduh di kubu lainnya yang terpisah sekitar 300 meter arah utara.

“Saya satu kubu bersama 9 teman lainnya. Sedangkan 2 orang lagi berteduh agak ke utara. Pas berteduh itu, karena hujan cukup lama tidak reda sampai pukul 12.00 Wita, maka kami pun sekalian membuka bekal dan makan bersama-sama,” cerita salah satu korban selamat, Ni Nengah Ariani, saat ditemui NusaBali di Puskesmas I Mendoyo, Jumat sore.

Seusai makan, Nengah Ariani bersama 9 temannya hendak minum kopi. Sekitar pukul 12.30 Wita, tiba-tiba petir menyambar bagian atas gubuk tempat mereka berteduh. Seluruh korban berjumlah 10 orang pun langsung terpental dan tergeletak berpencar.

“Pas disambar petir itu, rasanya mata saya berkunang-kunang. Saya juga hanya bisa merangkak dan langsung teriak meminta tolong sama Pak Arsana dan istrinya. Lalu, mereka berdua yang meminta bantuan warga,” papar Nengah Ariani.

Menurut Ariani, sebelum bantuan datang, 2 korban di antaranya keburu tewas di lokasi TKP, yakni Luh Niarti dan Ni Luh Mi. “Saya sama teman-teman sempat berusaha goyang-goyangkan tubuh mereka berdua, tapi sama sekali tidak ada respons,” lanjut Nengah Ariani yang mengalami luka bakar di bagian kaki.

Sekitar 30 menit pasca kejadian, barulah datang bertolongan dari sejumlah warga dan petugas kepolisian ke TKP. Para korban langsung dibawa ke UGD Puskesmas I Mendoyo, termasuk Ni Luh Niarti dan Ni Luh Mi yang sudah keburu tewas di lokasi kejadian. Jenazah kedua korban kemudian dibawa ke RSUD Negara untuk diperiksa, sebelum kemudian dibawa ke rumah duka di Desa Yehembang, Jumat sore.

“Pas saat petir menyambar, memang ada beberapa teman bawa HP, termasuk saya. Tetapi, HP sudah dimatikan semua saat berada di kubu. Saya juga tidak mengerti kenapa sampai disambar petir. Perlengkapan kerja seperti arit dan benda-benda berbahan logam lainnya, juga tidak ada kami taruh di kubu,” keluhnya.

Sementara itu, Kepala Puskesmas I Mendoyo, dr Kadek Ayu Dewi Damayanti, mengatakan dua korban tewas disambar petir sama-sama mengalami luka bakar serius di bagian dada. Bahkan, korban Luh Niarti sampai mengeluarkan darah dari telinga. Sedangkan 8 korban selamat, juga mengalami sejumlah luka bakar, namun tidak begitu fatal.

“Semua korban mengalami luka bakar. Korban selamat yang sudah dapat kami tangani di Puskesmas, ada yang mengalami luka bakar pada kaki dan tangan. Tetapi, ada juga yang detak jantungnya belum stabil, sehingga mereka kami rujuk ke rumah sakit,” beber dr Ayu Dewi saat dikonfirmasi NusaBali.

Di tempat terpisah, Kapolsek Mendoyo Kompol I Gusti Agung Komang Sukasana mengatakan, setelah menerima laporan ada waega tersambar petir, anggotanya langsung turun untuk mengevakuasi para korban, serta meminta keterangan sejumlah saksi. Disebutkan, pihak keluarga korban tewas sudah mengikhlaskan kejadian tersebut sbagai musibah.

“Dari keluarga korban sudah mengikhlaskan kejadiannya. Memang ada dugaan sambaran petir itu terjadi karena keberadaan HP yang dibawa para korban. Tapi, dari keluarga sudah ikhlas. Mereka juga menolak dilakukan otopsi jenazah korban,” tandas Kompol IGA Komang Sukasana.

Sementara, jenazah korban Luh Niarti dan Luh Mi sudah dipulangkan keluarganya dari RSUD Negara ke rumah duka di Banjar Wali, Desa Yehembang, Kecamatan Mendoyo, Jumat sore pukul 16.00 Wita. Sejauh ini, belum diketahui kapan jenazah dua korban tersambar petir akan dikuburkan.

Menurut Kelian Banjar Wali, Desa Yehembang, I Gusti Ketut Sudiana, korban Luh Niarti berpulang buat selamanya dengan meninggal suami tercinta I Ketut Sada dan tiga orang anak, yang maisng-masing berusia 30 tahun, 19 tahun, dan 8 tahun. Sedangkan korban Luh Mi berpulang buat selamanya dengan meninggal suami tercinta I Komang Wiadnyana dan dua anak, yang masing-masing berusia 20 tahun dan 11 tahun.

“Kedua korban yang meninggal disambar petir ini kesehariannya bekerja serabutan, mereka dikenal cukup ulet. Mereka sama seperti suaminya masing-masing, yang kerja sebagai buruh bangunan dan kadang membantu-bantu orang di kebun,” papar IGK Sudiana. *ode

Komentar