Dari Dapur Ibu, Cerita Rasa Pangan Lokal Bali–Nusa Tenggara Menggema
DENPASAR, NusaBali.com — Warisan kuliner Bali dan Nusa Tenggara yang tumbuh dari kedekatan masyarakat dengan alam kini diangkat melalui kompetisi memasak pangan lokal bertajuk “Cerita Rasa”. Program ini digagas Amartha sebagai upaya merawat pangan lokal sekaligus memperkuat peran ibu-ibu pelaku UMKM dalam perekonomian daerah.
Di Bali dan Nusa Tenggara, tradisi memasak telah lama berkembang dari dapur rumah tangga dengan memanfaatkan teknologi pangan sederhana berbasis alam. Lesung dan alu untuk menumbuk bumbu, bambu sebagai alat memasak, hingga teknik pengasapan menjadi bagian dari pengetahuan lokal yang diwariskan lintas generasi. Di Bali, sistem Subak juga berperan penting menjaga keberlanjutan pangan melalui pengelolaan air dan pertanian secara kolektif.
Chief Risk and Sustainability Officer Amartha, Aria Widyanto, mengatakan pangan lokal bukan sekadar bahan masakan, melainkan bagian dari kehidupan masyarakat. Menurutnya, dari dapur rumah, para ibu menjaga tradisi yang menemani tumbuh kembang anak dan menjadi kenangan keluarga.
“Pangan lokal bukan sekadar bahan masakan, tetapi bagian dari kehidupan. Dari dapur, para ibu terus menjaga tradisi untuk menghadirkan masakan rumahan yang bermakna. Lewat program Cerita Rasa, Amartha ingin memastikan pangan lokal tetap menjadi bagian dari kehidupan, penghidupan, dan harapan bagi keluarga serta komunitas,” ujar Aria, Sabtu (24/1/2026).
Ia menambahkan, kompetisi ini juga membawa pesan tentang ketahanan dan keberlanjutan pangan lokal di tengah perubahan alam dan zaman. Para ibu UMKM dinilai mampu mengolah bahan yang tersedia, mulai dari rempah, umbi-umbian, jagung, hingga hasil laut, menjadi hidangan yang menopang kebutuhan keluarga dan komunitas sekitar.
Kompetisi Cerita Rasa melibatkan lebih dari 1.000 Ibu Mitra UMKM di berbagai daerah dan menghasilkan 75 cerita rasa dari dapur rumah tangga. Para peserta diseleksi untuk berkompetisi di tingkat regional melalui penilaian teknik memasak dan pemahaman pangan lokal, sebelum mewakili provinsi ke tingkat nasional di Jakarta pada Februari mendatang.
Pada tahap regional Bali–Nusa Tenggara, kompetisi ini mempertemukan lima kelompok Ibu Mitra UMKM dari berbagai wilayah. Masing-masing kelompok menyajikan masakan berbahan pangan lokal yang mengangkat cerita, tradisi, dan kekayaan kuliner daerah asalnya. Seluruh proses dan kisah di balik kompetisi ini turut ditayangkan melalui kanal YouTube Amartha.
Salah satu peserta asal Gianyar, Alda Aries, mengaku bangga dapat berpartisipasi dalam ajang tersebut. “Kami sangat senang dan bangga bisa mewakili daerah masing-masing. Sebagai ibu yang sehari-hari dekat dengan dapur dan pangan lokal, ajang ini memberi ruang bahwa masakan rumahan juga punya nilai dan cerita,” ujarnya, Sabtu (24/1/2026).
Puncak kompetisi Cerita Rasa dijadwalkan berlangsung di Jakarta dalam rangkaian peluncuran Amartha Prosper. Para finalis akan berkompetisi di hadapan juri utama dan calon investor. Skema ini tidak hanya menampilkan kemampuan kuliner Ibu Mitra, tetapi juga memperkuat narasi pangan lokal, pemberdayaan ekonomi perempuan, serta konektivitas UMKM akar rumput dengan ekosistem investasi berkelanjutan.
Amartha Prosper sendiri merupakan platform investasi berkelanjutan yang menghubungkan masyarakat dengan pembiayaan UMKM perempuan di ekonomi akar rumput. Melalui platform ini, investasi diharapkan tidak hanya memberikan imbal hasil, tetapi juga dampak langsung bagi usaha ibu-ibu di desa, penguatan ekonomi keluarga, dan keberlanjutan komunitas.
“Berangkat dari dapur-dapur sederhana para ibu, Amartha membuka akses layanan keuangan yang inklusif agar tradisi pangan lokal tidak hanya hadir di meja makan, tetapi juga menjadi sumber penghidupan,” kata Aria.
Hingga 2025, Amartha tercatat telah menyalurkan lebih dari Rp37 triliun modal usaha kepada 3,7 juta UMKM perempuan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Bali dan Nusa Tenggara, sebagai bagian dari upaya memperkuat kewirausahaan mikro dan mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.
Komentar