nusabali

Diteror, Ruben Onsu Malu Lapor Polisi

  • www.nusabali.com-diteror-ruben-onsu-malu-lapor-polisi

Tidak ada niat membalas, lebih memilih berfikir positif

JAKARTA, NusaBali
Teror bisnis bisa jadi berpengaruh terhadap omzet bisnis host Ruben Onsu. Beberapa kedai mengalami penurunan pengunjung. “Memang ada penurunan omzet. Tapi aku tetap berpikiran positif. Mungkin orang lagi bosan, masa setiap hari makan ayam geprek,” kata Ruben Onsu seperti dilansir tabloidbintang.

Pemilik nama lengkap Ruben Samuel Onsu ini awalnya enggan membeberkan teror yang dialaminya kepada publik. Namun karena sudah kelewatan, ia melakukannya. "Kenapa cerita ini aku bagi kepada media dan lainnya? Katanya, kalau kita bagi cerita seperti ini, apa yang dilakukan orang (peneror) itu jadi hambar,”  pria kelahiran Jakarta, 15 Agustus 1983 ini beralasan.

Alasan lain, ia mengharapkan doa yang tulus dari para penggemar. Dengan kekuatan doa, Ruben Onsu percaya, Tuhan akan menuntunnya keluar dari kesulitan.

“Doa yang benar adalah doa yang tulus. Dan doa tulus dari mereka menurutku dapat mengalahkan hal-hal mistis itu,” ucap Ruben yang melambung berkat ajang Mamamia Indosiar. Hanya saja, Ruben sampai saat ini enggan membuat laporan ke pihak berwajib. “Mana ada hukum tentang mistis! Malu juga kalau lapor,” aku Ruben.

Pasal ilmu hitam dan santet sendiri sedang digodok DPR dan pemerintah untuk dimasukkan ke dalam rancangan Revisi Kitab Undang-undang Hukum Pidana.

Lantas, apa yang dilakukan Ruben untuk meredam serangan mistis ke dia dan keluarganya? Daripada waktu habis untuk mencari tahu pelaku teror, Ruben lebih memilih bersikap ikhlas dan fokus melanjutkan kerja kerasnya demi kesejahteraan keluarga.

“Aku ingin mencoba melatih otak berpikir positif. Kalau isi otak kita negatif, hasilnya negatif,” tukas suami Sarwendah Tan ini.

Ruben percaya Tuhan akan melindungi keluarganya. “Aku percaya anak kecil jauh lebih banyak yang melindungi. Berdoa, ikhlaskan saja. Umur kita sudah ada yang mengatur. Percaya saja pada Tuhan. Kalau kata Tuhan ini mesti aku lewati, ya harus aku lewati,” kata Ruben. Sarwendah mengakui ketakutannya, namun senada dengan suaminya, ia berserah kepada Tuhan.

“Tidak ada niat membalas. Kami berdoa saja. Jangan terlalu dipikirkan. Kalau terlalu dipikirkan nanti malah stres,” kata Sarwendah. Sejak mengalami kejadian-kejadian aneh ini, Ruben dan Sarwendah rutin menggelar pengajian dan kebaktian di rumah.

“Selama itu positif, apa pun itu kami lakukan,” ucap Sarwendah sembari menambahkan, tidak terpikir olehnya untuk memasang dan membuat pagar gaib agar terhindar dari gangguan-gangguan mistis. “Kalau kami lakukan itu, artinya kami sama saja dengan mereka,” tukasnya. Mengenai kabar karyawannya terlibat dalam teror, Ruben membantah tegas.

“Justru karyawanku yang banyak diserang. Ada yang dikasih kuntilanak, lalu kedai di Cibubur dilempari kotoran kucing, dan sebagainya. Parah memang. Aku percaya hukum tabur tuai. Apa yang kamu tabur itu yang akan kamu tuai,” ujar Ruben yang saat ini mempekerjakan 3.600 karyawan di bawah PT Onsu Pangan Perkasa. *

Komentar