Flamboyan Penjor Padukan Yadnya dan Peluang Usaha di Kesiman
DENPASAR, NusaBali.com – Menyambut rahinan Anggarkasih Tambir, Flamboyan Penjor yang berlokasi di Jalan Sedap Malam, Lingkungan Banjar Kebonkuri Kelod, Kelurahan Kesiman, Denpasar Timur, memanfaatkan momentum piodalan sebagai ajang meyadnya sekaligus peluang usaha berbasis kearifan lokal.
Usaha milik Ni Luh Putu Riska Dewi Lestari ini sejatinya dikenal sebagai penyedia penjor Galungan. Namun, seiring hobi dan keterampilannya dalam mejahitan, Riska kemudian mengembangkan usaha dengan menyediakan beragam sarana upakara yadnya, salah satunya sampian gebogan yang dibutuhkan krama saat piodalan.
“Awalnya fokus di penjor Galungan. Karena saya juga hobi mejahitan dan menjual sarana upakara seperti sampian, lama-lama ini saya jadikan peluang usaha,” ujar Riska saat ditemui di sela persiapan Anggarkasih Tambir.
Di wilayah Gumi Kebonkuri Kesiman, setiap enam bulan sekali digelar piodalan di pura kahyangan desa yang bertepatan dengan Anggarkasih Tambir. Pada rahinan tersebut, terdapat tradisi mepeed banten yang diikuti ibu-ibu PKK dari empat banjar. Tradisi ini, menurut Riska, menjadi peluang sekaligus ladang yadnya yang dijalani dengan penuh ketulusan.
Pada Anggarkasih Tambir tahun 2026 yang jatuh pada Selasa (13/1/2026), Flamboyan Penjor mencatat pesanan sebanyak 14 sampian gebogan. Jumlah ini menurun dibandingkan periode enam bulan sebelumnya yang sempat mencapai 17 hingga 20 pesanan. Meski demikian, Riska tetap bersyukur karena masih mendapat kepercayaan krama.
“Saya membuka harga mulai Rp100 ribu hingga Rp150 ribu untuk satu set sampian gebogan,” jelasnya.
Dalam proses pembuatan, Riska menggunakan bahan busung atau daun kelapa muda yang dikenal mudah layu. Untuk menjaga kualitas, pembuatan dilakukan dua hari sebelum piodalan. “Saya mulai proses H-2. Supaya busung tidak cepat layu, biasanya saya semprot air berkarbonasi,” katanya.
Persiapan pembuatan sampian gebogan untuk Anggarkasih Tambir kali ini dimulai sejak Jumat (10/1/2026) malam hingga Senin (12/1/2026) atau H-1 piodalan. Tantangan tersendiri dihadapi Riska karena selain menerima pesanan, ia juga merupakan anggota PKK yang wajib mengikuti tradisi mepeed di pura kahyangan, sehingga harus menyiapkan banten untuk keperluan pribadi dan yadnya bersama.
“Bagi saya ini bukan semata-mata mencari keuntungan. Ini bagian dari penjiwaan sebagai perempuan Bali yang lekat dengan mejahitan dan bebantenan,” ujarnya.
Ke depan, Riska berencana untuk lebih memfokuskan diri pada karya-karya yadnya di pura, meski tetap membuka peluang melanjutkan usaha Flamboyan Penjor jika situasi memungkinkan. Ia berharap, usaha berbasis yadnya seperti pembuatan banten dan sarana upakara tetap lestari di tengah arus modernisasi.
“Semoga usaha yadnya seperti ini tidak pernah mati. Banten harus tetap lestari, baik pakem, nilai makna, maupun ketulusan dalam proses pembuatannya,” pungkasnya. *m03
Komentar