Menpora Terkesan Defile Kontingen Indonesia di APG
JAKARTA, NusaBali - Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Erick Thohir turut menghadiri pembukaan ASEAN Para Games (APG) 2025 Thailand di 80th Birthday Anniversary Stadium, Nakhon Ratchasima, Selasa (20/1/2026) malam. Erick pun, merasa bangga dan terkesan dengan sajian yang ditampilkan defile kontingen Indonesia dalam upacara pembukaan APG 2025 tersebut.
Erick mengatakan, konsep parade defile yang dipilih oleh kontingen Indonesia dalam upacara pembukaan ini memiliki pesan penting. Menurut dia, atlet Indonesia menampilkan unsur kebudayaan dan tradisi yang sangat kental dari berbagai daerah.
“Kalau saya, yang terpenting bukan upacara pembukaannya, tetapi justru bagaimana atlet kebanggaan kita itu di defile. Tadi kita memperlihatkan kebudayaan kita, ada hanoman dan baju-baju daerah kita,” kata Erick Thohir, Selasa (20/1/2026) malam. Erick berharap, kontingen Indonesia bisa terus menjaga kekompakan selama berjuang di APG 2025.
Sebab, hal ini menjadi kunci penting untuk mewujudkan target medali yang telah ditetapkan di kejuaraan tersebut. “Insya Allah target 82 medali emas bisa tercapai. Saya berharap Chef de Mission, NPC Indonesia, dan seluruh pihak bisa saling mendukung. Untuk para atlet dan pelatih, saya harap mereka bisa bekerja maksimal untuk merah putih,” kata Erick.
Kontingen Indonesia sendiri memperoleh sambutan yang meriah saat menghadiri upacara pembukaan APG 2025. Tepuk tangan dari penonton yang memadati tribun sisi barat langsung menggema ketika rombongan Indonesia memasuki arena pawai. Di bagian depan, atlet para angkat berat Indonesia, M Mabruk Arib Dzaky, dipilih menjadi pembawa bendera merah putih.
Defile kontingen Indonesia yang mengenakan baju adat tradisional tampak mencolok dengan ornamen berwarna dominan emas. Selain Arib Dzaky, parade defile kontingen Indonesia juga diikuti oleh Chef de Mission (CdM), Reda Manthovani, Ketua Umum National Paralympic Committee (NPC) Indonesia, Senny Marbun, serta beberapa perwakilan atlet seperti Agustiningsih, Sri Wahyuni, I Kadek Dwi Purwana Yasa, hingga Riyanti Ananda.
Penonton, atlet, hingga ofisial yang hadir dimanjakan dengan berbagai sajian musik hingga pertunjukan visual. Penampilan yang pertama mengusung tema ‘One Symphony’ menghadirkan kolaborasi artis-artis seperti Natthawat Yodsrithong, Kang Tachaya, Sunaree Ratchasima, memadukan instrumen tradisional dengan sentuhan musik modern.
Setelah itu, penampilan berikutnya yang bertajuk ‘Heartbeat Isanpop’ menyajikan duet musisi Hye Arpaporn dengan rapper ternama, Milli. Diiringi dengan tarian kontemporer dan sinar pencahayaan, pertunjukan dua penyanyi beda generasi ini menciptakan suasana dan irama yang lebih bergairah.
Pergelaran terakhir ditutup dengan tarian kolosal bertema ‘Rhythm of Heart’. Sajian ini menampilkan sejumlah penari yang mengiringi bunga Ratchaphruek. Bunga nasional Thailand itu, diiringi berbagai motif bunga yang merepresentasikan masing-masing negara Asia Tenggara, termasuk Wijaya Kusuma yang mewakili Indonesia. 7 k22
Komentar