nusabali

Pemecutan Kaja Matangkan Lomba Ogoh-Ogoh 2026, Hadirkan Kategori Baleganjur hingga Dalang

  • www.nusabali.com-pemecutan-kaja-matangkan-lomba-ogoh-ogoh-2026-hadirkan-kategori-baleganjur-hingga-dalang

DENPASAR, NusaBali.com – Pemerintah Desa Pemecutan Kaja, Denpasar Utara, mulai mematangkan persiapan lomba Ogoh-ogoh se-Desa Pemecutan Kaja dalam rangka menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1948/2026.

Berbeda dari tahun sebelumnya, panitia menghadirkan sejumlah kategori baru untuk memperkaya ekspresi seni dan budaya dalam tradisi Ogoh-ogoh.

Ketua Panitia Pelaksana Lomba Ogoh-ogoh Desa Pemecutan Kaja Tahun 2026/Caka 1948, Ida Bagus Adi Mahendra Putra, mengatakan lomba tahun ini merupakan hasil evaluasi dari pelaksanaan sebelumnya. Selain sebagai ketua panitia, Ida Bagus Adi juga menjabat Kepala Kewilayahan Kerthasari.

“Pada Tahun Caka 1948 ini kami kembali menggelar lomba Ogoh-ogoh tingkat se-Desa Pemecutan Kaja. Jika pada tahun 2025 hanya ada lomba Ogoh-ogoh dan fragmen tari (pementasan), maka pada tahun 2026 kami menambah beberapa kategori baru,” ujarnya.

Adapun kategori yang dilombakan meliputi lomba Ogoh-ogoh, lomba fragmen tari, lomba baleganjur, dan lomba dalang. Seluruh kategori tersebut dirancang sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dari pementasan Ogoh-ogoh, dengan masing-masing kategori memiliki nominasi dan juara tersendiri serta dinilai oleh juri yang berbeda sesuai bidangnya.


Di Desa Pemecutan Kaja sendiri terdapat 15 banjar. Namun, pada pelaksanaan lomba tahun 2026 ini, tercatat 10 banjar yang ikut berpartisipasi. Lima banjar lainnya, yakni Banjar Belong Menak, Banjar Belong Gede, Banjar Mekar Manis, Banjar Merthayasa, dan Banjar Pantisari, belum ikut serta dengan berbagai pertimbangan.

“Beberapa banjar sedang dalam masa pergantian pengurus Sekaa Teruna Teruni (STT), keterbatasan sumber daya manusia dan dana, serta ada pula yang memiliki pola selang-seling, tahun ini membuat Ogoh-ogoh dan tahun berikutnya tidak. Hal tersebut tidak kami paksakan,” jelasnya.


Untuk sistem penilaian, lomba Ogoh-ogoh akan dilakukan secara on the spot di masing-masing banjar, seperti tahun sebelumnya. Sementara itu, penilaian fragmen tari, baleganjur, dan dalang akan dilaksanakan pada malam Pengerupukan, bersamaan dengan pengarakan Ogoh-ogoh di Catus Pata Desa Pemecutan Kaja.

Khusus kategori dalang, penilaian difokuskan pada kemampuan dalang dalam menghidupkan karakter tokoh melalui suara dan narasi. “Dalang memiliki peran penting karena dialah yang menceritakan alur kisah Ogoh-ogoh. Misalnya membawakan tokoh raksasa, maka suara dan penghayatannya harus sesuai karakter,” ungkapnya.

Penambahan kategori baleganjur dan dalang, menurutnya, didasari kesadaran bahwa Ogoh-ogoh merupakan seni kolaboratif yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari seni rupa, seni pertunjukan, hingga seni karawitan. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan memberi apresiasi yang lebih luas terhadap proses kreatif ST se-Desa Pemecutan Kaja, sehingga penghargaan tidak semata terpusat pada Ogoh-ogoh saja.

Menariknya, Desa Pemecutan Kaja tetap memperbolehkan ST yang masuk nominasi lomba Ogoh-ogoh tingkat Kota Denpasar untuk tetap mengikuti lomba di tingkat desa. “Juri dan sistem penilaiannya berbeda. Kami ingin menghadirkan konsep lomba yang terus berkembang setiap tahunnya,” katanya.

Ia berharap lomba Ogoh-ogoh ini dapat menumbuhkan semangat Vasudhaiva Kutumbakam yang sejalan dengan motto Kota Denpasar, sekaligus mengaktifkan aura taksu Bali melalui seni budaya. Harapan tersebut juga selaras dengan tema pembangunan Provinsi Bali Tahun 2026, yakni Atma Kerthi.

“Semoga ke depan seni budaya Bali semakin diminati, dicintai, dan lestari,” pungkasnya.

Persiapan lomba Ogoh-ogoh Desa Pemecutan Kaja sendiri telah dimulai sejak awal Desember 2025. Langkah ini dilakukan agar pelaksanaan lomba tidak berbenturan dengan agenda Bulan Bahasa Bali yang biasanya digelar pada Februari. *m03

Komentar