nusabali

Jadi Pencetus Karya Cipta Desain Wayang Kulit Pancadatu

  • www.nusabali.com-jadi-pencetus-karya-cipta-desain-wayang-kulit-pancadatu

Wayan Kulit Pancadatu hasil karya Jro Dalang Suartana berornamen 5 logam mulia, yang terdiri dari unsur emas, perak, tembaga, besi, dan asa-asa, selain dihiasi 5 permata: mirah, basing, bidura, mirah cempaka, dan safir

Jro Dalang Drs I Gede Suartana, Dalang yang Juga Perajin Perak di Desa Celuk, Kecamatan Sukawati

GIANYAR, NusaBali
Krearivitas memang tidak mengenal batas, seperti yang dicetuskan Jro Dalang Drs I Gede Suartana, 58. Berkat profesinya sebagai perajin perak dan emas, dalang asal Banjar Celuk, Desa Celuk, Kecamatan Sukawati, Gianyar ini berhasil mencetuskan karya cipta desain Wayang Kulit Pancadatu.

Wayan Kulit Pancadatu yang dicetuskan Jro Dalang Suardana sama bentuk dengan wayang Bali umumnya. Namun, kreasinya lebih indah dan menarik. Sebab, ada hiasan logam pancadatu berukir, sehingga terlihat lebih menarik.

Kedua sisi wayang kulit dihias sama persis dengan ornamen logam dan permata pancadatu. Menurut Jro Dalang Suartana, Wayang Kulit Panca-datu ini dilengkapi hiasan dengan logam pancadatu yang depercaya bagus untuk menarik aura kesucian saat nunas tirta wayang.

Sesuai namanya, Wayan Kulit Pancadatu ini berornamen 5 logam mulia, yang terdiri dari unsur emas, perak, tembaga, besi, dan asa-asa (campuran empat logam tadi). Wayang Kulit Pancadatu juga dihiasi 5 permata: mirah (berwarna merah), basing (hitam), bidura (putih), mirah cempaka (kuning), dan safir (berwarna abu-abu).

Jro Dalang Suartana mengatakan, konsep Wayang Kulit Pancadatu ini memiliki kekuatan mistis untuk menarik aura kesucian. "Karena memiliki kekuatan mistis untuk menarik aura kesucian, makanya unsur pancadatu kerap dipakai untuk pedagingan atau ditanam di dasar palinggih," ungkap Jro Dalang Suartana saat ditemui NusaBali di studionya ‘Suar Balinese House’ kawasan Banjar/Desa Celuk, Kecamat-an Sukawati, beberapa waktu lalu.

Disebutkan, Wayang Kulit Pancadatu ini lebih berat dari wayang kulit umumnya, karena berisi tatahan logam pancadatu. Karena itu, Wayang Kulit Pancadatu hanya dipentaskan untuk ‘Wayang Lemah’. “Kalau pentas Wayang Peteng dengan kelir, saya gunakan wayang kulit yang lain,” katanya.

Jro Dalang Suartana sudah mendaftarkan hak cipta hasil karya disain Wayang Kulit Pancadatu ini. Dia mendaftarkannya sebagai Hak Cipta Disain Tetatahan Logam Pancadatu pada Wayang Kulit dan Hak Cipta Disain Bunbunan Jejawanan pada Wayang Kulit ini ke Direktorat Hak Cipta dan Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian HAM.

Jro Dalang Suartana mengisahkan, kecintaannya dengan wayang dan seni pedalangan dipadupadankan dengan aktivitas kesehariannya sebagai perjin perak dan emas di Desa Celuk. Jro Dalang Suartana sendiri sejatinya tidak memiliki latar belakang pendidikan formal tentang pedalangan.

Setamat SLUA I Saraswati Denpasar tahun 1981, dia manjutkan pendidikan ke Fakultas Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta. Selanjutnya, dia menyelesaikan studi di Fisipol Universitas Ngurah Rai Denpasar. Meski demikian, Jro Dalang Suartana sangat concern menekuni dunia pedalangan. "Karena ngewayang itu mengandung unsur 5T: tontonan, tatanan, tuntunan, tantangan, dan tanggung jawab. Maka itu, saya tertarik mendalang," jelas dalang kelahiran 23 Desember 1960 ini.

Ketertarikannya pada seni pedalangan bahkan sudah muncul ketika masih duduk di Kelas III SD tahun 1971. Dia pun mulai belajar mendalang hingga dapat pentas Wayang Peteng (pakai kelir) ketika masih anak-anak. Jro Dalan Suartana cilik, antara lain, mentas di Puri Anyar Singaadu, di Bale Banjar Tangsub, di Pura Desa Celuk, dan di depan rumah almarhum Dalang I Made Anggur---yang merupakan guru mendalangnya.

Setelah tamat SD, kegiatan mendalangnya terhenti karena Jro Dalang Suartana pilih fokus untuk sekolah. Barulah setelah menikah dengan Ni Wayan Mistresni, kembali muncul keinginan untuk mendalang. Selain karena rasa kecintaan terhadap seni pedalangan, dia juga ingin melestarikan seni pewayangan. "Sejak menikah sampai sekarang, saya tak pernah berhenti mendalang,” katanya.

Bahkan, Jro Dalang Suartana berkesempatan mengikuti Festival Wayang Dunia di Nanchong, China, 31 Mei 2014 lalu. Kala itu, dia tampil bersama Dalang I Wayan Tunjung dan Dalang Jennifer dari Amerika Serikat. Kini, pemilik Sanggar Sari Suara Suar ini juga aktif melakoni aktivitas berkesenian sebagai penabuh gender, dalang Wayang Lemah (Wayang Sudamala), dan dalang Wayang Peteng. "Saya sempat mengisi acara pada event Celuk Jewellery Festival, Oktober 2017 lalu," jelas Jro Dalang Suartana.

“Di ajang bergengsi Celuk Jewellery Festival itu, saya mementaskan Wayang Kulit Pancadatu hasil karya ciptaan saya sendrii,” lanjut ayah dua anak lelaki, I Putu Gede Marbawa Suar SH MKn dan I Made Gede Maryana Suar SH ini. *nvi

Komentar