Kajian Kisah Ramayana Tiga Bahasa Antar Akademisi IMK Raih Penghargaan Dunia
SINGARAJA,NusaBali.com-Kajian tentang persepsi guru widyalaya di Bali terhadap pembelajaran Hindu yang terintegrasi kisah Ramayana dengan sentuhan teknologi tiga bahasa (Indonesia, inggris dan Thailand), menghantarkan akademisi Institut Mpu Kuturan (IMK) Singaraja, meraih penghargaan dunia. Dr I Made Bagus Andi Purnomo, MPd, meraih penghargaan presenter terbaik pada Konferensi Internasional Pendidikan dan Teknologi di Delhi University, India akhir Januari lalu.
Penghargaan tersebut diberikan setelah komite konferensi menilai penelitian yang dipresentasikan memiliki kontribusi signifikan terhadap pengembangan pembelajaran berbasis teknologi, sekaligus mampu mengaitkan nilai-nilai dharma dengan konteks pembelajaran kontemporer.
Dikonfirmasi Rabu (4/2/2026), Bagus Purnomo menjelaskan, riset yang disampaikan berfokus pada bagaimana guru widyalaya memandang efektivitas pembelajaran Hindu yang dikemas melalui kisah Ramayana dengan dukungan teknologi Augmented Reality (AR) multibahasa.
Menurutnya, pendekatan tersebut dinilai mampu memperkuat pemahaman nilai ajaran Hindu sekaligus meningkatkan minat belajar peserta didik di tengah perkembangan teknologi digital.
Komite konferensi menilai integrasi kisah Ramayana dengan teknologi pendidikan modern yang diterapkan pada widyalaya, menjadi keunikan sekaligus kekuatan utama penelitian tersebut.
“Widyalaya dipandang menarik karena tidak hanya menonjolkan pendidikan Hindu, tetapi juga mampu beradaptasi dengan teknologi pembelajaran modern secara terintegrasi,” ujar Bagus Andi.
Bagus Purnomo menambahkan, penghargaan tersebut menjadi momentum untuk memperkenalkan pendidikan Hindu di Bali, khususnya widyalaya dan pasraman, ke tingkat internasional. Ia menyebutkan, sejumlah peneliti dari berbagai negara, khususnya India, menunjukkan ketertarikan terhadap perkembangan pendidikan Hindu di Indonesia.
Ia juga menyinggung kedekatan historis Indonesia dan India dalam bidang pendidikan. India memiliki sistem gurukula, sementara Nusantara mengenal sistem kedewaguruan atau pasraman. Menurutnya, widyalaya kini menjadi titik temu antara tradisi pendidikan Hindu dan sistem pendidikan modern.
Ke depan, ia berharap terjalin kolaborasi riset lintas negara untuk mengembangkan pendidikan Hindu berbasis teknologi, tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di tingkat global.* lik
Komentar