nusabali

Benarkah Bali Kian Hambar?

  • www.nusabali.com-benarkah-bali-kian-hambar

Orang Bali sangat bangga diajak ngomongin taksu, seakan tak ada yang lebih hebat dibanding taksu di muka bumi ini.

Aryantha Soethama
Pengarang

Jika Bali punya taksu, itu pertanda Bali paling keren, paling top. Mereka akan berujar, berkat taksu Bali tersohor ke seluruh dunia, yang menyebabkan ia dikunjungi bangsa seantero jagat. Jika taksu itu melorot, Bali pun pudar, pasti dilupakan. Karena itu, jaga dan rawatlah taksu Bali.

Taksu itu, oleh orang Bali, dinilai sebuah misteri. Ada, tapi susah dijelaskan. Ada yang menyebut taksu itu sebagai wibawa, banyak juga yang menyebut sebagai kekuatan batin (inner power). Di setiap merajan tempat persembahyangan keluarga, pasti ada palinggih taksu. Para pregina, penggiat seni, memohon kekuatan wibawa di palinggih taksu itu, agar ketika tampil bisa membuat penonton tercengang, berdecak kagum, dan terus mengenangnya.

Seorang pregina bertaksu pasti tampil di panggung penuh wibawa. Seorang penari legong, pregina arja, berkat taksu yang dimiliki, tampil tak sekadar cantik, gemulai, dan mempesona; tapi juga menyentak dan mencuri batin penonton. Ia punya kekuatan yang memancar, pesona asli yang meletup, kekuatan yang sanggup meruyak ke setiap sudut panggung, namun sulit dijelaskan bagaimana kekuatan itu ada. Bisa jadi karena kerling matanya, geleng bahu, gerakan kepala, goyang pinggul, hentakan kaki, liukan tubuh, gerakan bahu – atau gabungan semua itu, menjadi bahasa tubuh yang menggetarkan.

Orang Bali pun sangat yakin, siapa saja yang sering tampil di depan publik, politisi, guru, juru kampanye, harus punya taksu. Yang pertama harus direbut oleh seseorang adalah taksu, agar ia bisa tampil menghipnotis audiens.

Karena Bali memuja taksu, pulau ini pun jadi berwibawa. Wibawa itu dipancarkan oleh para senimannya yang tiada henti menanam taksu dalam diri mereka. Tapi banyak orang mempertanyakan, mengapa taksu Bali tidak lagi sekuat dulu. Sebelum 1980-an banyak orang merasakan taksu Bali lebih berbinar. Orang-orang kemudian menjelaskan, karena zaman sudah berubah, taksu pun bergeser. Mereka mencontohkan kehidupan sehari-hari di Bali yang memang mulai kehilangan wibawa.

Dulu, hari raya sangat terasa kehadirannya. Odalan terasa lebih khusuk, lebih sederhana. Seni pertunjukan di pura ketika odalan tanpa penerangan listrik, namun lebih berwibawa. Pakaian pregina kini sangat meriah, namun tak cukup bertaksu. Fashionable memang, namun tak cukup berwibawa. Pengantin dalam pesta pernikahan sekarang mengenakan fashion mentereng, namun tidak bertaksu.

Bagaimana menjelaskan keadaan ini? Ada yang berpendapat, hari raya di zaman dulu adalah saat makan mewah, sehingga menjadi peristiwa luar biasa. Sekarang makan lawar menjadi santapan sehari-hari, menjadi hal biasa. Dulu hanya kalangan bangsawan (nak menak) yang mengenakan pakaian meriah ketika menikah, sekarang siapa pun bisa, asal punya cukup uang. Dulu hanya ketika Galungan penjor berjajar dipasang di depan rumah, menjadi pemandangan unik dan mengesankan. Kini ada hajatan politik, penjor berjajar menjelang hotel tempat acara digelar. Sekarang upacara kian sering terjadi, upacara adat dan bukan adat, dan penjor-penjor lazim ditancapkan. Penjor pun kemudian menjadi sesuatu yang biasa. Agar tidak biasa, penjor dibuat sangat meriah. Karena kemeriahan itu berulang-ulang, semeriah apa pun penjor dibuat, menjadi biasa juga akhirnya. Karena terlalu sering, sesuatu itu menjadi biasa, semakin sering, menjadi hambar. Ibarat pasangan yang hidup bersama sekian lama: gamang dan kehilangan kesan.

Banyak hal yang terjadi akibat kemajuan zaman membuat taksu Bali memudar. Seni kemasan misalnya, menjadikan orang tak terlalu peduli pada kualitas. Dulu orang menonton prembon atau arja dengan persiapan batin, bersua penari idola. Seni pertunjukan kemudian dikemas, durasi dipersingkat, agar bisa ditonton turis dan disaksikan di televisi. Seni kriya dikemas menjadi barang industri, jadi biasa, hambar. Taksu pun memudar.

Dulu, untuk bertemu sulinggih, memohon hari baik melangsungkan pernikahan, harus datang langsung. Sekarang orang-orang leluasa menghubungi sulinggih lewat telepon genggam, meminta hari untuk bertemu. Ini mirip dengan pasien yang menelepon tempat praktik dokter untuk mendapat nomor antre periksa kesehatan.

Banyak hal yang dulu sakral di Bali, kini menjadi profan. Yang sakral dan duniawi sudah biasa campur aduk, sehingga wibawa pun redup. Para orang tua, kakek-nenek, yang gagap teknologi, meminta bantuan anak-cucu mereka. Anak-anak akan berkomentar, “Ah, segini saja nggak tahu, huuu...!” Ini melecehkan, dan membuat taksu para orangtua melorot.

Seperti itulah Bali kini, wibawa yang dulu mencorong kian surut. Acap kali orang-orang berkeluh kesah tentang tempat-tempat suci yang diubah menjadi tempat wisata, sehingga tempat-tempat itu menjadi campah. Bahasa Bali campah berarti guyu, tidak berwibawa, remeh, gampangan, mudah dijadikan bahan olok-olok.

Pasti tak semua sependapat wibawa Bali kini semakin hambar, kian kehilangan taksu. Tapi, jika kita menoleh sekeliling, cermat mengamati sekitar, ada benarnya pendapat tentang taksu Bali yang semakin pudar. Bukankah jika tindak kekerasan semakin sering, peredaran narkoba kian meruyak, itu terjadi di bumi yang kehilangan wibawa? *

Komentar