Jalur Penghubung Antarwilayah Terganggu
Hujan Deras Akibatkan Longsor-Jalan Putus di Tabanan
Akses jalan utama Tabanan-Singaraja via Pupuan ini baru bisa dilewati pada, Kamis malam pukul 23.00 Wita setelah dilakukan penanganan oleh tim gabungan
SINGASANA, NusaBali
Jalur utama Tabanan–Singaraja via Kecamatan Pupuan sempat lumpuh total selama lima hingga enam jam akibat longsor yang menutup badan jalan di wilayah Desa Sanda, Kecamatan Pupuan, Tabanan, Kamis (15/1) malam. Material longsor menutup seluruh badan jalan sehingga kendaraan roda empat tak bisa melintas. Di lokasi terpisah hujan deras pada, Kamis malam itu juga dilaporkan membuat jalan penghubung Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Tabanan dengan Desa Petang, Kecamatan Petang, Kabupaten Badung, tepatnya di Banjar Poyan, Desa Luwus, putus total.
Informasi yang dihimpun, longsor di Desa Sanda, Pupuan terjadi menyusul hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut sejak, Kamis sore. Sedikitnya ada tiga titik longsor yang menutup akses jalan utama tersebut. Dua titik berada di Desa Sanda, masing-masing di Banjar Paka dan Banjar Sanda, dengan panjang longsoran mencapai sekitar 25 meter. Satu titik lainnya terjadi di Banjar Batungsel, Desa Batungsel.
Akibat longsor ini, arus lalu lintas dari arah Tabanan menuju Buleleng maupun sebaliknya terhenti sejak pukul 18.00 Wita. Akses jalan baru kembali normal setelah dilakukan penanganan hingga pukul 23.00 Wita. Kapolsek Pupuan, AKP I Nengah Simpen mengatakan, longsor di Desa Sanda menyebabkan arus lalu lintas lumpuh total karena material yang menutup jalan cukup tebal dan panjang. “Motor masih bisa lewat, itu pun harus melalui jalur permukiman. Kalau mobil sama sekali tidak bisa melintas,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (16/1).
Dijelaskan, material longsor berasal dari persawahan dan perbukitan dengan kondisi tanah yang labil akibat guyuran hujan deras. Seluruh material menutup badan jalan utama. "Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Penanganan dilakukan oleh tim BPBD Tabanan dibantu masyarakat,” tegas AKP Simpen. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tabanan, I Nyoman Sri Nadha Giri menambahkan penanganan longsor langsung dilakukan Kamis malam dengan melibatkan alat berat dari Dinas PUPR Provinsi Bali. Selain itu, pembersihan lumpur juga dilakukan dengan penyemprotan air menggunakan selang berukuran besar.
"Penanganan selesai sekitar pukul 23.00 Wita dan jalan sudah bisa dilalui kembali,” ujarnya. Menurutnya, longsor terjadi di tiga titik sehingga tim dibagi untuk mempercepat proses pembersihan. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD dibantu Tagana dan masyarakat setempat dikerahkan ke lokasi. “Saat pembersihan memang banyak kendaraan, terutama mobil yang menunggu. Ada juga yang memilih putar balik,” jelasnya.
Sri Nadha Giri menyebutkan, berdasarkan data awal, kejadian longsor sejauh ini terpantau di wilayah Kecamatan Pupuan dan Baturiti. Pendataan lanjutan masih akan dilakukan karena belum semua lokasi terdampak dicek secara menyeluruh. “Di Desa Munduktemu, Pupuan dan Desa Padangan juga dilaporkan ada rumah warga yang tertimbun longsor. Saat ini masih dalam proses pendataan,” tandas Sri Nadha Giri.

Petugas BPBD Tabanan saat melakukan penanganan longsor di jalur utama Tabanan-Singaraja tepatnya di Desa Sanda, Kecamatan Pupuan, Kamis (15/1) malam. -IST
Setidaknya ada lima desa yang mencatat longsor menerjang permukiman warga hingga menyebabkan adanya jembatan putus. Lima desa itu adalah Desa Munduktemu, Desa Padangan, Desa Pajahan, Desa Sai, dan Pupuan. Imbas dari longsor tersebut sempat membuat adanya warga di Desa Munduktemu mengungsi karena tempat tidurnya tertimbun longsor. Sebagai antisipasi awal Pemkab Tabanan melalui BPBD Tabanan telah memberikan bantuan sembako hingga terpal.
Hujan deras yang mengguyur pada, Kamis malam juga membuat jalan penghubung Desa Luwus, Kecamatan Baturiti, Tabanan dengan Desa Petang, Kecamatan Petang, Badung, tepatnya di Banjar Poyan, Desa Luwus, putus total. Putusnya jalan tersebut akibat luapan air Pangkung Mati (sungai) saat hujan lebat mengguyur wilayah Baturiti.
Akibat kejadian itu, warga Banjar Poyan dan Banjar Macun, Desa Luwus terpaksa harus mengambil jalur alternatif jika hendak menuju Baturiti. Untuk sementara, jalan yang putus telah dipasangi tanda agar tidak dilalui demi menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. Perbekel Luwus, I Gede Oka Giriantara, mengatakan jalan putus sekitar pukul 19.00 Wita. Sejak sore, hujan lebat memang terus mengguyur kawasan Baturiti.
“Desember lalu jalan ini sempat jebol dan hanya bisa dilalui sepeda motor. Namun Kamis malam kemarin sudah putus total,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (16/1). Menurutnya, jalan putus akibat luapan air dari Pangkung Mati atau sungai buangan. Gorong-gorong yang berada di bawah jalan dinilai terlalu kecil sehingga tidak mampu menampung debit air saat hujan deras. “Ini Pangkung Mati, saat hujan baru ada air. Kalau musim kering tidak ada. Karena gorong-gorong kecil, air meluap dan menggerus badan jalan,” jelasnya.
Kondisi tersebut sudah dilaporkan ke BPBD Tabanan dan Dinas PUPRPKP Tabanan untuk segera mendapat penanganan. Bahkan, tim dari Dinas PUPRPKP Tabanan sudah turun melakukan pengecekan lapangan dan menyusun desain rencana perbaikan.“Kami sudah menyampaikan masukan agar dibangun jembatan. Kalau hanya gorong-gorong, kami khawatir tidak maksimal,” katanya. Oka Giriantara berharap penanganan jalan ini menjadi prioritas karena jalur Luwus–Petang merupakan akses vital bagi warga. Saat ini, warga Banjar Poyan dan Banjar Macun yang hendak ke kota harus memutar melalui Desa Mekarsari atau Desa Perean.
“Warga yang ke kebun bahkan harus jalan kaki,” tegasnya. Sebelumnya, hujan lebat pada Kamis (11/12/2025) lalu membuat jalan yang sama jebol sepanjang sekitar 15 meter. Saat itu, jalan masih bisa dilalui sepeda motor, sementara kendaraan roda empat dialihkan. Jarak tempuh menuju ke Kota Baturiti menuju Petang pun membengkak hingga 15 kilometer dari yang semula hanya sekitar 5 kilometer.
Terpisah, Sekretaris Dinas PUPRPKP Tabanan sekaligus Plt Kabid Bina Marga, I Gede Partana, membenarkan pihaknya telah memonitor kondisi jalan tersebut. Tim telah melakukan survei lapangan baik saat jebol pada Desember 2025 lalu maupun setelah putus total Kamis malam. “Hasil survei, rencana perbaikan menggunakan sistem duiker dengan jalan melengkung. Lebar jebol sekitar 2 meter, jadi belum masuk kategori pembangunan jembatan,” jelasnya. Partana menambahkan, rencana eksekusi perbaikan akan dilakukan pada 2026, diperkirakan akhir Februari atau Maret. “Waktunya akan kami laporkan terlebih dahulu ke pimpinan. Namun perbaikan ini sudah masuk skala prioritas atas atensi Bapak Bupati,” tandasnya. 7 des
Komentar