Investasi Bali Tetap Kuat, Pariwisata dan UMKM Jadi Sektor Unggulan
DENPASAR, NusaBali.com — Kinerja investasi di Provinsi Bali tetap kuat meski penegakan aturan pelanggaran tata ruang semakin masif. Berdasarkan kajian Bank Indonesia (BI), pada triwulan III 2025, investasi Bali tumbuh 6,12 persen (year on year/yoy).
Secara tahunan, kinerja investasi sepanjang 2025 diprakirakan lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya dan berkontribusi sekitar 30 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Bali.
Kepala BI Kantor Perwakilan Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, mengatakan, tingginya realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menjadi faktor utama penguatan investasi di Bali. Sepanjang Januari–September 2025, total realisasi PMA dan PMDN di Bali mencapai Rp32,4 triliun dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 49.188 orang.
Meski demikian, karakter investasi di Bali berbeda dibandingkan nasional. Jika investasi nasional didominasi sektor industri padat modal seperti logam, transportasi, pergudangan, telekomunikasi, dan pertambangan, di Bali sektor jasa, terutama pembangunan hotel dan restoran, masih menjadi penggerak utama sejalan dengan peran pariwisata.
BI juga menyoroti wacana kebijakan penetapan nilai minimal investasi Rp100 miliar bagi Warga Negara Asing (WNA) yang ingin berbisnis di sektor UMKM Bali. Kebijakan ini dinilai dapat melindungi keberlangsungan usaha lokal dan selaras dengan prinsip Ekonomi Kerthi Bali yang menekankan harmoni ekonomi berbasis budaya dan lingkungan.
“Selama ini, beberapa WNA membuka usaha berskala kecil seperti rental kendaraan, restoran, hingga toko bangunan dengan modal terbatas. Kondisi ini berpotensi menekan usaha serupa yang dijalankan masyarakat lokal,” ujar Erwin. Ia menekankan, dengan batas minimal investasi yang lebih tinggi, investasi asing di Bali diharapkan lebih berkualitas, memberikan efek pengganda (multiplier effect), serta meningkatkan penciptaan lapangan kerja dan kapasitas usaha lokal.
Erwin menambahkan, penguatan sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci agar kebijakan investasi berjalan efektif di lapangan.
Ke depan, prospek investasi Bali tetap optimistis dengan arah pembangunan yang menekankan keberlanjutan. Hal ini tercermin dari nilai Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Bali yang lebih rendah dibanding nasional, menunjukkan investasi di Bali relatif lebih efisien mendorong pertumbuhan ekonomi.
Selain itu, keberlanjutan Proyek Strategis Nasional (PSN) dan pengembangan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) menjadi modalitas pendukung investasi pada 2026. Hasil survei BI menunjukkan, dunia usaha di Bali optimistis meningkatkan investasi sejalan dengan keyakinan terhadap prospek ekonomi daerah yang diprakirakan makin menguat.
Dengan kombinasi efisiensi investasi, proyek strategis, serta kebijakan yang menekankan keberlanjutan dan perlindungan ekonomi lokal, BI menilai Bali tetap menjadi tujuan investasi utama di Indonesia, khususnya pada sektor jasa, pariwisata, serta ekonomi kreatif dan UMKM. *may
Komentar