nusabali

Mahasiswa Australia Belajar Buat Gegodoh di Desa Kukuh

  • www.nusabali.com-mahasiswa-australia-belajar-buat-gegodoh-di-desa-kukuh

Belasan mahasiswa University of Western Australia berkunjung ke Desa Kukuh, Kecamatan Marga, Tabanan, Kamis (17/1).

TABANAN, NusaBali
Mereka memantau langsung kegiatan pemeriksaan mata, pembagian kacamata, dan operasi katarak yang digelar John Fawcett Foundation (JFF) di Desa Kukuh. Rombongan yang dipimpin Prof Paul Trinny Trinidad diisi pula dengan kegiatan melukis, belajar buat gegodoh (pisang goreng), dan sate lilit.

Belasan mahasiswa University of Western Australia ini tergabung dalam komunitas Bali Studio. Setiap ke Bali mereka selalu melukis bersama-sama yang hasil penjualan lukisan itu didonasikan untuk mendukung kegiatan JFF. “Kali ini kami menyelenggarakan kegiatan di Desa Kukuh,” ungkap Prof Paul Trinny Trinidad. 

Rombongan mahasiswa ini diterima Perbekel Kukuh I Made Sugianto, Ketua Komisi I DPRD Tabanan Putu Eka Putra Nurcahyadi, dan relawan JFF Ni Putu Yuni Widiadnyani. 

Uniknya, Made Sugianto menyambut rombongan mahasiswa Australia ini dengan berbahasa Bali. “Santukan rahina mangkin Wraspati, aksamaang titiang nganggen basa Bali ring para atiti sami. (Karena hari ini hari Kamis, mohon dimaklumi saya memakai bahasa Bali untuk menyambut kedatangan saudara sekalian),” ungkap Made Sugianto. 

Sambutan dalam bahasa Bali itu kemudian diterjemahkan oleh Yuni Widiadnyani yang akrab disapa Nuning. Selama di Desa Kukuh, komunitas Bali Studio University of Western Australia ini mengisi kegiatan utamanya dengan melukis bersama.

Mereka melukis tentang kegiatan JFF yang menyelenggarakan pengobatan mata, pembagian kacamata, dan operasi katarak. Ada pula yang melukis tentang objek yang dilihat menarik saat dalam perjalanan menuju Desa Kukuh. Sebagian dari mereka juga diajak untuk melihat prosesi pengabenan di Setra Gandamayu Desa Pakraman Kukuh. 

Para mahasiswa ini antusias ketika diajak belajar membuat sate lilit dan gegodoh. Mereka mengaku terkesan buat sate dan godoh sendiri. Hasil karya mereka langsung mereka cicipi untuk makan siang. “Sate lilit Desa Kukuh enak,” puji Prof Paul Trinny Trinidad. *k21  

Komentar