Seniman Tabanan Kenalkan Gamelan Bali ke Kancah Global
SINGASANA, NusaBali - Seniman asal Tabanan yang tergabung dalam Haridwipa Gamelan Group konsisten melestarikan kesenian Bali khususnya gamelan.
Selain mencetak seniman muda, sanggar yang berlokasi di Desa Dauh Peken, Kota Singasana, Tabanan ini telah mempromosikan gamelan ke kancah global.
Sabtu (17/1/2026), salah satu aksi Haridwipa Gamelan Group yakni memperkenalkan balaganjur minimalis di Festival Payung Bo Sang, Chiang Mai, Thailand viral di media sosial. Rupanya, video tersebut direkam ketika mereka berpartisipasi pada pawai festival tiga hari tersebut pada tahun 2025 silam. Meski begitu, jauh sebelum mengenalkan balaganjur ke Thailand—Sanggar Haridwipa telah melanglang buana ke berbagai benua sejak 2005 untuk mempromosikan kebudayaan Bali.
Kata pendiri sekaligus Ketua Haridwipa Gamelan Group I Gusti Nengah Hari Mahardika,42, Amerika Latin jadi benua pertama mereka. “Sanggar ini kami dirikan 2001 silam. Tahun 2005, kami mendapat kesempatan tampil di Chile dan Peru. Kemudian, ke Prancis (2006), New York (2007), Austria (2009), Playfreely Music Singapura (2018), dan terakhir di Chiang Mai, Thailand,” beber Hari Mahardika atau akrab disapa Gungah kepada NusaBali, Sabtu siang.
Kata Gungah, 16–18 Januari ini, seharusnya mereka mengisi pawai Festival Payung Bo Sang dan malam pemilihan Miss Bo Sang di Chiang Mai, Thailand seperti tahun lalu. Namun, biaya logistik dan akomodasi menjadi kendala lantaran berpartisipasi dalam festival tersebut murni ngayah demi kesenian Bali dan panitia hanya menyediakan panggung dan ruang.
“Ketika kami tampil tahun lalu dengan balaganjur minimalis berjumlah enam penabuh dan reklik (reong tingklik), antusias pengunjung itu luar biasa. Banyak yang penasaran mengenai gamelan Bali dan pertanyaannya spesifik mulai dari namanya, asalnya, fungsinya, dan lain-lain,” ungkap Gungah. Oleh karena kendala itu, Haridwipa Gamelan Group memilih absen pada festival Bo Sang kali ini meskipun undangan sudah diterima melalui pemegang lisensi Festival Payung Indonesia.
Melalui Festival Payung Indonesia 2024 di Solo, Jawa Tengah itulah pula jalan promosi gamelan sekaligus jadi satu-satunya wakil pawai Indonesia di Bo Sang tahun lalu—terbuka. Meski gagal tampil tahun ini karena kendala biaya, Gungah memastikan Haridwipa Gamelan Group akan terbang ke Bo Sang tahun depan. “Kami sedang mempersiapkan karya untuk ditampilkan tahun depan. Masih dengan balaganjur minimalis dan sejumlah penari karena gamelan ini yang cocok untuk karnaval,” lanjutnya.
Walaupun ditampilkan untuk warga asing, garapan tabuh tetap mempertahankan kekhasan komposisi gamelan tradisi Bali. Selain itu, konsep garapan banyak mengangkat tradisi agraris yang berkembang di Tabanan seperti Dewa Nini dan Sanghyang Sampat. “Jadi, di sini kami murni memperkenalkan kebudayaan Bali yang adiluhung, kami tidak menerima apapun dari pengabdian kami ini,” tegas Gungah yang terus berkarya bersama 140 anggota sanggar yang bermarkas di Jalan Kenanga Nomor 7, Banjar Tegal Belodan, Desa Dauh Peken.
Sebagai catatan, Haridwipa Gamelan Group tidak hanya berfokus pada pelestarian seni musik tradisional Bali. Mereka juga mengembangkan dan menginovasikan gamelan Pulau Dewata secara eksperimental dengan menciptakan reklik maupun memadukan alat musik tradisional maupun modern dari berbagai kebudayaan. 7 rat
Komentar