nusabali

Gerhana Bulan Total Perigi Tak Bisa Diamati dari Bali

  • www.nusabali.com-gerhana-bulan-total-perigi-tak-bisa-diamati-dari-bali

Fenomena alam langka gerhana bulan total perigi (super blue blood moon) tak bisa diamati dari Bali.

MANGUPURA, NusaBali

Pihak Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Wilayah III Denpasar saat melakukan pengamatan peristiwa alam fenomenal yang hanya terjadi 152 tahun sekali itu tak bisa mengamati karena tertutup awan. BBMKG menggunakan teropong teleskop hilal atau teleskop vixen.

Kasubid Pelayanan BBMKG Wilayah III Denpasar Decky Irmawan dikonfirmasi saat melakukan pengamatan di kantor BBMKG di Tuban, Kecamatan Kuta, kemarin malam mengungkapakan kejadian gerhana bulan total ini tak teramati karena tertutup awan pada ketinggian 14.230 meter.  Decky menjelaskan melihat perkembangan terakhir jika dilihat dari citra satelit pada pukul 20.10 Wita kondisi perawanannya sangat pekat. Citra ini menggambarkan kondisi temperatur. Semakin tinggi temperaturnya makin minus. Pada pukul 20.10 Wita warna awan pink melon dan temperaturnya -67.

“Temperatur ini jika dikonversikan dengan ketinggian kira-kira awan itu setinggi 14.230 meter. Jadi awannya cukup tinggi. Semakin tinggi awannya tingkat kepekatannya juga tinggi. Itulah yang membuat gerhana bulan total perigi tak bisa dilihat dari Bali,” ujarnya.

Meski tak dapat dilihat dari Bali, namun Kepala Subbidang Pengumpulan dan Penyebaran BBMKG Wilayah III Denpasar Ardhianto Septiadhi mengaku peristiwa gerhana bulan total itu terjadi sejak pukul 21.51 Wita. Kejadian itu diyakinkan berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan di empat wilayah lainnya di Indonesia.

“Gerhana bulan total perigi malam ini (kemarin) mulai terjadi sejak pukul 19.00 Wita. Gerhana bulan sebagiannya terjadi pukul 19.48 Wita. Gerhana bulan totalnya terjadi pada pukul 20.51 Wita dan berakhir pada pukul 22.07 Wita.  Itu sesuai dengan hasil pengamatan di empat wilayah lainnya yakni Jayapura, Jakarta, Bengkulu, dan Aceh. Dari keempat wilayah ini semua proses gerhananya dapat diamati dengan jelas,” ungkapnya.

Septiadhi menjelaskan gerhana bulan total kali ini adalah gerhana perigi. Perigi adalah lawan dari apigi yakni jarak bulan terdekat dengan bumi. Hal ini menyebabkan bulannya kelihatan lebih besar atau super 14 persen lebih besar dari biasanya, dan intensitas cahayanya 30-40 persen lebih besar dibanding biasanya. “Disebut super blood karena dalam sebulan ini terdapat dua kali bulan purnama yakni 2 Januari dan 31 Januari. Fenomena blood moon karena ini adalah gerhana bulan total. Cahaya matahari harusnya sampai ke bulan, namun tertutup oleh bumi. Hal ini terjadi karena matahari, bumi, dan bulan berada dalam satu lintasan. Warna merah yang terjadi karena di seluruh bumi diliputi atmosfer. Intensitas cahaya matahari warna merah sangat kuat. Dipantulkan oleh atmosefer sehingga seolah-olah berwarna merah. Jadi fenomena hari ini disebut super blue blood moon,” ujarnya. *p

Komentar