Menyambut Seabad Pariwisata Berbasis Budaya
SERATUS tahun lalu, Bali memulai perjumpaan panjangnya dengan dunia. Bukan melalui brosur wisata atau industri pariwisata massal, melainkan lewat pertemuan budaya yang jujur dan bermartabat.
Dari Ubud, Bali pertama kali “berbicara” kepada dunia melalui seni, ritual, spiritualitas, dan kearifan lokal. Cara inilah yang membentuk citra Bali hingga dikenal dan dicintai seperti hari ini.
Tahun 1927 kerap disebut sebagai titik penting dalam perjalanan tersebut. Pada tahun itulah dua tokoh dunia, Rabindranath Tagore dan Walter Spies, menjejakkan kaki di Ubud dan mengalami Bali bukan sekadar sebagai tempat singgah, melainkan sebagai sebuah peradaban hidup. Pengalaman mereka kemudian ikut menggaungkan Bali ke pentas dunia sebagai pulau seni dan spiritualitas.
Seratus tahun setelah perjumpaan awal itu, Bali bersiap menandai tonggak sejarah pariwisatanya melalui peringatan “100 Tahun Pariwisata Bali” dengan tema Dari Ubud – Bali untuk Dunia. Peristiwa ini dirancang bukan sebagai perayaan semata, melainkan ruang refleksi kolektif untuk menengok perjalanan masa lalu, membaca realitas masa kini, dan merumuskan arah masa depan pariwisata Bali yang berkelanjutan serta berakar kuat pada budaya.
Rangkaian kegiatan peringatan ini akan mengajak publik menelusuri kembali suasana Ubud pada era 1920-an, ketika Bali mulai dikenal dunia melalui dialog budaya yang setara. Kisah kedatangan Rabindranath Tagore dan pengalamannya menyaksikan pelebon agung, peran Cokorda Gede Raka Sukawati sebagai jembatan budaya, serta kehadiran Walter Spies yang turut membangun ekosistem seni Ubud akan dihadirkan melalui instalasi visual, arsip audio, pameran seni, hingga penggambaran ulang suasana Ubud pada masa itu.
Selain menghadirkan memori awal, peringatan ini juga menampilkan bagaimana Bali kemudian menyapa dunia melalui seni pertunjukan, seni rupa, sastra, serta ritual dan filosofi hidup masyarakatnya. Seniman, penulis, dan para pelancong awal diposisikan sebagai duta budaya yang memperkenalkan Bali bukan lewat promosi agresif, melainkan melalui pengalaman personal dan kekaguman yang tulus. Berbagai pertunjukan kolaboratif lintas generasi dan lintas negara, pemutaran film dokumenter klasik, serta pameran pengaruh Bali dalam seni dunia direncanakan menjadi bagian dari perayaan tersebut.
Namun perjalanan satu abad pariwisata Bali tidak hanya dipenuhi romantisme. Perubahan zaman membawa pariwisata memasuki fase baru dengan berbagai tantangan. Pariwisata massal, perubahan ruang dan lingkungan, serta pergeseran makna pariwisata bagi masyarakat lokal menjadi bagian dari realitas yang tak terpisahkan. Dalam peringatan ini, ruang refleksi kritis akan dibuka melalui instalasi tematik, forum dialog publik, serta cerita-cerita warga dan pelaku pariwisata yang mengalami langsung perubahan tersebut.
Peringatan seabad pariwisata Bali juga diarahkan untuk menatap masa depan. Gagasan tentang pariwisata berbasis desa adat, penguatan ekonomi kreatif lokal, pengembangan pariwisata spiritual, budaya, dan alam yang berkelanjutan, serta peran generasi muda Bali akan menjadi bagian penting dari diskusi dan pameran visi ke depan. Laboratorium ide, ruang inovasi, hingga deklarasi bersama tentang pariwisata Bali berbasis budaya dirancang sebagai bentuk komitmen bersama.
Tagline Dari Ubud – Bali untuk Dunia layak bukan tanpa makna. Ubud diposisikan sebagai simbol awal, Bali sebagai identitas, dan dunia sebagai ruang dialog. Pesan yang ingin disampaikan sederhana namun mendasar: budaya adalah fondasi, spiritualitas adalah jiwa, pariwisata adalah dialog, dan keberlanjutan adalah tanggung jawab bersama.
Seratus tahun pariwisata Bali, dengan demikian, tidak sekadar menandai usia. Ia menjadi momen bercermin, sekaligus momentum menyerahkan estafet nilai dari generasi perintis kepada generasi pewaris. Melalui peringatan ini, Bali mengajak pemerintah, masyarakat adat, pelaku pariwisata, seniman, dan generasi muda untuk bersama-sama merawat pariwisata yang tidak tercerabut dari akar budaya, sekaligus tetap terbuka menyambut dunia.7
Komentar