nusabali

Sebelum Perang, Lebih Dulu Mendak Tirta ke Arah Barat dan Timur

  • www.nusabali.com-sebelum-perang-lebih-dulu-mendak-tirta-ke-arah-barat-dan-timur

Versi I Gusti Ketut Gede Yusa Arsana Putra, dulunya tradisi Siat Yeh kerap disebut Meguyon-guyonan dan Bug-bugan, yang dilaksanakan rutin setahun sekali setiap Ngembak Gni atau sehari pasca Nyepi Tahun Baru Saka

Sempat Vakum Selama 35 Tahun, Tradisi Ritual Siat Yeh Kembali Digelar di Desa Pakraman Jimbaran

MANGUPURA, NusaBali
Sempat vakum selama 35 tahun, tradisi ritual Siat Yeh dihidupkan kembali oleh Sekaa Teruna Bhakti Asih, Banjar Teba, Desa Pakraman Jimbaran, Kecamatan Kuta Selatan, Badung. Ritual Siat Yeh ini dilaksakan saat Ngembak Gni Nyepi Tahun Baru Saka 1940 yang bertepatan dengan rahina Banyu Pinaruh pada Radite Paing Sinta, Minggu (18/3) pagi. Sumber air suci yang dipakai sarana Siat Yeh diambil dari arah barat dan timur.

Sesuai namanya, Siat Yeh adalah berperang dengan senjata air. Siat bermakna sebagai berperang melawan segala musuh dalam diri sendiri. Sedangkan yeh merupakan sumber kehidupan. Ritual Siat Yeh ini dilaksanakan di Bale Banjar Teba, Desa Pakraman Jimbaran, Minggu pagi mulai pukul 08.00 Wita, dengan melibatkan ratusan anggota Sekaa Teruna Bhakti Asih dengan disaksikan seluruh krama dari 250 kepala keluarga (KK) di banjar setempat.

Prosesi Siat Yeh diawali dengan ritual mendak tirta (air suci) ke dua arah, yaitu menuju Pantai Segara (arah barat) dan menuju rawa-rawa (arah timur). Ritual pengambilan tirta ini ini dilakukan oleh ratusan muda-mudi anggota Sekaa Teruna Bhakti Asih, Banjar Teba, yang terbagi dalam dua kelompok. Kemudian, tirta dari dua arah itu dibawa ke Bale Banjar Teba dan disatukan untuk digunakan sebagai senjata Siat Yeh.

Ketika kedua kelompok muda-mudi mendak tirta ke arah barat dan arah timur, seluruh karma menunggu di perempatan menuju Bale Banjar Teba. Tepat pukul 10.00 Wita, ratusan muda-mudi yang terbagi dalam dua kelompok kembali dari mendak tirta dan disambut dengan tari-tarian di depan Bale Banjar Teba.

Tak lama berselang, dilakukan penyiraman tirta oleh para panglingsir kepada kedua kelompok muda-mudi yang akan melakukan ritual Siat Yeh. Turut terlibat dalam penyiraman tirta itu adalah Wakil Bupati Badung I Ketut Suiasa dan Camat Kuta Selatan, I Made Widiana. Mereka dilibatkan selaku undangan VVIP.

Ritual Siat Yeh Aksi berupa siram menyiram dimulai setelah dua perempuan paruh baya saling berhadapan, yang masing-masing meletakkan kendi di atas kepala. Kendi berisi tirta dari sumber berbeda tersebut dibenturkan sampai pecah. Kemudian, tirta dari dua sumber berbeda ini bercampur dan dimasukkan dengan gentong. Campuran tirta dari dua sumber inilah yang dipakai sarana untuk Siat Yeh. Ratusan muda mudi beperang dengan riang, sambil menyanyikan tembang-tembang tradisional Bali.

Dalam Siat Yeh tersebut, ada 8 gentong air disiapkan. Semua gentong air itu sudah diisi tirta dari dua seumber berbeda. Cara berperang dalam ritual Siat Yeh dilakukan sedemikian rupa, di mana semua peserta saling siram air menggunakan cedok (gayung) dari tempurung kelapa. Tak ada yang marah karena disiram lawan dengan air. Semua peserta tampak riang gembira.

Ketua Pengarah Panitia Siat Yeh yang notabene prajuru Banjar Teba, Desa Pakraman Jimbaran, I Gusti Ketut Gede Yusa Arsana Putra, mengatakan nama Siat Yeh adalah tajuk baru. Dulunya tradisi ini kerap disebut Meguyon-guyonan dan Bug-bugan, yang dilaksanakan rutin setahun sekali setiap Ngembak Gni atau sehari pasca Nyepi Tahun Baru Saka. Terakhir, tradisi ini dilaksanakan tahun 1983. Sejak saat itu, tradisi ini diabaikan sampai akhirnya kembali dihidupkan Sekaa Teruna Bhakti Asih Banjar Teba, Desa Pakraman Jimbaran saat Ngembak Gni Nyepi Tahun Baru Saka 1940, Minggu kemarin.

Menurut IGK Yusa Arsana, tradisi Siat Yeh yang dihidupkan kembali ini merupakan rekonstruksi budaya yang pernah hilang. "Kegiatan ini dulunya kami lakukan di perempatan dan di pantai. Sempat vakum selama 35 tahun, kegiatan ini dihidupkan dengan momentum panglukatan agung saat Banyu Pinaruh dan Ngembak Gni Nyepi,” jelas Yusa Arsana kepada NusaBali di sela ritual Siat Yeh di Banjar Teba, Minggu kemarin.

Yusa Arsana mengatakan, tradisi ritual Siat Yeh ini nantinya akan digelar rutin setahun sekali. Kemungkinan besar nanti digelar rutin saat Ngembak Gni Nyepi Tahun Baru Saka. Sedangkan momentum pertama menghidupkan kembali Siat Yeh dilakukan saat Ngembak Gni dan Panyu Pinaruh, Minggu kemarin, yang kebetulan jatuh pada hari yang sama.

"Momentum pertama kami lakukan hari ini (kemarin), saat Ngembak Gni Nyepi nemu Banyi Pinaruh, yang terjadi 156 tahun sekali. Kalau menunggu 156 tahun lagi, mungkin generasi kita tidak mengingatnya lagi. Bisa saja 156 tahun mendatang akan menjadi sebuah perayaan yang sangat besar," tandas Yusa Arsana.

Menurut Yusa Arsana, inisiatif awal menghidupkan kembali tradisi ritual Siat Yeh di Banjar Teba, Desa Pakraman Jimbaran ini muncul dari Sekaa TerunaBhakti Asih. Mereka ingin membuat sebuah ikon yang bisa diwariskan dari generaoi ke generasi. *p

Komentar