Konsumsi Kopi Terus Tumbuh, Permintaan Kafe dan Roastery Dorong Serapan Kopi Petani
DENPASAR, NusaBali.com —
Tren konsumsi kopi di Indonesia terus menunjukkan peningkatan seiring menjamurnya kedai kopi, roastery, dan berkembangnya budaya minum kopi di kalangan generasi muda. Kondisi ini turut mendorong permintaan kopi dari tingkat petani, termasuk kopi Arabika Kintamani di Bali.
Ketua Poktan Dharma Kriya, I Wayan Selamat, Selasa (20/1/2026) mengatakan permintaan dari kedai kopi di berbagai kota seperti Jakarta, Bandung, hingga Salatiga terus ada, meskipun volumenya masih relatif kecil dibandingkan pembelian oleh eksportir atau pedagang besar. “Untuk coffee shop ada juga permintaan, tapi masih kecil-kecilan. Yang besar tetap dari eksportir atau pengepul besar yang beli dalam jumlah banyak,” ujarnya.
Di Bali sendiri, kebutuhan kopi untuk sektor pariwisata cukup tinggi. Satu kafe bahkan bisa menyerap hingga hitungan ton per tahun. Namun, tidak semua kelompok tani bisa langsung masuk ke pasar tersebut karena tuntutan kualitas, konsistensi pasokan, dan proses pascapanen yang ketat.
Selain faktor teknis, pemasaran kopi juga sangat bergantung pada cerita produk (storytelling), branding, dan hubungan bisnis yang sudah terbangun lama. “Di kopi itu bukan cuma kualitas, tapi juga cerita. Banyak buyer mau beli karena proses dan cerita di balik kopinya,” katanya.
Ia menilai tren konsumsi kopi yang meningkat seharusnya menjadi peluang besar bagi petani, namun perlu diimbangi dengan penguatan kelembagaan kelompok, peningkatan mutu pascapanen, serta akses langsung ke pasar agar nilai tambah tidak hanya dinikmati di tingkat hilir. *may
Di Bali sendiri, kebutuhan kopi untuk sektor pariwisata cukup tinggi. Satu kafe bahkan bisa menyerap hingga hitungan ton per tahun. Namun, tidak semua kelompok tani bisa langsung masuk ke pasar tersebut karena tuntutan kualitas, konsistensi pasokan, dan proses pascapanen yang ketat.
Selain faktor teknis, pemasaran kopi juga sangat bergantung pada cerita produk (storytelling), branding, dan hubungan bisnis yang sudah terbangun lama. “Di kopi itu bukan cuma kualitas, tapi juga cerita. Banyak buyer mau beli karena proses dan cerita di balik kopinya,” katanya.
Ia menilai tren konsumsi kopi yang meningkat seharusnya menjadi peluang besar bagi petani, namun perlu diimbangi dengan penguatan kelembagaan kelompok, peningkatan mutu pascapanen, serta akses langsung ke pasar agar nilai tambah tidak hanya dinikmati di tingkat hilir. *may
Komentar