nusabali

Pengelola DTW Alas Pala Sangeh Antisipasi Angin Kencang

Masuk Sasih Kawulu

  • www.nusabali.com-pengelola-dtw-alas-pala-sangeh-antisipasi-angin-kencang

MANGUPURA, NusaBali - Pulau Bali kini sedang memasuki Sasih Kawulu sesuai Kalender Bali yang biasanya identik dengan musim angin kencang. Perubahan cuaca semacam ini menjadi perhatian objek wisata alam seperti DTW Alas Pala Sangeh di Desa Sangeh, Kecamatan Abiansemal, Badung.

Seperti namanya, Alas Pala Sangeh menawarkan keindahan hutan pala yang menjadi habitat satwa kera ekor panjang (Macaca fascicularis). Isu keamanan berwisata di bawah rindang pohon raksasa sangat sensitif, apalagi sempat terjadi musibah pohon tumbang pascaputing beliung menghantam hutan pala, Desember 2025.

Ketua Pengelola DTW Alas Pala Sangeh IB Gede Pujawan, menegaskan bahwa keamanan dan keselamatan jiwa wisatawan merupakan prioritas utama. Indikasi kecil cuaca seperti hujan maupun angin kencang selalu menjadi pertimbangan beraktivitas di dalam hutan pala.

“Kami sudah menerapkan sistem buka tutup. Sebelumnya pun kalau sudah hujan, tidak kami izinkan aktivitas di dalam hutan. Sekarang masuk Sasih Kawulu pun akan seperti itu,” beber Pujawan, Senin (19/1/2026).

Pujawan yang juga Ketua Desa Wisata Sangeh ini menjelaskan bahwa peristiwa Desember 2025 merupakan musibah karena puting beliung memporandakan pepohonan. Menurutnya, angin kencang biasa tidak akan berpengaruh signifikan, walaupun potensi dahan dan ranting jatuh tetap ada.

Sebagai langkah antisipasi, Pujawan mengungkapkan bakal menebang pohon pala yang mati. Selain itu, perompesan juga dilakukan pada pohon sehat, yang berpotensi roboh karena sudut kemiringan. Pohon-pohon itu kebetulan ada di tepi jalan raya di timur objek wisata.

“Kami sudah koordinasi dengan BKSDA Bali. Pekan ini kami berencana menebang pohon yang mati dan memangkas yang agak miring. Semoga tidak terjadi apa-apa,” beber Pujawan.

Untuk diketahui, Alas Pala Sangeh sudah menjadi kawasan hutan konservasi sejak zaman kolonial. Tahun 1919, Gubernur Jenderal Hindia Belanda menetapkan Alas Pala sebagai Natuurmonumenten atau cagar alam seluas 9,8 hektare. Tahun 1979 luas definitif Cagar Alam Sangeh meningkat menjadi 10,8 hektare. Luas kawasan konservasi Alas Pala terus bertambah menjadi 13,696 hektare pada 1990 setelah menerima lahan kompensasi dari PLN seluas 3,169 hektare.

Tahun 1993, Alas Pala Sangeh mengalami perubahan fungsi cagar alam menjadi Taman Wisata Alam. Selain didominasi flora pala (Dipterocarpus trinervis), Alas Pala juga memiliki berbagai fauna yang didominasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis).

Di sisi lain, terkait harga tiket tahun ini menurut Pujawan masih sama dengan tahun lalu, artinya tak ada kenaikan. “Kalau kami naikkan, sementara di lapangan tetap monoton seperti itu kan kurang elok,” tuturnya.

Meski begitu, angin segar berhembus dari Pemkab Badung setelah ada komitmen melanjutkan penataan kawasan Sangeh Monkey Forest. Penataan besar-besaran yang disebut-sebut akan mengubah wajah dan daya tarik Alas Pala menjadi DTW ikonik itu direncanakan dimulai tahun 2027.

“Nah, penyesuaian tarif retribusi di Sangeh kemungkinan akan kami ajukan setelah penataan objek terealisasi, yang nanti dibarengi juga peningkatan pelayanan,” tegas Pujawan. 7 rat

Komentar