Kolaborasi Poltekpar Bali–Griffith University Dorong Dosen Masuk Lebih Dalam ke Komunitas
MANGUPURA, NusaBali.com - Kolaborasi internasional antara Politeknik Pariwisata Bali dan Griffith University, Australia, mulai bergerak dari ruang kelas ke ruang-ruang komunitas.
Melalui International Training of Trainers (ToT) dan International Publication Workshop dosen didorong tak hanya memperkuat kapasitas akademik, tetapi juga memperdalam peran mereka dalam riset dan pengabdian berbasis masyarakat. kegiatan tersebut digelar di MICE Widyatula, kampus Poltekpar Bali, pada Senin (19/1/2026) pagi.
Kegiatan yang difasilitasi Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) ini menjadi implementasi awal nota kesepahaman baru antara Poltekpar Bali dan Griffith University. Fokusnya bukan semata peningkatan kompetensi dosen, melainkan bagaimana kolaborasi internasional diterjemahkan menjadi program nyata yang berdampak langsung bagi komunitas.
Direktur Politeknik Pariwisata Bali, Dr. Drs. Ida Bagus Putu Puja, M.Kes., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret untuk membawa kerja sama luar negeri ke ranah pengabdian.
“Kegiatan ini merupakan wujud kolaborasi Politeknik Pariwisata Bali dengan institusi luar negeri, khususnya Griffith University. Ke depan, akan ada kegiatan lanjutan yang juga menyasar wilayah Klungkung,” ujarnya saat ditemui di lokasi pada Senin siang.
Menurut Puja, pesan utama dari kegiatan ini adalah mendorong dosen agar lebih siap berkolaborasi lintas negara, terutama dalam pengabdian kepada masyarakat.
“Tujuannya agar dosen memiliki pemahaman yang lebih kuat saat berkolaborasi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat bersama institusi luar negeri,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala P3M Poltekpar Bali Dr Putu Diah Sastri Pitanatri, menyebut ToT ini dirancang untuk menyiapkan dosen sebagai fasilitator yang mampu merancang program berbasis kebutuhan komunitas dan terintegrasi dengan pengembangan pariwisata Bali.
“Training of trainers ini difokuskan untuk memfasilitasi dosen agar mampu memberikan pendampingan kepada masyarakat yang terintegrasi dan memiliki dampak positif bagi pengembangan masyarakat dan pariwisata di Bali,” jelasnya.
Ia menambahkan, hasil dari ToT tidak berhenti pada aktivitas lapangan, tetapi juga diarahkan menjadi riset dan publikasi ilmiah yang berdampak.
“Kami berharap tidak hanya muncul program capacity building yang kuat, tetapi juga publikasi yang memiliki impact tinggi, baik nasional maupun internasional,” ujarnya.
Dari pihak mitra internasional, Associate Professor Dr Elaine Yang dari Griffith University menekankan bahwa kegiatan ini sejalan dengan misi hibah Australia Indonesia Institute (AII) di bawah DFAT, yang menitikberatkan pada penguatan hubungan antar masyarakat dan kolaborasi institusi.
“Apa yang kami lakukan hari ini secara langsung sejalan dengan misi hibah AII,” katanya.
Elaine menyebut proyek ini menjadi tonggak penting karena merupakan inisiatif pertama yang dijalankan setelah penandatanganan MoU kedua institusi. Melalui ToT dan workshop publikasi, para dosen dibekali metode untuk merancang pelatihan berbasis komunitas, penguatan keterampilan digital, hingga penulisan publikasi ilmiah berdampak.
“Dampak kegiatan ini tidak berhenti hari ini. Ini adalah awal dari proses panjang membangun kemitraan akademik, persahabatan, dan keterlibatan komunitas yang berkelanjutan,” ujarnya. *ris
Kegiatan yang difasilitasi Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) ini menjadi implementasi awal nota kesepahaman baru antara Poltekpar Bali dan Griffith University. Fokusnya bukan semata peningkatan kompetensi dosen, melainkan bagaimana kolaborasi internasional diterjemahkan menjadi program nyata yang berdampak langsung bagi komunitas.
Direktur Politeknik Pariwisata Bali, Dr. Drs. Ida Bagus Putu Puja, M.Kes., menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan langkah konkret untuk membawa kerja sama luar negeri ke ranah pengabdian.
“Kegiatan ini merupakan wujud kolaborasi Politeknik Pariwisata Bali dengan institusi luar negeri, khususnya Griffith University. Ke depan, akan ada kegiatan lanjutan yang juga menyasar wilayah Klungkung,” ujarnya saat ditemui di lokasi pada Senin siang.
Menurut Puja, pesan utama dari kegiatan ini adalah mendorong dosen agar lebih siap berkolaborasi lintas negara, terutama dalam pengabdian kepada masyarakat.
“Tujuannya agar dosen memiliki pemahaman yang lebih kuat saat berkolaborasi, khususnya dalam pengabdian kepada masyarakat bersama institusi luar negeri,” katanya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala P3M Poltekpar Bali Dr Putu Diah Sastri Pitanatri, menyebut ToT ini dirancang untuk menyiapkan dosen sebagai fasilitator yang mampu merancang program berbasis kebutuhan komunitas dan terintegrasi dengan pengembangan pariwisata Bali.
“Training of trainers ini difokuskan untuk memfasilitasi dosen agar mampu memberikan pendampingan kepada masyarakat yang terintegrasi dan memiliki dampak positif bagi pengembangan masyarakat dan pariwisata di Bali,” jelasnya.
Ia menambahkan, hasil dari ToT tidak berhenti pada aktivitas lapangan, tetapi juga diarahkan menjadi riset dan publikasi ilmiah yang berdampak.
“Kami berharap tidak hanya muncul program capacity building yang kuat, tetapi juga publikasi yang memiliki impact tinggi, baik nasional maupun internasional,” ujarnya.
Dari pihak mitra internasional, Associate Professor Dr Elaine Yang dari Griffith University menekankan bahwa kegiatan ini sejalan dengan misi hibah Australia Indonesia Institute (AII) di bawah DFAT, yang menitikberatkan pada penguatan hubungan antar masyarakat dan kolaborasi institusi.
“Apa yang kami lakukan hari ini secara langsung sejalan dengan misi hibah AII,” katanya.
Elaine menyebut proyek ini menjadi tonggak penting karena merupakan inisiatif pertama yang dijalankan setelah penandatanganan MoU kedua institusi. Melalui ToT dan workshop publikasi, para dosen dibekali metode untuk merancang pelatihan berbasis komunitas, penguatan keterampilan digital, hingga penulisan publikasi ilmiah berdampak.
“Dampak kegiatan ini tidak berhenti hari ini. Ini adalah awal dari proses panjang membangun kemitraan akademik, persahabatan, dan keterlibatan komunitas yang berkelanjutan,” ujarnya. *ris
Komentar