Pasar Lokal Mahal, Akses Sulit bagi Petani Kopi Bali
DENPASAR, NusaBali.com — Harga kopi Arabika di pasar Bali tercatat lebih tinggi dibandingkan harga jual ke luar Bali maupun ke eksportir. Namun ironisnya, pasar lokal justru dinilai lebih sulit ditembus oleh kelompok tani akibat kuatnya jejaring bisnis, loyalitas pemasok, serta persaingan antarpelaku usaha yang berbasis hubungan personal.
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Dharma Kriya, Desa Belantih, Kintamani, I Wayan Selamat, mengatakan harga kopi Arabika dalam bentuk HS (kopi berkulit tanduk) di pasar Bali saat ini bisa mencapai Rp130.000 per kilogram. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan harga ke luar Bali yang berkisar Rp125.000 per kilogram.
“Kalau dijual di Bali memang lebih mahal, tetapi untuk bisa masuk ke pasar Bali itu tidak mudah. Pembeli biasanya sudah punya pemasok tetap, jadi jarang mau berganti,” ujar Selamat, Selasa (20/1/2026).
Ia menjelaskan, pasar luar Bali justru cenderung lebih terbuka dan profesional. Persaingan berlangsung berdasarkan kualitas produk, konsistensi pasokan, serta standar pascapanen yang jelas, tanpa terlalu dipengaruhi faktor kedekatan personal.
“Di luar Bali persaingannya lebih elegan dan terbuka. Kalau di Bali, kadang chemistry dan jaringan lama masih sangat dominan,” ungkapnya.
Saat ini, sebagian besar produksi kopi dari kelompoknya masih dipasarkan melalui pengepul besar yang kemudian menyalurkannya ke eksportir. Skema tersebut dinilai lebih pasti dari sisi serapan, meski nilai tambah bagi petani relatif terbatas.
Untuk menembus pasar kafe dan roastery di Bali, Selamat menyebut kelompok tani harus meningkatkan kualitas pascapanen, menjaga konsistensi mutu, serta memperbaiki aspek pengemasan dan branding produk agar mampu bersaing dengan pemain lama.
Ia berharap adanya dukungan dari pemerintah maupun lembaga terkait dalam bentuk program promosi, penguatan koperasi, serta pendampingan pemasaran agar kelompok tani mampu menjual langsung ke pasar lokal.
“Harapan kami, kelompok tani bisa dikenal dan tidak hanya menjual bahan mentah, tetapi juga memiliki nilai tambah sendiri sehingga posisi petani lebih kuat di pasar,” pungkasnya. *may
Komentar