Proyek Breakwater Pantai Kuta Dikebut, Atasi Abrasi, Ditarget Rampung Akhir Januari 2026
Setelah seluruh breakwater rampung persoalan abrasi yang selama ini menggerus Pantai Kuta dapat ditekan secara signifikan
MANGUPURA, NusaBali
Pengerjaan proyek pemecah gelombang (breakwater) di Pantai Kuta, Kecamatan Kuta, Badung dikebut Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida. Setelah tiga breakwater rampung 100 persen, saat ini fokus pekerjaan diarahkan pada dua titik yakni BW 1 dan BW 5, yang progresnya telah mencapai sekitar 80 persen.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Sungai Pantai I BWS Bali-Penida, Bambang Kardono, mengatakan secara keseluruhan terdapat lima breakwater yang dibangun di Pantai Kuta. “Untuk progres, kita ada lima breakwater di Kuta. BW 1, 2, dan 3 sudah 100 persen, sementara dua lainnya sudah berjalan sekitar 80 persen. Breakwater 1 dan 5 di Zona II saat ini masih dalam proses pelaksanaan. Kita kejar di akhir Januari ini, lima breakwater harus sudah jadi semua,” ujar Bambang dikonfirmasi Selasa (13/1) pagi.
Menurut Bambang, pengerjaan proyek sempat terkendala kondisi cuaca. Gelombang pasang dan angin kencang yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir cukup berpengaruh terhadap aktivitas di laut. Ia mengakui, gelombang laut yang cukup tinggi mulai terasa sejak akhir Desember, bersamaan dengan masuknya musim hujan. Memanfaatkan kondisi air laut yang mulai surut dan cuaca yang relatif mendukung, pihaknya kini tancap gas untuk menuntaskan dua breakwater tersisa agar bisa segera dilanjutkan ke tahap berikutnya, yakni pengisian pasir. “Karena faktor cuaca dan kondisi laut yang mulai mendukung, sekarang kita kebut penyelesaian dua breakwater ini supaya bisa selesai bulan ini. Itu supaya memudahkan proses pengisian pasir yang kita upayakan bisa mulai akhir Januari,” kata Bambang.
Terkait pengisian pasir, Bambang menjelaskan saat ini masih dalam tahap instalasi pipa. Pihaknya mengusakan pada akhir Januari sudah mulai pengisian pasir. Sebab awalnya, pengisian pasir dijadwalkan pada Desember 2025 lalu, tetapi tertunda karena gelombang pasang dan angin kencang.
Ia melanjutkan, pengisian pasir nantinya dilakukan secara estafet, dimulai dari sisi selatan Pantai Kuta (Zona I) menuju ke arah utara. Saat ini, kapal besar pengisi pasir jenis TSHD (Trailing Suction Hopper Dredger) telah bersandar di Pelabuhan Benoa dan siap beroperasi setelah seluruh instalasi pipa selesai. Selain itu, kapal packboat (tugboat) juga akan dikerahkan secara tentatif untuk menyambungkan pipa dari darat ke kapal dredger di tengah laut. “Kapal sudah ada, sudah sekitar dua minggu sandar di Benoa. Izin-izin juga sudah lengkap. Tinggal menunggu cuaca lebih aman dan instalasi pipa selesai. Kalau gelombang masih signifikan, kita belum berani mengoperasikan kapal,” katanya.
Bambang merinci, pipa baja (steel pipe) dari kawasan Pantai Jerman hingga Pantai Sekeh saat ini sudah terpasang seluruhnya. Pekerjaan yang masih berlangsung adalah pemasangan pipa dari tengah laut menuju ke pesisir pantai, khususnya di area Pantai Jerman. Pengisian pasir nantinya dilakukan dari jarak sekitar 700 meter dari bibir pantai, menyesuaikan dengan kedalaman laut. Dari titik tersebut, pasir akan disedot dan dialirkan melalui pipa menuju darat. “Secara teori, dalam satu bulan bisa terisi sekitar 180 ribu kubik. Tapi kita juga melihat kondisi di lapangan nanti,” tambahnya.
Ia berharap, setelah seluruh breakwater rampung dan pengisian pasir terlaksana, persoalan abrasi yang selama ini menggerus Pantai Kuta dapat ditekan secara signifikan.“Kalau breakwater sudah selesai dan pengisian pasir berjalan, kita harapkan abrasi di Pantai Kuta setidaknya bisa teratasi. Itu harapan besar kita,” harapnya. *ris
Komentar