nusabali

Puluhan Sapi di Jembrana Terjangkit LSD

  • www.nusabali.com-puluhan-sapi-di-jembrana-terjangkit-lsd

NEGARA, NusaBali.com – Sebanyak 28 kasus sapi dengan gejala klinis menyerupai penyakit kulit infeksius atau Lumpy Skin Disease (LSD) belakangan ditemukan di Kabupaten Jembrana.

Puluhan kasus yang tersebar di dua wilayah kecamatan tersebut, kini dalam pemantauan Dinas Pertanian, Perikanan, dan Pangan (PPP) Jembrana, sembari menunggu hasil uji laboratorium resmi dari Balai Besar Veteriner (BBVet) serta pihak Provinsi Bali untuk memastikan status penyakit tersebut.

Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner (Keswan-Kesmavet) pada Dinas PPP Jembrana I Gusti Putu Ngurah Sugiarta saat dikonfirmasi Senin (12/1/2026), menyatakan bahwa pihaknya belum dapat memberikan pernyataan resmi terkait status positif LSD pada ternak-ternak tersebut. 

Menurutnya, meskipun gejala yang muncul pada kulit sapi di lapangan menunjukkan kemiripan dengan LSD, diagnosa akhir tetap harus berpijak pada data akurat hasil pengujian sampel. Pihaknya mencatat temuan ini muncul di lima desa yang tersebar di dua kecamatan, yakni di Kecamatan Negara dan Kecamatan Melaya.

"Dari keterangan medik veteriner di lapangan, kami tidak berani dulu bilang itu LSD karena penyakit sapi itu banyak, apalagi saat pergantian musim. Memang suspect atau gejalanya mungkin mirip. Kami sudah mengirimkan sampel ke BBVet dan provinsi. Jadi, kami masih menunggu laporan resmi dan belum berani menyatakan bahwa itu LSD," ujar Sugiarta.

Menurutnya, pengambilan dan pengiriman sampel telah dilakukan secara bertahap sejak sekitar akhir Desember 2025 lalu. Termasuk ada pengambilan sampel dari salah satu kelompok sapi di wilayah Kecamatan Melaya,  Sugiarta menjelaskan bahwa prosedur pengujian ini cukup mendalam, di mana sampel yang ada di BBVet juga kemungkinan akan diteruskan ke laboratorium untuk pengecekan lebih lanjut.

Meski belum ada kepastian, Sugiarta menegaskan bahwa jajarannya telah melakukan berbagai tindakan preventif di titik-titik temuan. Tim medik veteriner rutin melakukan surveilans, pemberian disinfektan, hingga penyemprotan (spraying) pada kandang untuk membasmi nyamuk dan lalat yang menjadi vektor utama penyebaran penyakit virus pada sapi. 

Selain itu, sapi yang sakit diberikan pengobatan simptomatik berupa vitamin dan antibiotik guna mencegah infeksi sekunder dan meningkatkan daya tahan tubuh ternak.

Jika kasus suspek itu nantinya memang terkonfirmasi LSD, Sugiarta meminta masyarakat ataupun para peternak untuk tidak panik secara berlebihan. Menurutnya, penyakit LSD bukan merupakan penyakit zoonosis sehingga tidak menular dari hewan ke manusia. 

Daging sapi yang diduga terjangkit pun tetap aman untuk dikonsumsi dengan pengolahan yang tepat, meskipun bagian kulitnya tidak dapat dimanfaatkan karena mengalami kerusakan akibat virus.
 
Ia pun menyatakan bahwa jajarannya berkomitmen untuk melalukan tindakan penanganan terhadap wabah ataupun penyakit pada ternak. 

"Ya kalaupun memang benar itu dikonfrimasi adalah LSD kita akan terima. Kami pun sudah lakukan langkah-langkah. Namun untuk berbicara apakah itu memang benar LSD atau bukan, mungkin bisa dikonfirmasi langsung ke BBVet atau ke Provinsi," tegas Sugiarta. *ode

Komentar