nusabali

Sampah Kiriman Jejali Pantai Kelating

  • www.nusabali.com-sampah-kiriman-jejali-pantai-kelating

Gotong royong sudah sering dilakukan, tapi percuma. Begitu hujan turun, sampah datang berjubel-jubel lagi.

SINGASANA, NusaBali
Kondisi Pantai Kelating di Desa Kelating, Kecamatan Kerambitan, Tabanan, kembali memprihatinkan. Hamparan pesisir pantai dipenuhi sampah kiriman, terutama kayu dan bambu hingga nyaris menutupi seluruh pasir hitam yang menjadi ciri khas pantai ini.

Pantauan NusaBali, Selasa (20/1) pagi, tumpukan sampah paling parah terlihat di sisi timur pantai. Hampir tak ada ruang bersih untuk bersantai karena sampah menutup bibir pantai. Padahal, pantai ini dikenal memiliki panorama alami dan menjadi daya tarik wisata, bahkan sejumlah vila dan hotel telah berdiri di kawasan tersebut.

Namum, di balik kondisi pantai yang kumuh, tumpukan sampah justru dimanfaatkan warga setempat. Salah satunya I Wayan Sundra, warga Banjar Dangin Pangkung, Desa Kelating, bersama istrinya rutin mencari kayu bakar dan bambu dari sampah kiriman di pantai.


Sundra yang sehari-hari bekerja sebagai tukang rindik (megambel) di Vila Soori, memanfaatkan kayu untuk memasak, sementara bambu yang masih layak diolah menjadi kelabang. Kelabang tersebut biasanya digunakan masyarakat Bali sebagai tempat menjemur jajan begina atau jajan uli untuk keperluan upakara. “Seminggu dua kali saya ke pantai cari kayu dan bambu, memanfaatkan sampah ini,” ujar Sundra.

Menurutnya, bambu bekas kiriman laut justru lebih kuat dan tahan lama bila diolah menjadi kelabang. Produk yang dihasilkannya bahkan bisa bertahan hingga lima tahun. “Kalau pakai bambu baru justru cepat rusak, jadi saya sengaja cari bambu di pantai,” ungkapnya.

Sementara itu, Kelian Dinas Banjar Dangin Pangkung, I Gede Pande Yuda Anggaresa mengakui persoalan sampah di Pantai Kelating sulit dibendung. Setiap musim hujan, sampah kiriman dari hulu dipastikan bermuara ke pantai. “Gotong royong sudah sering dilakukan, tapi percuma. Begitu hujan turun, sampah datang berjubel-jubel lagi,” katanya.

Dia menambahkan, warga bahkan pernah menyewa alat berat untuk membersihkan dan mengubur sampah. Namun upaya tersebut tak bertahan lama karena sampah kembali datang saat hujan berikutnya. Selain itu, sejumlah komunitas peduli lingkungan seperti Sungai Watch juga rutin membantu penanganan sampah plastik dengan cara dikumpulkan dan diangkut.

Anggaresa pun mengimbau masyarakat, khususnya warga di wilayah hulu, agar tidak membuang sampah sembarangan. “Kalau di hulu tertib, pantai juga tidak akan terus jadi korban,” tegasnya.7des

Komentar