nusabali

4 Tim KIR SMPN 1 Denpasar Borong 2 Emas dan 2 Perunggu, Di Ajang Thailand Inventor Day 2026

  • www.nusabali.com-4-tim-kir-smpn-1-denpasar-borong-2-emas-dan-2-perunggu-di-ajang-thailand-inventor-day-2026

DENPASAR, NusaBali - Prestasi membanggakan kembali ditorehkan dunia pendidikan Bali di ajang internasional. Empat tim Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMP Negeri 1 Denpasar sukses mengharumkan nama Indonesia dengan meraih 2 medali emas dan 2 medali perunggu pada International Intellectual Property, Invention, Innovation and Technology Exposition (IPITEX) dalam rangkaian Thailand Inventor Day 2026 yang berlangsung pada 5–9 Januari 2026 di Thailand.

Ajang ini diikuti peserta dari 24 negara dan dihadiri 114 tim dari Indonesia, dengan 17 tim berasal dari Bali. Dari jumlah tersebut, Bali hanya meraih tiga emas, dan dua di antaranya disumbangkan oleh SMPN 1 Denpasar, satu-satunya sekolah tingkat SMP yang lolos dan bertanding di ajang bergengsi ini.

Pembina KIR SMPN 1 Denpasar, Komang Sutrisna, Senin (12/1), menjelaskan keberhasilan ini merupakan buah dari persiapan panjang dan pendampingan serius sejak beberapa bulan sebelumnya. “Ini memang salah satu ajang paling bergengsi di dunia karya ilmiah dan inovasi. Sejak September anak-anak sudah kami persiapkan. Mereka aktif ke laboratorium Universitas Udayana, termasuk lab mikrobiologi dan Fakultas Kedokteran, bahkan sampai harus mengurus izin etik penelitian karena menggunakan makhluk hidup uji,” ujarnya.

Dari empat inovasi yang dibawa, dua di antaranya mendapat perhatian khusus dari juri internasional dan negara lain, bahkan satu tim robotik memperoleh Special Award dari Taiwan. Robot Penjelajah dan Gummy Daun Sirih yang menjadi andalan berhasil mendapat emas. 

Medali emas pertama diraih melalui inovasi Astro Valley ID, sebuah prototipe robot penjelajah yang dirancang untuk mendeteksi faktor-faktor penunjang kehidupan di daerah yang belum tereksplorasi, menyerupai kondisi di planet Mars. Tim ini terdiri dari Putu Arya Agastya Putra Weda, Nyoman Sheo Rusdinata, Anak Agung Ngurah Bagus Sila Dharmana Karang, Putu Bhadrika Adyas Nata, Putu Gede Ananta Wijaya, dan Made Winanta Daneswara.

“Robot ini bergerak otomatis menggunakan sensor. Jika mendeteksi rintangan di bawah 30 cm, dia akan menghindar dan mencari jalur yang lebih aman. Nama Astro Veli diambil dari kata ‘astro’ dan ‘veli’ yang berarti kawah kering seperti di Mars,” jelas Arya, salah satu anggota tim saat ditemui di SMPN 1 Denpasar.

Meski menghadapi kendala teknis seperti penyolderan dan pemasangan kabel, tim ini mampu menampilkan inovasi yang unik dan jarang ada di kompetisi serupa.  Medali emas kedua diraih lewat inovasi PIBET-SMILE, yaitu gummy berbahan dasar daun sirih (Piper betle) untuk mencegah karies gigi pada anak. Inovasi ini mengangkat kearifan lokal Bali yang terbiasa menginang sirih, lalu dimodernisasi menjadi produk kesehatan.

Tim ini beranggotakan I Gusti Ayu Purwita Duaty Tisna, Putu Satrya Dharma Wijanadi, Dewa Ayu Nida Savitri Iswari, A A Istri Nayara Pradnyandari, dan Natania Hasianna Harahap. “Inovasi ini menjadi satu-satunya di ajang tersebut yang fokus pada pencegahan karies gigi susu anak-anak, sehingga mendapat perhatian khusus dari juri,” kata salah satu tim Wijanadi.

Dua tim lainnya juga tak kalah membanggakan dengan meraih medali perunggu. Inovasi Flotea, teh herbal dari daun dan buah Rambusa (Passiflora foetida L) untuk membantu mengurangi insomnia, digarap oleh Advesta Mirahdhivya Priyaharsani, Luh Nyoman Wikania Putri Adidharma, I Made Juno Pangestu Wiraputra, Ketut Ramantha Gilang Pradnyantara, dan I Gede Dita Pradnyana.

Sementara inovasi Aloebetel, deodorant alami dari lidah buaya dan daun sirih untuk mencegah bau badan pada remaja, dikembangkan oleh Ni Made Anindita Danishwari, Noni Agnesia Pandibu, Ni Putu Clarissa Wynne Kalyana, I Putu Gilang Anggara, dan Adia Khalista Sanjaya.

Kepala Sekolah (Kasek) SMPN 1 Denpasar, Ni Wayan Raiyani, menegaskan keberhasilan ini tidak lepas dari dukungan kuat orang tua dan komite sekolah. “Ini murni didukung orang tua. Biaya pendaftaran saja satu tim Rp 7 juta. Sekolah hanya bisa membantu sebagian, terutama untuk pendaftaran. Tapi semangat dan pengorbanan orang tua luar biasa,” ujarnya.

Dia berharap pemerintah daerah ke depan dapat menyediakan wadah dan anggaran agar inovasi anak-anak Bali tidak berhenti setelah lomba. “Jangan sampai bibit-bibit inovasi ini mati karena tidak ada wadah. Kami ingin ke depan ajang seperti ini bisa diselenggarakan di Bali, sehingga lebih banyak anak-anak berprestasi bisa tampil,” tandasnya.

Keberhasilan empat tim SMPN 1 Denpasar di Thailand Inventor Day 2026 menjadi bukti bahwa kreativitas dan riset ilmiah siswa Bali mampu bersaing di level dunia, sekaligus membuka jalan menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi melalui prestasi internasional. 7 mis

Komentar