nusabali

Manajemen DTW Jatiluwih Salurkan 22.811 Ton Pupuk

  • www.nusabali.com-manajemen-dtw-jatiluwih-salurkan-22811-ton-pupuk
  • www.nusabali.com-manajemen-dtw-jatiluwih-salurkan-22811-ton-pupuk

SINGASANA, NusaBali - Menjelang musim tanam pertama Januari 2026, Manajemen Operasional Daya Tarik Wisata (DTW) Jatiluwih di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan, kembali menyalurkan bantuan pupuk kepada petani Subak di kawasan Jatiluwih.

22,8 ton pupuk disalurkan langsung kepada tujuh Tempek Subak guna mendukung ketahanan pangan dan menjaga keberlanjutan pertanian tradisional. Penyerahan pupuk dilakukan secara bertahap, yakni pada Selasa 30/12) sampai Rabu (31/12) 2025 dan Selasa (6/1) 2026. Berbeda dengan skema sebelumnya yang diserahkan melalui pekaseh sejak Agustus 2025, penyaluran kali ini dilakukan langsung kepada petani di masing-masing Tempek.

Manajer Operasional DTW Jatiluwih, Jhon Ketut Purna, mengatakan total luasan lahan sawah yang menerima bantuan mencapai 227,41 hektare. Selain berdasarkan perhitungan standar kebutuhan pupuk, manajemen juga memberikan tambahan sebagai bentuk apresiasi kepada petani. “Setiap Tempek kami berikan kelebihan pupuk 10 kilogram dari perhitungan luasan. Ini agar petani memiliki cadangan dan tidak kekurangan pupuk di awal musim tanam,” ujarnya, Senin (12/1).

Dengan kebijakan tersebut, total pupuk yang disalurkan mencapai 22.811 kilogram atau sekitar 22,8 ton. Distribusi dilakukan secara proporsional sesuai luas lahan, dengan ketentuan umum satu kilogram per are.

Adapun rincian penyaluran pupuk meliputi Subak Gunung Sari sebanyak 4.859 ton, Subak Kedamaian 2.216 ton, Subak Besikalung 3.763 ton, Subak Kesambi 1.396 ton, Subak Umakayu 2.204 ton, Subak Telabah Gede 6.510 ton, serta Subak Umaduwi 1.863 ton. "Seluruh perwakilan Tempek hadir langsung menerima bantuan tersebut," imbuhnya. 

Jhon Ketut Purna menegaskan, bantuan pupuk ini merupakan bagian dari sinergi antara sektor pariwisata dan pertanian. Sebagai kawasan Warisan Budaya Dunia UNESCO, keberlanjutan DTW Jatiluwih tidak terlepas dari peran petani dan sistem Subak yang tetap terjaga. “Pariwisata di Jatiluwih bisa berjalan karena petani masih menjaga sawah dan sistem pengelolaan tradisional. Sudah menjadi kewajiban kami mendukung sarana produksi mereka, terutama pupuk di awal musim tanam,” tegasnya.

Para petani menyambut positif penyaluran pupuk tersebut, terutama adanya tambahan di luar perhitungan standar. Bantuan ini dinilai sangat membantu untuk mengantisipasi kekurangan pupuk serta fluktuasi harga sarana produksi pertanian.

Dengan dukungan berkelanjutan dari manajemen, Jatiluwih diharapkan mampu menghasilkan panen yang optimal pada periode pertama 2026.  "Sekaligus ini mempertahankan perannya sebagai lumbung pangan dan destinasi wisata hijau unggulan di Bali," tandas John Purna.7des

Komentar