Harga Perak Dunia Melonjak, Pengusaha Kerajinan Bali Terapkan Sistem DP
DENPASAR, NusaBali.com — Kenaikan tajam harga perak di pasar dunia mulai berdampak langsung terhadap industri kerajinan perak di Bali. Para pengusaha kini terpaksa menerapkan sistem pembayaran uang muka atau down payment (DP) sebelum produksi untuk mengantisipasi fluktuasi harga bahan baku yang semakin tidak menentu.
Ketua Asosiasi Eksporter dan Produsen Handicraft Indonesia (Asephi) Bali, Ketut Dharma Siadja, Jumat (23/1/2026), mengatakan harga perak saat ini sangat fluktuatif dan bisa mengalami kenaikan signifikan dalam waktu singkat, bahkan hanya dalam hitungan jam.
“Semalam bisa naik lima sampai enam persen, besoknya bisa naik lagi. Jadi kalau hari ini terima order tapi belum ada DP, besok harga bahan baku sudah berbeda. Kita bisa langsung rugi,” ujarnya.
Sejak awal 2025, harga perak di pasar global memang mengalami lonjakan tajam. Pada awal 2025, harga perak masih berada di kisaran USD 28 per ounce, namun dalam kurun 13 bulan terakhir melonjak lebih dari 200 persen. Pada 12 Januari 2026, harga perak bahkan menembus rekor tertinggi di atas USD 88 per ounce.
Dampak kenaikan global tersebut juga terasa di pasar domestik. Pada akhir 2025, harga perak batangan di Indonesia tercatat berada di kisaran Rp30.000 hingga lebih dari Rp36.000 per gram, mencerminkan kuatnya pengaruh pasar internasional terhadap harga lokal.
Dharma Siadja menjelaskan, harga perak dan emas sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar dunia dan dipengaruhi berbagai faktor global, seperti ketegangan geopolitik, kebijakan tarif, serta ketidakpastian ekonomi internasional. Kondisi ini turut memengaruhi minat pembeli luar negeri terhadap produk kerajinan perak Bali.
“Sejumlah buyer dari Amerika dan Eropa mulai menahan order karena khawatir harga produk jadi semakin mahal. Kalau bahan baku naik, otomatis harga perhiasan ikut naik. Ini membuat pembeli berpikir ulang,” katanya.
Akibat situasi tersebut, pengusaha kerajinan perak kini tidak lagi berani memproduksi barang tanpa kepastian dana awal. Setiap pesanan harus disertai DP agar bahan baku bisa segera dibeli sesuai harga pada hari transaksi.
“Sekarang begitu DP masuk, langsung kami belikan bahan. Kalau tidak ada DP, kami tidak berani mulai kerja,” tegasnya.
Bahan baku perak untuk industri kerajinan Bali umumnya dipasok dari dalam negeri, terutama dari Jawa. Namun demikian, harga tetap mengikuti perkembangan pasar internasional. Kerajinan perak, khususnya perhiasan, selama ini menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Bali.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produk perhiasan dan kerajinan logam mulia rutin diekspor ke pasar Amerika Serikat dan Eropa. Data BPS Bali periode Januari–November 2025 mencatat, logam mulia dan perhiasan/permata menjadi komoditas ekspor terbesar kedua Bali dengan nilai USD 57,03 juta. Meski demikian, pada periode tersebut komoditas ini mengalami penurunan cukup signifikan sebesar -24,92 persen (ctc).
Dengan kondisi harga yang masih bergejolak, pelaku usaha memilih bersikap hati-hati sambil menunggu perkembangan pasar global. “Sekarang kami hanya bisa wait and see. Kalau ada order dan DP jelas, baru jalan. Kalau tidak, kami tahan dulu,” ujarnya.
Ia berharap stabilitas harga komoditas logam mulia segera membaik agar aktivitas produksi dan ekspor kerajinan perak Bali kembali normal dan tidak mengganggu keberlangsungan usaha para perajin. *may
“Semalam bisa naik lima sampai enam persen, besoknya bisa naik lagi. Jadi kalau hari ini terima order tapi belum ada DP, besok harga bahan baku sudah berbeda. Kita bisa langsung rugi,” ujarnya.
Sejak awal 2025, harga perak di pasar global memang mengalami lonjakan tajam. Pada awal 2025, harga perak masih berada di kisaran USD 28 per ounce, namun dalam kurun 13 bulan terakhir melonjak lebih dari 200 persen. Pada 12 Januari 2026, harga perak bahkan menembus rekor tertinggi di atas USD 88 per ounce.
Dampak kenaikan global tersebut juga terasa di pasar domestik. Pada akhir 2025, harga perak batangan di Indonesia tercatat berada di kisaran Rp30.000 hingga lebih dari Rp36.000 per gram, mencerminkan kuatnya pengaruh pasar internasional terhadap harga lokal.
Dharma Siadja menjelaskan, harga perak dan emas sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar dunia dan dipengaruhi berbagai faktor global, seperti ketegangan geopolitik, kebijakan tarif, serta ketidakpastian ekonomi internasional. Kondisi ini turut memengaruhi minat pembeli luar negeri terhadap produk kerajinan perak Bali.
“Sejumlah buyer dari Amerika dan Eropa mulai menahan order karena khawatir harga produk jadi semakin mahal. Kalau bahan baku naik, otomatis harga perhiasan ikut naik. Ini membuat pembeli berpikir ulang,” katanya.
Akibat situasi tersebut, pengusaha kerajinan perak kini tidak lagi berani memproduksi barang tanpa kepastian dana awal. Setiap pesanan harus disertai DP agar bahan baku bisa segera dibeli sesuai harga pada hari transaksi.
“Sekarang begitu DP masuk, langsung kami belikan bahan. Kalau tidak ada DP, kami tidak berani mulai kerja,” tegasnya.
Bahan baku perak untuk industri kerajinan Bali umumnya dipasok dari dalam negeri, terutama dari Jawa. Namun demikian, harga tetap mengikuti perkembangan pasar internasional. Kerajinan perak, khususnya perhiasan, selama ini menjadi salah satu komoditas ekspor unggulan Bali.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), produk perhiasan dan kerajinan logam mulia rutin diekspor ke pasar Amerika Serikat dan Eropa. Data BPS Bali periode Januari–November 2025 mencatat, logam mulia dan perhiasan/permata menjadi komoditas ekspor terbesar kedua Bali dengan nilai USD 57,03 juta. Meski demikian, pada periode tersebut komoditas ini mengalami penurunan cukup signifikan sebesar -24,92 persen (ctc).
Dengan kondisi harga yang masih bergejolak, pelaku usaha memilih bersikap hati-hati sambil menunggu perkembangan pasar global. “Sekarang kami hanya bisa wait and see. Kalau ada order dan DP jelas, baru jalan. Kalau tidak, kami tahan dulu,” ujarnya.
Ia berharap stabilitas harga komoditas logam mulia segera membaik agar aktivitas produksi dan ekspor kerajinan perak Bali kembali normal dan tidak mengganggu keberlangsungan usaha para perajin. *may
Komentar