Gelar Rakorwil, PSI Bali Hadirkan Ketum Kaesang
‘Kawinkan’ Energi Milenial dan Pengalaman Figur Senior
DENPASAR, NusaBali - Masuknya sejumlah politisi senior ke dalam struktur Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Bali menandai perubahan strategi politik partai berlambang gajah tersebut menjelang Pemilu 2029.
PSI Bali kini tidak lagi hanya mengandalkan semangat kaum muda, tetapi mengawinkan energi milenial dengan pengalaman figur-figur senior yang telah lama bergelut di dunia politik Bali. Terkait ini PSI Bali akan menggelar Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) dan Pelantikan Pengurus DPW PSI Bali serta DPD PSI se-Bali dengan menghadirkan Ketua Umum DPP PSI Kaesang Pangarep, Sabtu (24/1).
Ketua DPW PSI Bali terpilih periode 2025–2030, I Wayan Suyasa, menegaskan langkah tersebut merupakan pilihan sadar dan realistis dalam membaca karakter politik Bali. Ia menyebut politik di Bali memiliki kekhasan tersendiri, di mana figur dan ketokohan masih memegang peranan penting dalam membangun kepercayaan publik.
Hal itu disampaikannya dalam konferensi pers menjelang Rapat Koordinasi Wilayah (Rakorwil) dan Pelantikan Pengurus DPW PSI Bali serta DPD PSI se-Bali, yang digelar di Meet Up Café and Eatery, Jalan Raya Kerobokan No. 172–180, Kerobokan, Kuta Utara, Kamis (22/1) sore. “Saya merasa berbangga, karena bagaimanapun keberadaan PSI yang sudah dua periode berjalan di Bali ini mulai mendapat perhatian. Mudah-mudahan ketertarikan ini dalam konteks pemerintahan dan politik bisa memberi hal-hal positif bagi proses demokrasi,” kata Suyasa. Ia menyadari, latar belakang dirinya sebagai politisi senior kerap menjadi sorotan. Suyasa tidak menampik bahwa sebelum bergabung dengan PSI, ia telah menempuh perjalanan panjang di dunia politik, termasuk dua periode menjadi wakil rakyat Badung dan menduduki jabatan Wakil Ketua DPRD, serta pernah maju sebagai calon kepala daerah.
Suyasa menjelaskan, keputusan meninggalkan partai lamanya bukanlah langkah yang diambil secara tiba-tiba. Ia menegaskan pengunduran dirinya dilakukan dengan etika politik dan asas kekeluargaan. “Saya memundurkan diri dari partai sebelumnya pada 18 November 2025. Saya lakukan dengan etika baik dan asas kekeluargaan, karena saya diberikan amanat oleh DPP PSI untuk bergabung. Secara etika, saya harus memilih satu organisasi politik untuk melangkah ke depan,” terangnya.
Setelah menerima mandat dari DPP PSI, mantan Ketua DPD II Golkar Badung ini menyebut tugas utamanya adalah membentuk dan memperkuat struktur kepengurusan partai di Bali. Ia mengatakan, pembentukan pengurus tidak hanya berhenti di tingkat provinsi dan kabupaten/kota, tetapi juga telah menjangkau seluruh kecamatan di Bali. “Dengan dukungan tokoh-tokoh di masing-masing kabupaten dan kota, seluruh kepengurusan DPW, DPD, hingga kecamatan di Provinsi Bali sudah terbentuk 100 persen. Ini semua berkat kebersamaan dan semangat yang sama untuk membesarkan PSI ke depan,” optimisnya.
Kelengkapan struktur inilah, menurut Suyasa, yang menjadi dasar digelarnya Rakorwil PSI Bali. Agenda tersebut diposisikan sebagai forum konsolidasi untuk menyatukan langkah, sekaligus memastikan kesiapan partai secara administratif dan politik.
Ia juga menyinggung kehadiran Ketua Umum DPP PSI Kaesang Pangarep dalam Rakorwil dan pelantikan sebagai penguat legitimasi kepengurusan PSI Bali. Kehadiran pimpinan pusat itu dinilai menjadi penyemangat tersendiri bagi kader di daerah.
Suyasa juga mengungkap alasan personal yang mendorongnya menerima tawaran bergabung dengan PSI. Ia mengaku memiliki kedekatan emosional dan kekaguman pribadi terhadap mantan Presiden RI ke-7 Joko Widodo (Jokowi), yang menurutnya sejalan dengan semangat dan arah perjuangan PSI. “Saya jujur, saya mengidolakan Bapak Jokowi. Ada kecintaan pribadi di situ. Ketika ada komunikasi dari DPP PSI dan saya diminta bergabung, ada rasa tanggung jawab moral untuk menjalankan amanat itu dengan sungguh-sungguh,” katanya.
Terkait target politik, Suyasa mengakui PSI belum berhasil menembus parlemen dalam dua periode pemilu sebelumnya. Namun, ia menyatakan optimisme PSI Bali mampu mencatatkan lompatan signifikan pada Pemilu 2029. “Dua periode PSI memang belum masuk parlemen, termasuk di Bali. Tapi saya yakin PSI Bali ke depan mampu menyumbang minimal satu kursi DPRD provinsi. Secara nasional, saya yakin PSI lolos parliamentary threshold dan masuk lima besar. Untuk Bali, target kami empat besar,” tegasnya.
Ia menambahkan, di tingkat kabupaten dan kota, PSI Bali menargetkan lonjakan perolehan kursi secara signifikan. “Dari empat kursi sekarang, target kami bisa 25 sampai 30 kursi. Untuk apa saya jadi pemimpin kalau tidak punya target,” tegasnya. Ditanya 2029 nanti apa Suyasa akan maju ke kontestasi pemilu atau Pilkada, ia menegaskan fokus utamanya saat ini adalah membesarkan PSI di Bali. Soal penugasan politik ke depan, ia menyebut akan mengikuti arahan partai.
Dalam pelaksanaan Rakorwil dan pelantikan tersebut, seluruh struktur PSI akan dihadirkan, mulai dari pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP), Dewan Pimpinan Wilayah (DPW), Dewan Pimpinan Daerah (DPD), hingga Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dan Dewan Pimpinan Ranting (DPRT). Massa pendukung dari masing-masing DPD kabupaten/kota juga dijadwalkan hadir untuk menyukseskan agenda tersebut.
“Saat ini persiapan secara keseluruhan sudah mencapai sekitar 90 persen. Kami mendapat informasi bahwa penyelenggaraan Rakorwil dan pelantikan di Provinsi Bali ini adalah yang terakhir di seluruh Indonesia, sehingga DPW PSI Provinsi Bali dan DPD PSI kabupaten/kota se-Bali berkomitmen menyelenggarakan kedua event besar ini dengan sebaik-baiknya, dengan kualitas sesempurna mungkin,” tandasnya. 7 tra
Komentar