nusabali

Kampus di Bali Mesti Cetak Artis Tato!

  • www.nusabali.com-kampus-di-bali-mesti-cetak-artis-tato

Meski Bali tidak memiliki tradisi tato, posisi Bali sebagai destinasi wisata dunia menjadikan pasar tato di Bali datang dari berbagai penjuru dunia.

DENPASAR, NusaBali 
Tato salah satu budaya paling tua di dunia, simbol persembahan dan kesucian bagi peradaban di wilayah pasifik dan sekitarnya. Seni ini kemudian sempat identik dengan dunia kriminal, sebelum bergerak menjadi gaya hidup populer, spiritual, seni, ekspresi diri, hingga counter culture. 

Seiring dengan kemajuan dunia pariwisata, Bali jadi daerah dengan industri tato paling maju di Indonesia. Wisatawan datang untuk merasakan pengalaman dirajah seniman tato Pulau Dewata. 

Saat ini penggemar tato berasal dari berbagai kalangan seperti pengusaha, musisi, olahragawan, model, maupun seniman sendiri. Menariknya, tato tidak hanya didominasi oleh kaum laki-laki. Kaum hawa pun mulai berani menunjukan tato di tubuh mereka.

Hal ini berdampak pada industri tato yang semakin bergeliat. Pameran tato digelar reguler di Bali. Para seniman pun mulai melirìk seni tato sebagai jalan hidup. 

Kampus seni merespons tren ini dengan menempatkan mahasiswa di dalam ekosistem yang memungkinkan mereka tumbuh menjadi seniman tato kelas dunia. Fakultas Seni Rupa dan Desain ISI Bali melalui Program Studi Seni Murni berusaha menyiapkan mahasiswa membangun studio tato mereka sendiri. 

“Prodi Seni Murni memberikan skil menggambar mensketsa, konsep, pola, seni rupa. Jadi itu bekal buat mahasiswa yang ingin mengembangkan seni tato setelah jadi alumnus,” ujar Koordinator Prodi Seni Murni Dr Wayan Sujana ‘Suklu’, Sabtu (17/1). 

Koordinator Prodi Seni Murni ISI Bali Dr Wayan Sujana ‘Suklu’ -IST

Suklu menyebut salah satu mata kuliah terkait tato adalah body painting (melukis di atas tubuh manusia). Menurutnya skil dalam seni ini jadi salah satu pintu masuk sebelum masuk dunia tato yang sebenarnya. Dia menyebutkan kampus belum menyediakan peralatan khusus yang digunakan dalam menggambar tato di tubuh manusia. Untuk itu perupa senior ini mengatakan pihaknya memberikan kesempatan mahasiswa melakukan magang di studio-studio tato profesional untuk mempelajari berbagai peralatan yang digunakan, mengelola studio, hingga membangun networking di lingkungan industri tato. 

“Kalau di kampus tidak ada alat-alat tato, tapi mereka bahkan mungkin punya di rumah mereka, lebih familiar eksplor teknologi tercanggih,” ungkapnya. 

Suklu mengungkapkan, cukup banyak mahasiswa yang menyatakan ketertarikan menjadi seniman tato. Menurutnya, meski Bali tidak memiliki tradisi tato, posisi Bali sebagai destinasi wisata dunia menjadikan pasar tato di Bali datang dari berbagai penjuru dunia. Stigma tato di era posmodern seperti sekarang ini juga tidak lagi negatif, melainkan telah bertransformasi menjadi gaya hidup baru di hampir setiap kalangan. “Tato menjadi bagian penting dalam kehidupan era sekarang. Tato jadi tanda mereka telah melalui perjalanan panjang dalam kehidupan, maka ditandai dengan membuat tato, sudah menjadi budaya populer,” kata seniman asal Klungkung ini.

Di Bali sendiri, meski tidak ada tradisi membuat tato, juga turut mendapat pengaruh. Seni melukis rerajahan di wastra atau kain sakral, perlahan beralih media. Sebagian penggemar tato di Bali melukiskan aksara-aksara suci di tubuh mereka. “Hari-hari ini juga ada yang menautkan untuk membuat semacam aksara dalam tubuhnya. Itu kan tergantung setiap individu memaknainya, menginterpretasi rerajahan seperti apa kalau diterapkan di tubuhnya,” jelas Suklu.  

Tato memang jadi sarana menunjukkan identitas bagi banyak penggemar tato. Melukis gambar bermakna di atas tubuh juga bisa menjadi wahana healing bagi sebagian orang. Bahkan penggemar tato yang sudah berulang merasakan efek relaksasi ketika proses tato berlangsung. Sementara sebagian lagi lebih praktis menggunakan tato untuk menyamarkan luka kulit yang sudah tidak bisa diperbaiki. 

“Tato itu nggak melulu tinta dimasukkan ke lapisan kulit, tetapi juga kenapa orang itu mau bikin tato, untuk bikin dia percaya diri, bikin rilis stres, untuk identitas.  Sebenanrnya ada sisi psikisnya dia,” ujar akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dr Made Oka Negara, FIAS.  

Akademisi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana dr Made Oka Negara, FIAS. -IST

Meski demikian, Seksolog Unud ini tetap mengingatkan risiko kesehatan dalam pembuatan tato. Dia menjelaskan, risiko infeksi bakteri, virus, jamur adalah yang paling pertama harus diperhatikan penggemar tato. Jika alat rajah yang dipakai tidak steril dan dipakai bersamaan dengan orang lain, maka ada ancaman penularan penyakit seperti hepatitis B/C atau HIV. 

“Penggunaan alat yang tidak steril adalah salah satu concern utama untuk orang yang mau menggunakan tato,” tekan dr Oka Negara. 

Selain penularan penyakit, reaksi alergi pada sebagian orang adalah satu kemungkinan yang perlu diwaspadai penggemar tato. Banyak kejadian tinta tato menjadi pemicu alergi yang mengakibatkan kulit bengkak, merah, sampai kulit pecah-pecah.

Ancaman berikutnya adalah adanya kerusakan kulit (granuloma atau keloid). Karena jarum tato melukai lapisan kulit saat mewarnai tubuh, maka potensi terjadinya keloid bisa terjadi khususnya bagi yang memiliki bakat genetik. Karena itu dr Oka Negara juga mengingatkan penggemar tato untuk tidak membuat tato di sekitar organ tubuh yang berpotensi menghalangi fungsi organ tubuh tersebut, misalnya dekat mata. 

Untuk menekan risiko kesehatan akibat tato, dr Oka Negara mengingatkan penggemar tato memilih studio tato yang terpercaya menggunakan peralatan steril dan tinta yang aman dan punya sertifikat keamanan. “Jaga tato tetap bersih dan jika ada reaksi yang tudak diharapkan segera periksa dokter. Pastikan sehat sebelum melakukan tato dan tidak memiliki kondisi kesehatan yang dapat mempengaruhi proses penyembuhan,” ujarnya.7adi

Komentar