Pemkab Optimis Digitalisasi Retribusi Efektif Cegah Kebocoran
SEMARAPURA, NusaBali - Pemkab Klungkung optimis penerapan digitalisasi retribusi pariwisata melalui sistem e-ticketing dan e-payment akan menjadi langkah efektif untuk mencegah kebocoran pendapatan asli daerah (PAD).
Optimisme menguat seiring ditandatanganinya kesepakatan kerja sama antara Pemkab Klungkung dengan PT Easybook Teknologi Indonesia di Dians Garden Klungkung, Jumat (16/1). Plt Kadis Pariwisata Kabupaten Klungkung I Gusti Agung Gede Putra Mahajaya mengatakan, setelah kesepakatan kerja sama ditandatangani, tahapan teknis akan segera direalisasikan.
Implementasi awal diprioritaskan di wilayah Nusa Penida yang menjadi salah satu destinasi unggulan Kabupaten Klungkung. “Setelah kesepakatan ini, teknisnya akan segera kami realisasikan. Fokus awal tentu di Nusa Penida,” ujar Gusti Mahajaya, Minggu (18/1).
Kesepakatan bersama antara Pemkab Klungkung dan PT Easybook Teknologi Indonesia mencakup pemungutan retribusi pelayanan tempat rekreasi, pariwisata, dan olahraga berbasis e-ticketing dan e-payment system. Penandatanganan dilakukan langsung oleh Bupati Klungkung I Made Satria bersama Direktur PT Easybook Teknologi Indonesia Azman Bin Mansor.

Bupati Satria menyampaikan, kerja sama ini merupakan wujud komitmen Pemkab Klungkung dalam melakukan digitalisasi pengelolaan retribusi pariwisata yang telah direncanakan sejak beberapa tahun lalu. Digitalisasi dinilai menjadi kebutuhan untuk menjawab tantangan pengelolaan pariwisata yang semakin kompleks. “Inilah yang kami harapkan. Sejak 2019 pemerintah daerah sudah merencanakan digitalisasi retribusi dan pengelolaan lainnya, namun baru sekarang bisa diwujudkan. Ini menjadi harapan baru untuk mengantisipasi kebocoran sehingga PAD Klungkung bisa lebih optimal,” ujar Bupati Satria.
Gusti Mahajaya menambahkan, penerapan sistem digital sejalan dengan arah kebijakan Pemkab Klungkung yang mendorong transparansi dan akuntabilitas pengelolaan pendapatan daerah. Sistem retribusi yang selama ini masih dilakukan secara manual diarahkan ke transaksi non-tunai atau cashless. “Ke depan tidak lagi manual seperti sekarang. Sistemnya semua harus cashless, bisa menggunakan QR code atau metode pembayaran digital lainnya,” tegasnya.
Penerapan e-retribusi pariwisata ditargetkan mulai berjalan pada tahun 2026. Sejumlah koordinasi dengan pihak perbankan, termasuk Bank BPD Bali, terus dilakukan untuk mendukung sistem pembayaran non-tunai. Dengan sistem digital, seluruh transaksi retribusi akan tercatat secara otomatis dan real time sehingga data kunjungan wisatawan serta pemasukan retribusi dapat dipantau secara berkala. “Kalau sudah digital, wisatawan membeli tiket dan membayar retribusi, datanya langsung masuk. Update-nya cepat karena semuanya non-tunai,” katanya.
Gusti Mahajaya menegaskan, digitalisasi retribusi diharapkan mampu meminimalkan potensi kebocoran pendapatan sekaligus mengurangi keluhan masyarakat terkait pungutan di lapangan. Sistem cashless dinilai lebih transparan dan akuntabel karena seluruh transaksi terekam secara sistematis. “Dengan digitalisasi, potensi loss sangat kecil. Ini salah satu upaya mencegah kebocoran,” tegas Gusti Mahajaya. 7 gik
Komentar