nusabali

Bali Tangguh Hadapi Bencana, Ekonomi Tetap Tumbuh di Atas Nasional

  • www.nusabali.com-bali-tangguh-hadapi-bencana-ekonomi-tetap-tumbuh-di-atas-nasional

DENPASAR, NusaBali.com — Bencana alam yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Sumatra, tidak berdampak langsung terhadap perekonomian Bali. Struktur ekonomi Pulau Dewata dinilai cukup adaptif sehingga gangguan dari bencana di luar daerah umumnya tidak menjadi sumber risiko utama bagi aktivitas ekonomi Bali.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Bali, R Erwin Soriadimadja, mengatakan berdasarkan data historis, dampak bencana terhadap perekonomian Bali cenderung bersifat sementara. Dengan respons cepat dari pemerintah daerah dan sektor terkait, pemulihan ekonomi dapat berlangsung relatif cepat.

“Gangguan akibat bencana alam di Bali biasanya bersifat sementara. Dengan respons yang cepat, pemulihan ekonomi dapat berjalan relatif cepat sehingga pertumbuhan tetap terjaga,” ujar Erwin, Sabtu (24/1/2026).

Meski bencana di luar Bali tidak berdampak signifikan, Erwin mengingatkan bahwa bencana yang terjadi secara lokal di Bali tetap berpotensi memengaruhi aktivitas masyarakat, termasuk persepsi dan kenyamanan wisatawan. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa ekonomi Bali mampu beradaptasi dengan baik.

Sepanjang tahun 2025, sejumlah kejadian bencana sempat menimbulkan gangguan terhadap aktivitas ekonomi, namun tidak sampai menggerus momentum pertumbuhan. Salah satunya adalah Erupsi Gunung Lewotobi di Nusa Tenggara Timur pada Juni–Juli 2025 yang sempat berdampak pada gangguan penerbangan internasional menuju Bali. Selain itu, beberapa wilayah di Bali juga mengalami banjir pada September 2025.

“Tapi kinerja ekonomi Bali tetap solid,” tegasnya.

Ketangguhan tersebut tercermin dari capaian pertumbuhan ekonomi Bali. Pada Triwulan II 2025, ekonomi Bali tumbuh 5,95 persen (year on year/yoy), disusul Triwulan III 2025 sebesar 5,88 persen (yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional yang masing-masing berada di 5,12 persen dan 5,04 persen.

Menurut Erwin, capaian tersebut menunjukkan bahwa dampak bencana dapat diredam oleh faktor pendorong ekonomi yang tetap kuat, terutama dari sektor pariwisata, konsumsi rumah tangga, serta aktivitas investasi dan konstruksi. Dengan kondisi tersebut, pertumbuhan ekonomi Bali pada 2025 diperkirakan tetap berada pada kisaran atas, yakni 5,0 hingga 5,8 persen.

Memasuki 2026, perekonomian Bali diproyeksikan tumbuh lebih tinggi di kisaran 5,4 hingga 6,2 persen, serta tetap berada di atas laju pertumbuhan ekonomi nasional. Sementara itu, inflasi diperkirakan tetap terkendali dalam sasaran 2,5 persen ±1 persen.

Prospek positif ini ditopang oleh berlanjutnya kinerja sektor pariwisata, sektor pertanian yang diperkirakan mendapat dukungan kondisi cuaca lebih kondusif, serta peningkatan investasi seiring pembangunan infrastruktur dan aktivitas konstruksi yang terus berjalan.

“Struktur ekonomi yang adaptif serta respons cepat dari pemerintah dan pelaku usaha menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas pertumbuhan,” imbuh Erwin.

Saat ini, perekonomian Bali masih sangat ditopang sektor pariwisata dengan pangsa mencapai 40,38 persen, disusul sektor pertanian 13,41 persen dan konstruksi 9,24 persen. Ketiga sektor tersebut sangat bergantung pada kelancaran arus manusia, barang, dan jasa, termasuk konektivitas penerbangan dan jaringan distribusi nasional.

Dengan struktur ekonomi yang semakin adaptif dan kolaborasi lintas sektor yang kuat, Bali dinilai memiliki ketahanan yang memadai dalam menghadapi risiko bencana, tanpa harus mengorbankan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi daerah. *may

Komentar