nusabali

Ibu dan 3 Anaknya Tewas, Ayah Kritis

  • www.nusabali.com-ibu-dan-3-anaknya-tewas-ayah-kritis

Anak kedua, I Made Adin Radita Paguna, ditemukan dalam posisi tidur sambil memeluk bantal. Jenazah balita ini ditemukan sekitar 1 meter dari jenazah ibunya.

Bencana Rumah Ambrol ke Sungai di Batubulan

GIANYAR, NusaBali
Satu keluarga, I Made Oktara Dwipaguna, 30, istrinya Ni Made Lintang Ayu Widmerti, 31, dan tiga anaknya Ni Putu Deta Vania Larasati, 6, I Made Adin Radita Paguna, 3, dan I Nyoman Ali Anggara Paguna, 2, tertimbun reruntuhan akibat seluruh bangunan rumahnya ambrol, Sabtu (8/12) sekitar pukul 06.30 Wita. Rumah di Gang Taman Beji IV Banjar Sasih, Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, itu ambrol ke Sungai Tiyis sedalam sekitar 10 meter yang persis berada di sisi timur rumah yang ambrol. Ibu dan tiga anaknya meninggal di lokasi kejadian. Sementara Made Oktara, pegawai Bank BRI Cabang Gajah Mada, Denpasar kondisinya kritis dan dirawat di RSUP Sanglah, Denpasar.

Hanya mertua Made Oktara, Ni Nyoman Martani, 53, selamat dari maut. Saat kejadian, Martani sedang sembahyang di luar pekarangan rumah. Awalnya Martani mengira ada gempa bumi, dia sempat berteriak meminta anak, menantu, dan tiga orang cucunya bangun dan keluar rumah. Namun belum selesai bicara, bangunan rumah keburu terjun bebas ke pinggir sungai. Martani pun lari menyelamatkan diri sembari berteriak minta tolong. Mendengar kejadian itu, warga sekitar rumah berupaya memberikan bantuan dan melaporkan kejadian itu ke Pos Polisi Batubulan.

Tim gabungan dari Basarnas, Polda Bali,  Polres Gianyar, BPDB Gianyar, Kodim Gianyar, dan instansi terkait langsung terjun ke TKP. Pencarian dilakukan mulai pukul 08.00 Wita. Sekitar 350 personel gabungan dikerahkan ke TKP. Mereka menggunakan alat berat, palu, dan gergaji mesin untuk melakukan evakuasi korban.

Tim yang melakukan evakuasi, pertama kali mendapati pemilik rumah, I Made Oktara Dwipaguna asal Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB) terjepit di antara reruntuhan beton. Korban yang sejak Mei 2017 menetap di Banjar Sasih, Desa Batubulan, ini sempat berteriak minta tolong. Saat berhasil dievakuasi, korban Made Oktara tampak mengalami sejumlah luka di wajah, tangan, perut, dan kaki akibat tertindih bangunan rumah. Kemudian tim berturut-turut menemukan empat korban.

“Hasil pencarian, empat orang kami temukan dalam keadaan meninggal dunia. Terdiri dari 1 perempuan dewasa dan 3 anak-anak,” kata Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Denpasar (Basarnas Bali) Ketut Gede Ardana yang ditemui usai evakuasi. Korban meninggal yang berhasil dievakuasi pertama kali atas nama Ni Putu Deta Vania Larasati, 6. Murid kelas I SD Saraswati 5 Denpasar ini ditemukan dalam keadaan meninggal dunia sekitar pukul 10.30 Wita.

Berselang sekitar 1,5 jam atau sekitar pukul 12.22 Wita, tim gabungan kembali menemukan satu korban yakni I Made Adin Radita Paguna, 3. Korban yang merupakan anak kedua ini ditemukan dalam posisi masih tertidur sembari memeluk bantal. “Awalnya memang kami temukan bantal, saat kami tarik muncul tubuh korban,” ujar Ardana.

Sekitar 10 menit kemudian, pukul 12.32 Wita, tim menemukan sosok tubuh Ni Made Lintang Ayu Widmerti, 31, yang tiada lain adalah istri Made Oktara. “Ibunya kami temukan tak jauh dari posisi anak kedua, sekitar 1 meter,” imbuhnya.  Menyusul penemuan korban terakhir pada pukul 13.28 Wita atas nama I Nyoman Ali Anggara Paguna, 2.

“Pencarain terakhir cukup sulit, jaraknya berjauhan dari korban sebelumnya. Kami lihat petunjuk lemari dan spring bed, ternyata benar ada di antara reruntuhan lemari dan pakaian,” ungkap Ardana.

Setelah terevakuasi, seluruh korban meninggal dunia langsung dibawa ke RSUP Sanglah, Denpasar, menggunakan ambulans RS Bhayangkara dan PMI Gianyar.

Made Oktara saat dirujuk dalam kondisi kritis dan saat ini masih dalam penanganan tim medis RSUP Sanglah Denpasar. Kassubag Humas RSUP Sanglah Dewa Ketut Kresna mengatakan, korban Made Oktara diterima pukul 10.20 Wita, dengan diagnosa mengalami luka abdomen (pada perut) dan fraktur (patah) pada lengan.

“Pasien kami terima pukul 10.20 Wita. Saat ini sedang OK (operasi, Red) untuk penanganan luka abdomen. Selain itu, ada fraktur di lengan. Fraktur akan ditangani setelah selesai OK. Ada juga luka-luka di wajah, lengan, dan kaki,” ujarnya dikonfirmasi lewat WhatsApp.

Sementara istri dan anak-anak Made Oktara tidak bisa diselamatkan karena tertimbun longsor. Satu per satu jenazah dievakuasi ke Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah. Mulai dari anak pertama Ni Putu Deta Vania Larasati Paguna, 6, diterima forensik sekitar pukul 11.00 Wita. Menyusul kemudian anak ketiga I Nyoman Ali Anggara Paguna, 2, pukul 12.49 Wita. Tidak lama kemudian jenazah sang istri, Ni Made Lintang Ayu Widmerti, 31 pukul 12.52 Wita. Sedangkan anak kedua, I Made Adin Radita Paguna,  yang ditemukan paling terakhir, diterima sekitar pukul 14.00 Wita.

Keluarga yang selamat, Ni Nyoman Martani, 53, terlihat shock melihat langsung anggota keluarganya terperosok bersama bangunan rumah. Ditemui di lokasi, ibu dari korban Ni Made Lintang Ayu Widmerti ini mengaku baru setahun pindah ke rumah pinggir tebing tersebut. “Baru Mei 2017 lalu pindah ke sini. Awalnya di Lombok (I Made Oktara Dwipaguna asal Kecamatan Selaparang, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, Red),” jelasnya.

Saat kejadian, dia mengaku sedang mebanten wedang pada plangkiran yang berada persis di sebelah utara rumahnya. Jaraknya hanya sekitar 1 meter dari garasi rumah. Pertama kali Martani merasakan pintu garase bergetar. “Tiyang kira gempa. Langsung saat itu saya teriak ke dalam rumah. Supaya anak-anak dan cucu bangun. Tapi belum selesai ngomong rumah sudah terjun ke sungai. Ndak kebayang dah apa yang terjadi di bawah sana,” jelasnya.

Dikatakan, dirinya memang rutin menghaturkan sesajen di plangkiran tersebut setiap pukul 06.00 Wita. Saat itu menantu dan cucunya masih tertidur lelap. Sementara anaknya, Ni Made Lintang Ayu Widmerti yang berprofesi sebagai apoteker di salah satu apotek di Nusa Dua, Kecamatan Kuta Selatan, Badung, sedang di kamar mandi. “Saya lihat sendiri, rumah langsung ambles,” ucapnya.

Diakui, tinggal di rumah pinggir sungai membuat perasaannya selama ini waswas. Terlebih beberapa hari terakhir Gianyar diguyur hujan cukup lebat dan pernah terjadi gempa bumi. “Kemarin juga hujan lebat,” ujarnya. Sebelum kejadian, Martani mengaku sudah dapat firasat aneh. Ketika cucu pertamanya Deta Vania tumben minta tidur bersama orangtuanya. “Biasanya, dua cucu tidur sama saya. Kemarin tumben yang pertama minta tidur sama bapak ibunya. Dia juga gelisah tak karuan tadi malam, nangis merasa tidak nyaman,” ungkapnya.

Mirisnya, keluarga ini sejatinya merencanakan akan pulang kampung ke Lombok merayakan Galungan. “Rencananya pulang tanggal 15 (Desember) ini, pas keduanya dapat libur,” ungkapnya. Selain Basarnas Bali, personel yang terlibat operasi SAR di antaranya Polisi Satwa K-9, Dokpol Polda Bali, Polsek Sukawati, Polres Gianyar, PMI Gianyar, dan Public Save Center Gianyar.

Basarnas mengerahkan tim rescue beserta peralatan ekstrikasi untuk evakuasi di bangunan runtuh dan peralatan mountainering. Selain 12 personel dari Kantor Basarnas yang berada di Jimbaran, Kua Selatan, Badung, dikerahkan pula 8 personel dari Pos Pencarian dan Pertolongan Karangasem. *nvi,ind

Komentar