Korban Hanyut di Banyuwangi Ditemukan di Jembrana
NEGARA, NusaBali - Nelayan Pengambengan, Kecamatan Negara, Jembrana, digegerkan dengan penemuan mayat laki-laki di Perairan Pengambengan, Minggu (11/1) pukul 18.30 WITA.
Mayat yang kondisinya sudah membusuk itu ditemukan pertama kali oleh nelayan setempat yang berangkat memancing ke tengah laut. Usut punya usut mayat itu adalah korban hanyut di Banyuwangi, Jawa Timur, diketahui bernama Alapi Hariyono, 63.
Informasi yang dihimpun NusaBali, mayat tersebut ditemukan pertama kali oleh nelayan bernama Nur Samhaji, 32, warga Desa Pengambengan, bersama tiga rekannya yang sedang melaut. Saat berada pada jarak sekitar 2-3 kilometer dari bibir pantai, mereka dikejutkan dengan penampakan benda mencurigakan yang mengapung di permukaan air. Setelah didekati, benda tersebut dipastikan adalah mayat.
Saksi Nur Samhaji kemudian memanggil nelayan lain bernama Nur Holil, yang kebetulan melintas di sekitar Tempat Kejadian Perkara (TKP). Saat ditemukan, mayat yang dalam posisi telungkup itu mengenakan baju kaos lengan panjang namun tanpa menggunakan celana.
Para saksi tidak berani mengevakuasi mayat tersebut dan memilih lapor ke Satpolairud Polres Jembrana. Menerima laporan itu Polair Polres Jembrana mengirim tim evakuasi ke lokasi. Jenazah korban pun berhasil dievakuasi ke pesisir Pantai Pengambengan sekitar pukul 22.00 WITA.
Saat dilakukan pemeriksaan, tidak ditemukan kartu identitas mayat tersebut. Kondisi wajahnya sudah rusak dan sulit dikenali. Mayat tersebut dievakuasi ke Rumah Sakit Umum (RSU) Negara untuk menjalani pemeriksaan medis serta identifikasi lebih lanjut oleh Tim Inafis Polres Jembrana.
Meski sempat berstatus tanpa identitas, pihak kepolisian bersama petugas SAR berkoordinasi dengan wilayah tetangga untuk mengecek laporan orang hilang dalam beberapa hari terakhir.
Misteri identitas mayat tersebut akhirnya menemui titik terang pada Senin (12/1) dini hari. Korban adalah Alapi Hariyono, 63, seorang petani asal Desa Gumirih, Kecamatan Singojuruh, Banyuwangi, Jawa Timur. Korban sebelumnya dilaporkan hilang terseret arus Sungai Gumirih sejak Kamis (8/1).
Anak sulung korban, Sori Suryanto, 39, yang sempat ditemui di RSU Negara, Senin (12/1), memastikan bahwa jenazah tersebut adalah ayahnya. Keyakinan tersebut didasari pada ciri-ciri fisik yang sangat spesifik, baik pakaian yang dikenakan serta adanya tahi lalat di bagian pipi. "Dari baju dan sarung golok kayu yang terikat di pinggang itu saya sudah yakin. Ditambah ciri bentuk kepala belakangnya," ungkap Sori.
Sementara Kasat Reskrim Polres Jembrana AKP I Gede Alit Darmana menjelaskan bahwa proses identifikasi sempat terkendala teknis pada sidik jari. Hal ini dikarenakan kondisi jenazah yang sudah mulai membusuk dan profesi korban sebagai pengrajin bambu. "Profesi korban yang sering bersentuhan dengan amplas membuat pola sidik jarinya sulit terbaca alat. Namun, keluarga sudah sangat yakin berdasarkan ciri primer dan sekunder yang ada," jelasnya.
Setelah dilakukan pemeriksaan dan proses administrasi rampung, jenazah itu pun telah diserahkan kepada pihak keluarga pada Senin kemarin siang. Jenazah dibawa ke Banyuwangi menggunakan ambulans yang telah disiapkan pihak keluarga.
Untuk diketahui, berdasarkan kronologi di Banyuwangi, korban diduga terpeleset dan hanyut saat menyeberangi sungai yang sedang meluap setelah hujan deras. Dugaan ini diperkuat dengan ditemukannya alat-alat pertanian korban di pinggir sungai beberapa hari sebelumnya. Jarak dari lokasi awal korban hanyut hingga ditemukan di perairan Jembrana diperkirakan mencapai 25 kilometer. 7 ode
Komentar