Krama Gumi Kebonkuri Gelar Peed Banten Sambut Karya Agung 2026
DENPASAR, NusaBali.com – Bertepatan dengan Anggara Kasih Tambir dan Kajeng Kliwon, Selasa (13/1/2026), Krama Gumi Kebonkuri, Kelurahan Kesiman, Denpasar Timur, menggelar tradisi peed banten di Pura Kahyangan Desa Kesiman.
Tradisi ini menjadi bagian dari piodalan rutin sekaligus euforia awal menyambut karya agung yang direncanakan berlangsung pada Agustus 2026.
Pengelingsir Gumi Kebonkuri, I Wayan Wiranata, menjelaskan piodalan di Pura Kahyangan Desa digelar setiap 210 hari pada Anggara Kasih Tambir. Pada piodalan kali ini, tradisi peed banten diikuti oleh PKK dari empat banjar se-Gumi Kebonkuri, yakni Banjar Kebonkuri Tengah, Banjar Kebonkuri Kelod, Banjar Kebonkuri Mangku, dan Banjar Kebonkuri Lukluk.
“Pelaksanaan piodalan berjalan seperti biasanya, termasuk tradisi peed banten yang rutin dilaksanakan setiap enam bulan sekali,” ujarnya.
Wiranata menambahkan, seluruh ritual, tradisi, serta sarana dan prasarana yadnya tetap dilaksanakan sebagaimana piodalan sebelumnya. Namun, piodalan kali ini memiliki makna khusus karena krama desa mulai melakukan persiapan lebih matang menyambut karya agung yang akan digelar enam bulan mendatang.
Terkait tahapan persiapan karya, ia menyebutkan rencana mesimpen Ida Sesuhunan, ngodak, serta rangkaian upakara lainnya sempat direncanakan pada Kajeng Kliwon pertama, 28 Januari 2026. Namun, karena prosesnya membutuhkan waktu panjang, prosesi mesimpen dijadwalkan ulang pada 29 Maret 2026, atau setelah Hari Raya Nyepi Tahun Baru Caka 1948, berupa prosesi ngodak dan lainnya.
“Tawur Ida Bhatara nantinya digelar dua kali, yakni pada sasih keenem dan Tilem Kesanga. Setelah Tilem Kesanga barulah dilanjutkan tahapan berikutnya,” jelasnya.
Ia berharap seluruh rangkaian persiapan karya agung berjalan lancar tanpa halangan. “Astungkara krama Gumi Kebonkuri selalu diberikan kesehatan, sehingga karya agung dan piodalan di Pura Kahyangan Desa dapat labda karya,” ujarnya.

Wiranata juga mengungkapkan, karya agung di Gumi Kebonkuri terakhir kali digelar sekitar 2013–2014, sehingga karya agung yang direncanakan tahun 2026 ini menjadi momentum penting setelah lebih dari satu dekade.
Sementara itu, Ketua PKK Banjar Kebonkuri Tengah, Ade Ayu Dwi Cahyani, mengatakan PKK telah mulai melakukan berbagai persiapan sejak jauh hari. Selain mendukung piodalan, PKK juga terlibat dalam persiapan konsumsi karya, konsumsi pura, serta tari-tarian sakral yang akan dipentaskan saat karya agung.
“Salah satu yang kami persiapkan adalah Tari Rejang Taksu Bhuwana, yang melibatkan pemudi dan PKK se-Gumi Kebonkuri. Latihan sudah dimulai sejak sebulan lalu dan hari ini tarian tersebut disolahkan untuk melihat progres latihan,” ujarnya.
Ade Ayu menyebutkan jumlah anggota PKK di Gumi Kebonkuri mencapai 127 orang. Khusus Banjar Kebonkuri Tengah, pembagian tugas dilakukan secara bergilir, mulai dari ngayah mundut, konsumsi, menari, hingga mepeed.
Untuk peed banten, ia menuturkan setiap anggota PKK telah melakukan persiapan, termasuk banten gebogan. “Untuk gebogan, anggaran sekitar Rp500 ribu, dengan fokus pada makna dan kelengkapannya. Kami lebih mengutamakan buah-buahan dan jajan sesuai kemampuan, tanpa menghilangkan nilai filosofisnya,” jelasnya.
Ia berharap piodalan di awal tahun 2026 ini menjadi sarana bhakti kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus membuka jalan agar seluruh rencana karya agung enam bulan ke depan dapat berjalan lancar dan seluruh krama senantiasa diberikan kesehatan. *m03
Komentar