Produksi Kopi Bali 2026 Diprediksi Naik 20 Persen, Cuaca Dukung Pembungaan dan Pembuahan
DENPASAR, NusaBali.com— Produksi kopi di Bali pada 2026 diproyeksikan meningkat hingga 20 persen seiring kondisi cuaca yang relatif stabil dan mendukung fase pembungaan serta pembuahan tanaman kopi, khususnya kopi Arabika. Curah hujan sejak awal tahun dinilai tidak mengganggu, bahkan membantu pertumbuhan tanaman.
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Dharma Kriya, Desa Belantih, Kintamani, I Wayan Selamat, Selasa (20/1/2026), mengatakan cuaca tahun ini tidak berdampak signifikan terhadap produksi kopi karena fase pembungaan telah terjadi lebih awal.
“Untuk pembungaan dan pembuahan, cuaca awal tahun cukup bagus. Pembungaan sudah terjadi sejak April–Mei, sehingga hujan setelah itu tidak terlalu berpengaruh. Jadi tahun ini kemungkinan besar produksi meningkat,” ujarnya.
Di Poktan Dharma Kriya yang mengelola sekitar 35 hektare kebun kopi Arabika, produksi pada 2026 diperkirakan mencapai rata-rata 8 ton gelondong merah (GM/cherry) per hektare. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya berkisar 5–6 ton per hektare, atau naik sekitar 20 persen.
Wayan Selamat menjelaskan, karakter tanaman kopi Arabika Kintamani yang relatif pendek dan terlindung membuatnya tidak terlalu terdampak angin kencang maupun hujan lebat. Selain faktor cuaca, peningkatan produksi juga didukung penerapan sistem petik merah oleh petani, yakni hanya memanen buah kopi yang benar-benar matang.
“Sekarang panen bisa sampai 10 kali dalam satu musim karena buah tidak matang serempak. Setiap 10–15 hari bisa panen lagi,” katanya.
Ia menambahkan, tanaman kopi Arabika di wilayah Kintamani mulai berbuah sejak usia tiga tahun setelah ditanam dan mencapai produksi optimal pada usia 5–10 tahun. Dengan perawatan rutin, terutama pemangkasan tahunan, umur produktif tanaman kopi dapat mencapai hingga 25 tahun.
Dengan kondisi cuaca yang mendukung serta penerapan teknik budidaya yang semakin baik, petani kopi di Bali optimistis produksi kopi tahun 2026 tidak hanya meningkat dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas. *may
“Untuk pembungaan dan pembuahan, cuaca awal tahun cukup bagus. Pembungaan sudah terjadi sejak April–Mei, sehingga hujan setelah itu tidak terlalu berpengaruh. Jadi tahun ini kemungkinan besar produksi meningkat,” ujarnya.
Di Poktan Dharma Kriya yang mengelola sekitar 35 hektare kebun kopi Arabika, produksi pada 2026 diperkirakan mencapai rata-rata 8 ton gelondong merah (GM/cherry) per hektare. Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya yang hanya berkisar 5–6 ton per hektare, atau naik sekitar 20 persen.
Wayan Selamat menjelaskan, karakter tanaman kopi Arabika Kintamani yang relatif pendek dan terlindung membuatnya tidak terlalu terdampak angin kencang maupun hujan lebat. Selain faktor cuaca, peningkatan produksi juga didukung penerapan sistem petik merah oleh petani, yakni hanya memanen buah kopi yang benar-benar matang.
“Sekarang panen bisa sampai 10 kali dalam satu musim karena buah tidak matang serempak. Setiap 10–15 hari bisa panen lagi,” katanya.
Ia menambahkan, tanaman kopi Arabika di wilayah Kintamani mulai berbuah sejak usia tiga tahun setelah ditanam dan mencapai produksi optimal pada usia 5–10 tahun. Dengan perawatan rutin, terutama pemangkasan tahunan, umur produktif tanaman kopi dapat mencapai hingga 25 tahun.
Dengan kondisi cuaca yang mendukung serta penerapan teknik budidaya yang semakin baik, petani kopi di Bali optimistis produksi kopi tahun 2026 tidak hanya meningkat dari sisi kuantitas, tetapi juga kualitas. *may
Komentar