nusabali

MUTIARA WEDA: Kemarahan

  • www.nusabali.com-mutiara-weda-kemarahan

Krodhād bhavati sammohaḥ sammohāt smṛti-vibhramaḥ, smṛti-bhraṁśād buddhi-nāśo buddhi-nāśāt praṇaśyati. (Bhagavad Gītā 2.63)

Dari kemarahan timbul kebingungan; dari kebingungan hilang daya ingat; dari hilangnya daya ingat, hancurlah kebijaksanaan; dan ketika kebijaksanaan hancur, manusia binasa.

KEMARAHAN lahir dari ketidakmampuan manusia menerima kenyataan. Ia berakar pada kelekatan, hasrat untuk menguasai, memiliki, dan menang atas yang lain. Ketika harapan tidak terpenuhi, identitas merasa terancam, atau ego dilukai, batin kehilangan keseimbangannya. Dari titik inilah kemarahan muncul sebagai reaksi defensif, seolah-olah menjadi tenaga pelindung, namun sejatinya ia menutupi rasa takut, luka, dan ketidakberdayaan. Sejak zaman purba hingga kini, pola ini tidak berubah.

Kemarahan mudah menguasai karena memberi ilusi kekuatan dan kejelasan sesaat. Saat marah, dunia tampak hitam-putih, musuh dan kawan terlihat jelas, dan tanggung jawab atas penderitaan diri dipindahkan kepada pihak lain. Inilah sebabnya kemarahan menjadi bahan bakar konflik pribadi maupun perang besar. Kemarahan menyederhanakan realitas yang kompleks dan membungkam suara kebijaksanaan. Bayang-bayang perang dunia, seperti juga pertikaian kecil dalam hidup sehari-hari, lahir dari kegagalan manusia menunda reaksi batin dan menumbuhkan kejernihan. Selama kemarahan dibiarkan memimpin kesadaran, sejarah akan terus mengulang luka yang sama, hanya dengan wajah dan senjata yang berbeda.

Kemarahan memang telah bersemayam secara laten dalam diri manusia sebagai bayangan yang mengikuti setiap persepsi. Ia muncul ketika cara kita memandang realitas tidak selaras dengan kehendak, harapan, atau kepentingan pribadi. Yang menarik, kemarahan tidak selalu hadir spontan; dalam banyak situasi ia dibangkitkan secara sadar melalui konstruksi persepsi. Dengan memilih sudut pandang tertentu, menonjolkan luka, ancaman, atau keburukan pihak lain, bayangan itu dipanggil keluar dari kedalaman batin. Sehingga, kemarahan bukan semata ledakan emosi, tetapi hasil dari narasi yang terus diulang dan dipelihara.

Dalam percakapan sehari-hari, kemarahan sering ditularkan secara halus. Kita begitu piawai ‘menarikan’ keburukan orang lain, mengulang kesalahan, membesar-besarkan niat, atau memberi makna buruk pada tindakan yang belum tentu demikian. Pendengar pun perlahan digiring untuk berdiri dalam persepsi yang sama, hingga kemarahan terasa wajar dan bahkan benar. Pola serupa juga tampak di ruang publik dan keagamaan, ketika ceramah atau pidato sengaja memancing emosi dengan menekankan rasa terancam, musuh bersama, atau nostalgia luka lama. Demikian juga dapat ditemukan dalam pemberitaan yang sensasional, algoritma media sosial yang mengutamakan kemarahan karena ia meningkatkan keterlibatan, candaan yang merendahkan kelompok tertentu, hingga pendidikan yang menanamkan rasa superioritas atau kebencian sejak dini.

Demi menghindari kehancuran, manusia diajak berdamai dengan kemarahan, menahannya, menundanya, atau menyimpannya jauh di dalam hati. Namun, kemarahan yang dipendam maupun yang diekspresikan, tidak benar-benar lenyap. Ia seperti jejak yang direkam oleh semesta, tertinggal dalam ingatan kolektif, dalam bahasa, gestur, dan cara kita saling memandang. Waktu demi waktu, jejak itu menumpuk, membentuk lapisan emosi yang tak kasatmata namun terasa berat. Kedamaian yang lahir dari tekanan seperti ini akhirnya rapuh.

Ketika kemarahan telah padat di udara, ia menyerupai awan gelap yang sarat muatan listrik, satu kilat kecil saja cukup untuk memicu badai besar. Seperti hutan kering di musim kemarau, api kecil saja dapat menjalar tanpa kendali, membakar siapa pun tanpa memilih sebab. Pada saat itu, kemarahan tidak lagi milik individu; ia berubah menjadi arus komunal yang menyeret banyak orang untuk marah bersama, bahkan tanpa mengetahui asalnya. Orang-orang ikut terlibat bukan karena alasan pribadi, melainkan karena mereka bernapas dalam udara emosi yang sama. Di sinilah kemarahan menjadi beringas. 

Demonstrasi besar di berbagai negara, dari Arab Spring di Timur Tengah, kerusuhan rasial di Amerika Serikat, protes Ukraina–Rusia, hingga gelombang unjuk rasa di Eropa, menunjukkan pola serupa. Provokasi berlebihan mempertajam kemarahan kolektif. Ketika emosi publik terus dipanaskan, kemarahan berubah menjadi justifikasi moral dan politik bagi kekerasan. Pada titik ini, perang tidak lagi tampak sebagai agresi, melainkan sebagai ‘keharusan’, membuka jalan menuju konflik global yang lebih luas. 7

Komentar