nusabali

Guru Dalam Kenangan

  • www.nusabali.com-guru-dalam-kenangan

Di antara Masa Lalu dan Masa Kini

Bahagiakah dan banggakah menjadi guru saat itu? Bagi saya dan cerita-cerita teman sejawat profesi guru saat itu sangat membahagiakan karena kebahagian kita bukan diukur dengan materi / penghasilan tetapi jika para siswa yang kita didik menjadi orang-orang yang sukses dan mereka masih ingat dan mau bertegur sapa dengan kita. Kesederhanaan itulah yang menyebabkan guru-guru bahagia dan mencintai profesinya. Apalagi jika setiap upacara bendera hari Senin, Hari Guru Nasional, dan hari-hari besar Nasioanal lainnya dikumandangkan lagu “Hymne Guru” gubahan Bapak Sartono, seperti berikut ini.

Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
Sebagai prasasti terima kasihku
Tuk pengabdianmu

Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
Engkau patriot pahlawan bangsa
Tanpa tanda jasa

Pada hari itu lagu “Hymne Guru”  tersebut seakan memberi gambaran bagaimana peran penting guru dalam mendidik dan mencerdaskan anak bangsa. Lagu yang melekat pada setiap anak Indonesia sedari kecil itu. Lirik terakhir dari Hymne Guru, yakni 'tanpa tanda jasa', bahkan menjadi julukan bagi guru yang mengajar tanpa pamrih. Guru-guru merasa terharu karena bahagia mendengar syair-syair lagu itu berkumandang. 

Tidaklah heran jika bertemu dengan para pensiunan PNS yang masih terlihat sehat dan bugar, mereka itu adalah orang yang dahulunya berprofesi sebagai guru. Seperti dalam perjalanan pagi saya hari ini (Minggu, 28 Januari 2018), saya bertemu dengan mantan guru saya ketika SD, Bapak Swijaya dari Desa Jungutan yang masih terlihat segar dan bugar. Hanya rambutnya yang terlihat memutih dan menghilang.

Apakah yang menyebabkan guru-guru masa lalu masih sehat dan terlihat awet ketika sudah purna tugas? Penyebabnya mungkin karena: 1) Mencintai profesinya/pekerjaannya. 2) Tidak banyak hal-hal yang bersifat administratif yang menuntutnya. 3) Merasa bahagia ketika mantan anak didiknya menjadi orang-orang yang berhasil. 4) Mereka dapat bekerja dengan tenang tanpa adanya tekanan dari pihak manapun atau mutasi-mutasi aneh yang menghantuinya ketika bertugas.  5) Rasa bersyukur, walaupun penghasilan yang diperoleh kecil, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga saat itu karena tidak banyak tuntutan seperti sekarang. 6) Tersedianya waktu yang cukup untuk istirahat, berkumpul dengan keluarga, atau sekadar mencari hiburan.

Lalu, bagaimana dengan guru sisa masa lalu yang masih bertugas seperti sekarang ini? Kelompok guru-guru ini dikatakan sebagai Golden Generation, yaitu generasi yang paling beruntung karena generasi ini yang mengalami loncatan teknologi yang begitu mengejutkan di abad ini dengan kondisi prima. Hal itu disebabkan karena hal-hal berikut: 
1) Kita dulu memakai lampu petromax atau lampu minyak, sekaligus dapat juga menikmati era Lampu Bohlam, TL, hingga LED.  

2) Kitalah generasi terakhir yang pernah  menikmati riuhnya suara mesin ketik, saat ini jari kita dituntut lincah menikmati keyboard dari Laptop kita. 

3) Kitalah generasi terakhir yang merekam lagu dari radio dengan tape recorder kita (kadang pitanya mbulet), sekaligus kita juga menikmati mudahnya men-download lagu dari gadget. 

4) Kitalah generasi dengan masa kecil bertubuh lebih sehat dari anak masa kini, karena lompat tali, loncat tinggi, petak umpet, gobak sodor, main kelereng, main karetan, sumpit-sumpitan, galasin dan layangan adalah permainan yang tiap hari akrab dengan kita , sekaligus saat ini mata dan jari kita tetap lincah memainkan berbagai game di gadget. 

5) Di masa remaja, kitalah generasi terakhir yg pernah mempunyai kelompok/geng yang tanpa janji, tanpa telpon/SMS,  tetapi selalu bisa kumpul bersama menikmati malam Minggu sampai pagi  karena kita adalah generasi yang berjanji cukup dengan hati. 

6) Kalau dulu kita harus bertemu untuk tertawa terbahak bahak bersama, kini kita lebih sering bisa ber- "'wkwkwkwk" di grup facebook WhatsApp, atau lainnya.  

7) Kitalah generasi terakhir yang pernah menikmati lancarnya jalan raya tanpa macet dimana-mana, juga bersepeda jengki atau onthel / motor sambil menikmati segarnya udara/angin di jalan raya tanpa helm di kepala. 

8) Kitalah generasi terakhir yg pernah menikmati jalan kaki berkilo meter tanpa perlu berpikir ada penculik/rampok  yang membayangi kita. 

9) Kitalah generasi terakhir yang pernah merasakan nikmatnya nonton TV (cuman hitam putih layarnya) dengan senang hati tanpa diganggu remote untuk pindah-pindah chanel. 

10) Kita adalah generasi yang selalu berdebar-debar menunggu hasil cuci-cetak foto, seperti apa hasil jepretan kita dan selalu menghargai dan berhati-hati dalam mengambil  foto dan tidak menghambur hamburkan jepretan dan mendelete-nya jika ada hasil muka yang jelek, dengan rasa ihklas apapun tampang kita di dalam foto itu tanpa ada editan Camera 360 Photoshop atau Beauty Face. 

11) Kitalah generasi terakhir yang pernah begitu mengharapkan datangnya “Pak Pos”  menyampaikan surat dari sahabat dan kekasih hati. 

Kita mungkin bukan generasi terbaik. Tetapi, kita adalah generasi yang limited edition, walaupun ada juga di antara kita yang masih tercecer oleh pesatnya perkembangan IT. Kita adalah generasi yang patuh dan takut kepada orang tua (meskipun kadang sembunyi-sembunyi nakal dan melawan) tapi kita mau mendengar dan komunikatif terhadap anak atau cucu. Itulah kita yang selalu bersyukur atas nikmat yang telah kita terima. 

Apakah Anda di generasi itu...???


Penulis : I Wayan Kerti



*. Tulisan dalam kategori OPINI adalah tulisan warga Net. Semua karya tulis yang dibuat adalah sepenuhnya tanggung jawab dari penulis.

Komentar